Tren Kuliner: Plant-Based Meat

Saat kamu melihat foto di atas, mungkin kamu mengira itu adalah burger dengan daging sapi pada umumnya. Padahal, bukan. Foto di atas adalah burger yang diracik dengan bahan plant-based meat.


Plant-based meat atau daging nabati adalah salah satu tren di dunia kuliner yang berkembang dengan pesat sejak beberapa tahun belakangan ini. Tren ini mendorong orang-orang untuk semakin banyak mengonsumsi buah, sayur, kacang, dan biji-bijian. Untuk merespons kebutuhan konsumen, berbagai produsen telah mengembangkan alternatif produk nabati untuk bahan pokok seperti daging, telur, dan susu.

 

Tidak seperti daging tiruan yang sering diletakkan di area vegan atau vegetarian, produk daging nabati biasanya justru bisa ditemukan di rak-rak daging di supermarket. Ya, betul! Ada di rak daging. Produsen daging nabati tidak hanya memproduksi bahan makanan untuk vegan dan vegetarian, tetapi menyasar para pencinta daging juga.

 

Permintaan konsumen atas produk nabati atau plant-based memang terus meningkat beberapa tahun belakangan ini. Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Plant Based Food Association (PBFA), penjualan produk makanan nabati mencapai lebih dari 3,3 miliar dolar Amerika Serikat pada tahun 2018, meningkat 20% dibanding tahun sebelumnya. Angka yang tinggi ini menunjukkan tren yang menjanjikan untuk produsen makanan nabati.

Mengapa daging nabati semakin populer?

Meningkatnya popularitas diet flexitarian mungkin ada hubungannya dengan peningkatan minat terhadap produk-produk tanpa daging tapi masih terlihat seperti daging. Pada intinya, diet flexitarian adalah diet semi-vegetarian, atau fleksibel vegetarian. Kamu mengonsumsi sayur, buah, tahu seperti vegetarian pada umumnya, tapi kamu sesekali masih diperbolehkan makan daging dan ikan.

 

Hal lain yang mendorong peningkatan minat atas produk nabati juga mungkin adalah berbagai studi kasus belakangan yang menunjukkan kaitan antara proses produksi daging dengan dampak lingkungan yang menghancurkan bumi secara perlahan. Faktanya, menurut jurnal yang diterbitkan oleh PLOS One, pola makan yang menjurus ke arah vegan dan vegetarian, bisa mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 70 persen dan penggunaan air sebesar 50 persen.

Apa sebenarnya plant-based meat itu?

Daging pengganti atau tiruan sebenarnya bukanlah hal baru. Burger vegetarian sudah lama tersedia di pasaran. Tapi produk daging ‘tanpa daging’ yang ada di pasaran saat ini berbeda. Daging nabati seperti yang diproduksi oleh Beyond Meat atau Impossible Foods adalah produk yang dibuat dari tumbuhan dan ditargetkan untuk memiliki rasa seperti daging, dan dipasarkan untuk konsumen pemakan daging, serta menargetkan pengurangan jatah pembelian daging asli para konsumen. Itulah yang membedakan daging nabati dengan burger vegetarian, yang pada umumnya menyasar para vegetarian.

 

Produsen daging nabati mengklaim produk mereka memiliki rasa, tekstur, dan sensasi yang sama dengan daging sapi asli.

 

Beyond Meat, misalnya, memproduksi daging nabati tanpa GMO, kedelai, maupun gluten. Protein produknya, Beyond Burger, berasal dari beras, kacang polong, dan kacang hijau, dan lemaknya berasal dari minyak canola, minyak kelapa, dan mentega kakao. Produk ini tidak menggunakan telur sebagai zat pengikat, tetap menggunakan aditif yang disebut metilselulosa. Zat pengikat ini juga biasa digunakan dalam es krim, selai, dan saus.

 

Sedangkan Impossible Foods membuat heme berbasis tumbuhan (molekul organic yang mengandung zat besi yang secara alami ada di tumbuhan dan hewan) melalui fermentasi ragi yang direkayasa secara genetika, seperti dijelaskan di situs web Impossible Foods. Pada tahun 2019, Impossible Foods memperbarui resep original mereka dan produk Impossible Burger. Campuran bahannya dilengkapi dengan berbagai vitamin dan mineral untuk mendapatkan nutrisi yang setara dengan daging sapi asli. Sumber proteinnya berasal dari kacang kedelai dan kentang, lemaknya dari minyak kelapa dan minyak bunga matahari, sedangkan zat pengikatnya menggunakan zat yang sama dengan Beyond Burger, yaitu metilselulosa

Apakah daging nabati sehat?

Impossible Burger memiliki profil nutrisi yang mirip dengan Beyond Burger, dan bisa menjadi sumber sebagian besar vitamin B dan seng, serta sumber kalsium, kalium, dan fosfor yang baik.

 

Dengan banyaknya bahan yang digunakan dalam daging nabati, pembuatannya juga melalui proses yang panjang. Dan karena nutrisinya mirip dengan daging asli, daging nabati ini memiliki kandungan kalori dan lemak jenuh yang hampir sama juga, tetapi lebih tinggi karbohidrat dan sodiumnya.

 

Daging nabati juga memiliki serat yang lebih tinggi, meskipun seratnya bukan berasal dari bahan alami seperti kacang, biji-bijian, ataupun gandum utuh. Hal lain yang menarik adalah: daging nabati pada umumnya tidak mengandung kolesterol sama sekali.

Apakah daging nabati cocok untuk vegan atau vegetarian?

Daging nabati tidak selalu berarti bisa dikonsumsi oleh vegan atau bahkan vegetarian. Hal ini adalah kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

 

Produk daging nabati pada prinsipnya tidak mengandung produk hewani. Jika dimasak di rumah, tentu mudah menyiapkannya sebagai hidangan vegan. Dan karena produk ini sudah banyak dijual di supermarket (terutama di luar negeri), memasak daging nabati sendiri di rumah adalah cara yang ideal bagi para vegan dan vegetarian untuk mengonsumsi ‘daging’ ini.


Tapi jika daging nabati disiapkan di restoran yang juga mengolah daging asli, dan menggunakan peralatan masak yang sama, tentu saja akan jadi meragukan bagi para vegan atau vegetarian.

 

Di luar negeri, Impossible Foods mengumumkan kerja sama dengan Burger King, Qdoba, dan puluhan restoran lainnya. Sedangkan kompetitor mereka, Beyond Meat, telah mulai menjual produknya di restoran cepat saji seperti Del Taco, Subway, dan yang paling baru, KFC.


Tren daging nabati ini saat ini terus membesar dan meluas di luar negeri, dan bisa jadi, tak perlu waktu lama lagi untuk ikut andil meramaikan pasar kuliner yang ada di Indonesia. Saat ini, di Indonesia sudah banyak sekali restoran yang khusus menyajikan makanan untuk vegan maupun vegetarian, tapi mungkin, yang menawarkan menu berbasis daging tiruan masih sangat sedikit. Ini yang bisa menjadi peluang besar bagi para pengusaha kuliner di Indonesia.

Upcoming Event

Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

Lihat semua event

Download Majalah

Cover majalah wirausaha Indonesia
Lihat semua edisi

Related Article

Inilah 7 Keuntungan Menggunakan Strategi Omnichannel!
Setiap bisnis tidak bisa lagi mengabaikan revolusi digital sehingga sudah saatnya bisnis menerapkan strategi omnichannel.
Rekomendasi Pemberian Customer Reward untuk Loyalty Program
Customer reward umumnya diberikan kepada pelanggan setia sebuah bisnis, reward apa sajakah yang bisa ditawarkan pada mereka?
3 Loyalty Program dari Beauty Brand yang Bisa Kamu Tiru
Loyalty program bisa menjadi strategi membangun basis pelanggan setia. Nah, beberapa model program loyalitas pelanggan ini dapat menjadi inspirasi.
Keberhasilan UMKM Membuka Peluang Kerja di Masa Pandemi
UMKM terbukti mampu menyerap dan membuka peluang kerja baru dari berbagai bidang di masa pandemi ini