Table of Content

    • majoo blog
    • Trivia
    • Susu Nabati, Menikmati Susu Tanpa Risiko Intoleransi Laktosa

    Susu Nabati, Menikmati Susu Tanpa Risiko Intoleransi Laktosa

    Susu nabati yang semakin banyak digemari akhir-akhir ini seolah menjadi jawaban yang menarik bagi mereka yang perutnya kerap bermasalah saat mengonsumsi produk susu sapi. Banyak orang memang tidak mengalami masalah apa pun saat mengonsumsi produk-produk yang terbuat dari susu sapi maupun kambing. Namun, banyak juga orang yang tubuhnya tidak mampu menghasilkan enzim laktase dalam jumlah yang cukup untuk mencerna laktosa, atau zat gula yang terdapat pada produk susu. Akibatnya, laktosa pada susu tidak bisa diserap sepenuhnya dalam aliran darah sehingga akan diteruskan langsung ke usus besar untuk diolah. Masalahnya, pemrosesan laktosa di usus besar kerap menghasilkan gas buangan yang dapat memicu beragam gangguan pencernaan, mulai dari kembung, sakit perut, hingga diare.

    Bagi kamu yang memiliki masalah pencernaan semacam ini, tentu rasanya menyebalkan sekali karena tidak dapat menikmati produk yang terbuat dari susu hewani dengan santai karena khawatir perut akan langsung bergemuruh setelah mengonsumsinya. Itulah mengapa susu yang terbuat dari produk-produk nabati seperti susu almon atau susu kedelai bisa menjadi solusi yang menyenangkan. Produk susu yang terbuat dari bahan-bahan nabati tidak mengandung laktosa, sehingga tidak akan menimbulkan masalah meski dikonsumsi oleh mereka yang memiliki intoleransi laktosa.

    Sudah ada sejak dulu

    Meski baru populer kembali akhir-akhir ini, alternatif susu yang tidak didapatkan dari sumber-sumber hewani ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Kamu mungkin pernah menikmati susu yang terbuat dari kacang kedelai saat kecil dulu, karena produk susu kedelai bisa dibilang jajanan yang umum ditemukan di depan sekolah-sekolah atau dijajakan berkeliling area pemukiman dengan gerobak dorong—bahkan mungkin hingga kini. Bedanya, jika dulu susu yang terbuat dari produk nabati ini masih dijual secara konvensional, kini produk-produk tersebut dijual dengan kemasan yang lebih modern. Tidak heran, sih, mengingat saat ini sudah banyak orang yang memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan tubuh, termasuk dengan mengurangi konsumsi kolesterol pada produk susu hewani yang memang tergolong tinggi. Produk susu dari bahan-bahan nabati bisa menjadi penyelamat karena kandungan kolesterolnya yang cukup rendah.

    Terkenal di kalangan vegan

    Pasar susu dari bahan-bahan nabati tidak hanya mencakup mereka yang memiliki intoleransi laktosa semata. Mereka yang mengadopsi gaya hidup vegetarian maupun vegan pun juga bisa menjadi target yang tepat, mengingat produk susu ini sama sekali tidak mengandung unsur hewani sama sekali. Tidak heran jika susu almon atau produk susu lainnya yang tidak mengandung unsur hewani kerap ditemukan di tempat-tempat yang banyak dikunjungi oleh komunitas vegan seperti tempat-tempat makan yang sadar dengan isu lingkungan, restoran vegetarian, maupun komunitas-komunitas yoga. Karena kandungan kolesterolnya yang lebih sedikit dibanding produk susu hewani, susu dari bahan-bahan nabati memang menjadi favorit bagi mereka yang menganut gaya hidup sehat.

    Mulai dari susu almon hingga bahan lainnya

    Susu non-hewani umumnya dibuat dari kacang-kacangan, misalnya saja almon maupun kacang kedelai. Namun, susu yang tak mengandung laktosa ini juga bisa dibuat dari bahan lain, susu beras maupun susu kelapa misalnya saja. Tentunya yang dimaksud dengan susu beras bukanlah air tajin, melainkan susu yang dibuat dengan melarutkan tepung beras. Sayangnya, meski tidak mengandung kolesterol, susu yang terbuat dari tepung beras juga tidak mengandung cukup protein yang diperlukan oleh tubuh, sehingga tidak begitu banyak orang yang membuat atau mengonsumsi susu beras ini.

    Untuk susu yang terbuat dari kelapa, kita mengenalnya sebagai santan. Meski tidak memiliki kandungan kolesterol, santan memiliki kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi sehingga juga dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh. Itulah mengapa santan jarang dikonsumsi oleh mereka yang menerapkan pola hidup sehat. Bagi mereka yang memang ingin mencari alternatif untuk susu hewani, susu almon dan kacang kedelai kerap menjadi pilihan terbaik karena tidak mengandung banyak kolesterol maupun lemak jenuh. Sayangnya, kacang almon sendiri bukanlah jenis bahan yang bisa didapatkan dengan harga yang terjangkau. Proses mengolah kacang almon menjadi susu pun tidak bisa dibilang mudah. Itulah mengapa produk susu yang satu ini kerap dijual dengan harga premium dan tidak semua tempat menyediakannya, tidak seperti susu dari kacang kedelai yang lebih umum dan terjangkau.

    Tren baru dalam menikmati susu

    Meningkatnya kesadaran untuk menjaga kesehatan tubuh dan pentingnya pola makan yang lebih baik membuat susu nabati banyak digemari untuk menggantikan produk susu hewani yang memiliki kandungan kolesterol tinggi. Selain tidak memiliki risiko intoleransi laktosa dan secara umum baik untuk kesehatan, produk susu yang satu ini memiliki keunikan sendiri hingga dapat digunakan untuk meningkatkan nilai jual. Tidak heran jika kemudian banyak orang yang tertarik untuk mencobanya dan menjadikannya tren baru yang patut untuk diadopsi. Susu yang terbuat dari almon maupun kedelai juga memiliki kelezatan rasa yang unik untuk menarik perhatian konsumen akhir. Banyak pelaku usaha kemudian memanfaatkan branding ini saat memasarkan produknya hingga banyak diminati. 

    Tak ubahnya produk-produk tren lainnya, susu yang terbuat dari bahan-bahan non-hewani juga memiliki pasarnya sendiri. Muncul sebagai sesuatu yang unik sekaligus menawarkan beragam manfaat yang tak bisa ditemukan dalam produk susu hewani pada umumnya, susu yang terbuat dari bahan-bahan nabati ini memiliki nilai lebih sebagai sebuah produk. Tidak mengherankan jika nilai jual yang berbeda ini membuatnya menjadi tren yang demikian digemari oleh setiap kalangan, bukan?

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Mempertahankan Bisnis dengan Memanfaatkan e-Marketplace
    Berbagai e-Marketplace berlomba memberikan dukungan di platform mereka untuk pebisnis, dengan harapan agar ekonomi tetap bergerak di masa pandemi COVID-19.
    Online Shop: Bisnis Paling Tepat di Masa Pandemi
    Di masa pandemi, saat semuanya dibatasi, membuka atau mengalihkan bisnis menjadi online shop dianggap sebagai sebuah strategi bisnis yang tepat.
    Belajar dari Pandemi: 5 Catatan Penting untuk Pemilik Usaha
    Meski sulit, ada pelajaran berharga yang dapat diambil selama pandemi. Dengan memahami ini, pemilik usaha dapat bertahan dan bergerak maju.
    Marketplace Indonesia Ini Turut Dorong Pertumbuhan UMKM Lho!
    Marketplace Indonesia memegang peranan besar dalam mendukung perkembangan UMKM. Apa saja marketplace karya anak bangsa tersebut? Simak daftarnya di sini!