Kenali Jenis Alat Pembayaran yang Sah di Indonesia, Yuk!

article thumbnail

Di era digital yang mengalami perkembangan secara pesat, alat pembayaran menjadi inti dari segala transaksi bisnis. Alat pembayaran pu mengalami transformasi juga, nih! Dari awalnya banyak orang yang menggunakan alat pembayaran tunai, kini tak sedikit yang menggunakan alat pembayaran non-tunai untuk bertransaksi karena lebih mudah, efisien, dan aman.

Di artikel ini akan dibahas mengenai alat pembayaran tunai dan non-tunai, mulai dari pengertian hingga kelemahan serta kekurangannya masing-masing. Tak perlu berlama-lama lagi, yuk, baca artikel ini sampai selesai, ya. 

Pengertian Alat Pembayaran

Alat pembayaran adalah segala bentuk sarana yang digunakan untuk melakukan transaksi keuangan atau membayar barang atau jasa. Alat pembayaran ini menggunakan berbagai metode dan instrumen untuk digunakan dalam mentransfer nilai uang dari satu pihak ke pihak lainnya. 

Seiring berjalannya waktu, alat pembayaran mengalami kemajuan dari yang awalnya berbasis fisik, seperti uang tunai atau cek, kini beralih ke bentuk digital yang lebih modern, lho! 

Alat pembayaran ini berperan penting untuk memfasilitasi aktivitas ekonomi negara dan perdagangan karena menyediakan sarana pertukaran nilai. Yang menyebabkan berbagai alat pembayaran ini  adanya kemajuan teknologi dan perubahan pola konsumen, preferensi, dan kenyamanan dalam bertransaksi, ya. 

Jenis Alat Pembayaran yang Sah di Indonesia

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa alat pembayaran mengalami kemajuan, dari berbasis fisik hingga kini beralih ke digital. Alat pembayaran yang sah di Indonesia menggunakan metode transaksi dalam bentuk Rupiah dan diakui oleh pemerintah (Bank Indonesia). Alat bayar dengan model apa pun dan resmi bisa digunakan untuk bertransaksi. Selain itu, alat pembayaran ini harus sah secara hukum dan diakui negara. 

Jenis alat pembayaran yang sah di Indonesia dibagi menjadi dua jenis, yaitu tunai dan non-tunai. Penjelasan mengenai jenis alat pembayaran lebih lengkapnya ada di bawah ini, ya. 

  1. Alat Pembayaran Tunai

Alat pembayaran tunai merupakan alat yang yang digunakan untuk bertransaksi dengan menggunakan uang tunai atau fisik. Uang tunai ini berupa uang koin maupun uang kertas yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

Uang tunai yang tidak dikeluarkan oleh Bank Indonesia dianggap uang palsu. Untuk meminimalisir pengadaan uang palsu ini, kini banyak negara yang mengembangkan alat pembayaran secara non-tunai. Selain itu, adanya pengembangan ini membuat negara lebih bisa menekan biaya pencetakan uang fisik, karena biaya lebih mahal daripada uang non-tunai.

Alat pembayaran dibagi menjadi dua jenis, yaitu tunai dan non-tunai. 

  1. Alat Pembayaran Non-Tunai

Alat pembayaran non-tunai ini tidak harus menggunakan uang fisik. Macamnya apa saja, sih? Berikut contoh alat pembayaran non-tunai.

  • Cek dan Bilyet Giro

Cek adalah surat perintah tanpa syarat untuk membayar sejumlah dana, bisa "atas nama" atau "atas tunjuk. Cek merupakan surat berharga yang dapat diperdagangkan, lho! Bilyet Giro adalah perintah nasabah kepada bank untuk memindahbukukan dana dari rekening tertentu ke rekening pemegang yang disebutkan.

  • Nota Debit

Nota debit ini digunakan untuk menagih nasabah bank lain melalui kliring dan dimasukkan ke rekening nasabah bank yang mengeluarkan nota debit. Selain itu, nota debit digunakan untuk transaksi antar kantor baik menggunakan surat maupun telegram dan disampaikan melalui kantor pos.

  • Nota Kredit

Nota kredit digunakan untuk mengirimkan atau memindahkan dana bukan tunai kepada nasabah bank lain melalui kliring. Selain itu, nota kredit digunakan untuk bertransaksi antar kantor dengan menggunakan surat atau telegram dan disampaikan melalui kantor pos.

  • Kartu Kredit

Alat pembayaran non-tunai selanjutnya yakni kratu kredit. Kartu kredit adalah fasilitas kredit yang diberikan oleh bank ke nasabahnya untuk membeli produk atau jasa. Pembayaran kartu kredit ini juga dilakukan dalan jangka waktu tertentu atau memiliki jatuh tempo. Prinsip yang sangat melekat pada alat pembayaran satu itu ini yakni "buy now pay later.” 

  • Kartu ATM dan Kartu Debit

Kartu ini diberikan oleh bank kepada nasabahnya untuk bertransaksi secara elektronik dan dapat digunakan di mesin ATM atau EDC untuk pembayaran non-tunai. 

  • Alat Pembayaran Uang Elektronik

Uang elektronik disimpan dalam media elektronik dan harus disetor terlebih dahulu dan dapat diisi ulang setelah digunakan. Media penyimpanan uang elektronik ini bisa berupa chip atau server. 

  • Cryptocurrency

Alat pembayaran non-tunai terakhir yaitu cryptocurrency. Di dalam cryptocurrency terdapat berbagai mata uang untuk bertransaksi, misalnya Bitcoin dan Ethereum. Kedua mata uang cryptocurrency ini merupakan uang digital dengan keamanan transaksi berbasis kriptografi serta mengatur penciptaan unit baru, ya. 

Baca Juga: Intip Contoh Termin Pembayaran dalam Bisnis, Yuk!

Kelebihan dan Kekurangan Alat Pembayaran Tunai dan Non-Tunai

Tentunya alat pembayaran pembayaran menggunakan uang tunai tetap menjadi pilihan utama dan diminati hingga saat ini, terutama dalam konteks jual beli langsung. Namun, setiap jenis alat pembayaran mempunyai kelebihan dan kekurangan, nih! Jadi, apa kelebihan dan kekurangan alat pembayaran tunai dan non-tunai? Simak di bawah ini, ya! 

Kelebihan Alat Pembayaran Tunai

  • Lebih Mudah Digunakan

Saat ini, tidak semua wilayah di Indonesia memiliki sarana prasarana yang memadai untuk pembayaran non-tunai, terutama di daerah pelosok yang minim jaringan internet. Oleh karena itu, pembayaran tunai dianggap lebih mudah karena dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja tanpa tergantung pada bank, jaringan internet, atau aplikasi.

 

  • Minim dari Risiko Berutang

Penggunaan alat transaksi tunai membantu kamu mengendalikan pembelian karena terbatasnya uang yang dibawa. Misalnya, saat berbelanja di supermarket atau mal, pembayaran tunai dapat mencegahmu berutang pada gerai atau toko tersebut. 

Baca Juga: Multi Payment adalah: Manfaat dan Cara Pembayarannya

Kekurangan Alat Pembayaran Tunai

  • Mudah Hilang

Menyimpan dan menggunakan uang tunai, terutama dalam jumlah besar, memiliki risiko kehilangan baik saat disimpan maupun dibawa dalam perjalanan. Oleh karena itu, disarankan untuk membawa uang tunai secukupnya sesuai kebutuhan belanja.

 

  • Risiko Kriminalitas

Membawa uang tunai dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko kriminalitas seperti pencurian, perampokan, atau pembegalan. Oleh karena itu, perlu hati-hati saat membawa uang tunai, terutama dalam jumlah besar, ya.

 

  • Kurang Praktis dan Ribet

Penggunaan uang tunai menjadi kurang praktis dan merepotkan, terutama jika nominal yang dibutuhkan cukup besar. Selain repot dalam membawa uang fisik, penghitungan ulang juga dapat menjadi masalah. Oleh karena itu, banyak orang beralih ke transaksi non-tunai, terutama untuk nominal besar. 

Kelebihan Alat Pembayaran Non-Tunai

  • Keamanan dan Transparansi Tinggi

Alat pembayaran non-tunai dianggap lebih aman dan transparan karena setiap transaksi tercatat secara rinci dalam sistem. Pasalnya, alat pembayaran non-tunai ini bisa dilakukan pengecekan kembali jika terjadi masalah, seperti pembayaran yang belum diterima.

 

  • Transaksi Lebih Cepat

Penggunaan alat pembayaran non-tunai memudahkan transaksi dengan lebih cepat dan efisien, tanpa perlu melakukan penghitungan manual. Proses pembayaran hanya memerlukan penulisan besaran uang yang dibutuhkan, termasuk bilangan yang sangat detail.

 

  • Keamanan Tinggi (dalam Pengelolaan Uang Fisik)

Alat pembayaran non-tunai dinilai lebih aman karena mengurangi kebutuhan membawa uang tunai dalam jumlah besar. Meski begitu, perlu tetap berhati-hati terhadap risiko kejahatan digital. 

Kekurangan Alat Pembayaran Non-Tunai

  • Terbatasnya Penggunaan di Beberapa Tempat

Di Indonesia, belum semua tempat atau wilayah mendukung penggunaan alat pembayaran non-tunai karena perbedaan tingkat prasarana dan sarana. Beberapa daerah, terutama pelosok, mungkin sulit mengakses teknologi, sehingga lebih memilih pembayaran tunai yang dianggap lebih mudah.

 

  • Risiko Terlilit Utang

Penggunaan alat pembayaran non-tunai, baik melalui kartu kredit maupun uang elektronik, meningkatkan risiko terlilit utang. Oleh karena itu, perlu kehati-hatian agar kemudahan penggunaan tidak menimbulkan masalah utang, ya. 

 Aplikasi kasir online

Kesimpulan

Demikian penjelasn mengenai alat pembayaran tunai dan non-tunai yang sah di Indonesia. Semoga artikel ini memberikan manfaat untuk kamu dalam memahami alat pembayaran yang sah di Indonesia, ya. 

Kini, sebagai pebisnis, kamu tentunya memerlukan tools pembantu untuk memudahkan transaksi dalam bisnismu. Tak perlu bingung lagi, nih!

Kamu saat ini bisa menggunakan aplikasi majoo untuk membantu semua operasional bisnismu. Banyak fitur menarik dan bermanfaat yang bisa kamu gunakan, seperti fitur akuntansi, POS, CRM, inventory, dan masih banyak lagi. Selain itu, sebelum berlangganan, kamu juga bisa menggunakan aplikasi majoo secara gratis selama 14 hari, lho! Jadi, tunggu apa lagi, nih? Klik tautan ini untuk info lebih lengkapnya, ya. 

 

Sumber Data:

https://mamikos.com/info/contoh-alat-pembayaran-pljr/

Dapatkan Inspirasi Terbaru dari majoo

Subscribe untuk dapatkan berita, artikel, dan inspirasi bisnis di email kamu

Footer support

Pustaka majoo

Isi Form dibawah ini untuk download pustaka

format: 62xxxxxxxx
Batal
Icon close

Temukan Paket Paling Tepat untuk Bisnismu

Isi form berikut untuk membantu kami tentukan paket paling sesuai dengan jenis dan skala bisnismu.
solusi bisnis form

+62
majoo logo circle

Silakan Isi data diri di bawah Ini untuk terhubung dengan majooCare

+62
whatsapp logo