Sepatu Compass, Sneakers Lokal yang Laris di Pasaran


Kamu masih ingat pada 13 Desember 2018 lalu, Grand Indonesia, Jakarta, penuh sesak oleh anak-anak muda? Ya, mereka rela mengantre lama demi bisa membawa pulang sepatu Compass. Brand sneakers lokal yang namanya kembali mencuat sejak 2017 lalu. 


Berbicara mengenai Compass, kita tidak bisa lepas dari sejarah panjang yang telah mereka lalui. Produsen sepatu ini telah berdiri sejak tahun 80-an. Ketika itu mereka belum memproduksi merek dagang sendiri, melainkan masih menjadi vendor produsen untuk merek-merek sepatu luar negeri. 


Dari Kota Kembang, mereka memproduksi sepatu dengan kualitas yang tidak kalah dengan merek-merek sneakers besar yang ada di pasaran. Karena banyak faktor, bisnis sepatu milik keluarga Gunawan ini menyentuh titik terendahnya, ditinggalkan oleh rekanan yang selama ini menghidupi pabrik tersebut. 


Pada 1998, Gunawan sebagai penerus bisnis keluarga tersebut, memutuskan untuk membuat merek sendiri, sepatu Compass. Keputusan itu didorong oleh booming-nya sneakers pada masa itu. Mungkin kamu masih ingat bagaimana brand Converse berjaya sekali ketika itu. Gunawan pun mencoba peruntungannya, terjun ke pasar dan bersaing dengan merek luar serta lokal. Kamu juga tentu masih ingat masa itu merek sepatu Warrior sempat sangat populer?


Compass dan Warrior menjadi tujuan anak muda yang ingin memiliki Converse, namun terkendala pada harga. Kita tahu merek tersebut memang dibanderol dengan harga cukup tinggi. Tapi, ini bukanlah titik kejayaan Compass. Setidaknya, belum. 


Di tangan Aji Handoko Purbo, Sepatu Compass Menggeliat

Setelah sempat digandrungi selama beberapa saat, Compass kembali jatuh di tahun 2013. Konon saat itu, sepatu mereka banyak ditiru. Munculnya sepatu-sepatu imitasi di pasaran membuat bisnis sneakers lokal tersebut kolaps. 


Nasib baik bagi Gunawan, sebab setahun sebelumnya, tepatnya pada 2012, takdir mempertemukan ia dengan Aji Handoko Purbo. Sosok yang kini menjadi creative director brand Compass. Namun, tentu saja perkenalannya ketika itu bukan untuk menggarap Compass. Aji datang kepada Gunawan dengan desain sepatu ARL, merek sepatu milik Ariel NOAH. Dari sinilah hubungan baik antara Aji dan Gunawan, sang pemilik Compass, mulai terjalin. 


Butuh waktu lima tahun sampai Gunawan mempercayakan proses rebranding  Compass kepada Aji di tahun 2017. Aji yang sejak kecil memang sangat menyukai sepatu menyambut kesempatan tersebut dengan tangan terbuka. Tak tanggung-tanggung, Aji dipercaya mulai dari riset, desain, hingga pemasaran dan kampanye-kampanye yang akan dilakukan oleh Compass. Rupanya hal tersebut berbuah manis, sebab di tangan Aji, merek sneakers lokal asal Bandung tersebut bangun dari tidur panjangnya. 


Pilihan menjadikan Aji Handoko Purbo sebagai creative director, tentu bukan keputusan asal-asalan. Telah lama, Aji terobsesi dengan sepatu. Bahkan saat kecil, setiap kali membeli sepatu baru, Aji terbiasa mengamati sepatu tersebut dan membawanya tidur. 


Ia tidak cukup beruntung untuk mengenyam pendidikan di bidang desain atau bisnis, tapi itu tak menghalangi Aji untuk belajar. Ia mempelajari desain-desain sneakers dari produk-produk yang ia beli. Sempat juga menjadi supplier tali sepatu hingga menjaga salah satu gerai sneakers ternama di Jakarta. Proses panjang itu membentuk jejaring dan wawasan Aji. 


Maka, ketika Compass dipercayakan kepadanya, ia telah siap muncul dengan ide-ide kreatif. 


Desain inovatif

Aji dan tim selalu berusaha menghadirkan desain-desain yang inovatif. Tidak berarti selalu baru, lebih kepada menggabungkan berbagai ide atau memunculkan kembali tren lama sehingga diperoleh desain ‘baru’ yang unik. Seri Gazelle yang disebut-sebut menyerupai brand Vans misalnya. Sesungguhnya bila diperhatikan, Aji membuat desain toe cap sepatu tersebut hanya seperempat dari ukuran umumnya. Sepatu-sepatu vintage tahun 40-an menjadi inspirasi desain tersebut. 


Compass memang ingin menciptakan sepatu yang modern, tapi memiliki kesan vintage. Dan seperti disampaikan Aji dalam video wawancara #LOCALVOCAL, masih banyak ide-ide desain yang lebih gila lagi, yang akan dirilis oleh Compass. 


Mementingkan kualitas, bukan kuantitas

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa produksi Compass hampir selalu terbatas. Setiap kali rilis produk baru jumlahnya tidak terlalu banyak. Tidak jarang kondisi ini memicu komentar-komentar sumbang dari warganet. Strategi pemasaran agar selalu laris manis, katanya. 


Bila alasan di balik hal tersebut hanya demi keuntungan semata, tentu Compass sudah memasang harga jauh lebih tinggi. Namun, alasan utamanya adalah kualitas. 


Sejak awal berdirinya hingga saat ini, Compass masih dibuat secara hand made atau dibuat dengan tangan. Ada sekitar 20 orang karyawan yang berperan di balik proses produksi sneakers lokal tersebut. Maka, tentu saja angka yang bisa diproduksi terbatas demi terjaganya kualitas. 


Mereka tidak ingin mengejar jumlah produksi untuk memenuhi permintaan pasar, namun standar kualitas terabaikan. Ini juga yang menjadi salah satu magnet yang membuat orang mempercayai merek ini. 


Kolaborasi membesarkan nama Compass

Banyak yang mengatakan saat ini bukanlah era kompetisi, melainkan era kolaborasi. Jika kita amati, banyak sekali brand yang berkolaborasi dengan brand lain atau dengan influencer. Peluang ini juga yang ditangkap oleh Aji dan tim Compass. 


Di awal kemunculannya kembali, Compass menggandeng influencer Brian Notodiharjo atau yang lebih akrab disapa Bryant. Mereka meluncurkan Compass Bravo yang habis terjual hanya dalam satu setengah jam saja. 


Strategi ini sepertinya patut ditiru untuk para pengusaha pemula agar bisnisnya lebih maju. 


Dari Gunawan, Aji Handoko Purbo, dan tim Compass, kita mengerti bahwa keberhasilan dan nama besar tidak dapat diraih dalam satu malam. Ada proses panjang di balik hal tersebut. Ada proses belajar yang tiada henti. Ada keinginan untuk terus mencoba yang tidak pernah pupus. Dan ada kerja sama. 


Orang bijak berkata, kita bisa berjalan cepat sendirian, namun bersama kita bisa berjalan jauh. Kamu ingin hasil yang cepat atau langkah yang jauh? Pilihannya ada di tanganmu.

Upcoming Event

Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

Lihat semua event

Download Majalah

Cover majalah wirausaha Indonesia
Lihat semua edisi

Related Article

Inilah 7 Keuntungan Menggunakan Strategi Omnichannel!
Setiap bisnis tidak bisa lagi mengabaikan revolusi digital sehingga sudah saatnya bisnis menerapkan strategi omnichannel.
Rekomendasi Pemberian Customer Reward untuk Loyalty Program
Customer reward umumnya diberikan kepada pelanggan setia sebuah bisnis, reward apa sajakah yang bisa ditawarkan pada mereka?
3 Loyalty Program dari Beauty Brand yang Bisa Kamu Tiru
Loyalty program bisa menjadi strategi membangun basis pelanggan setia. Nah, beberapa model program loyalitas pelanggan ini dapat menjadi inspirasi.
Keberhasilan UMKM Membuka Peluang Kerja di Masa Pandemi
UMKM terbukti mampu menyerap dan membuka peluang kerja baru dari berbagai bidang di masa pandemi ini