Kenali Apa Itu Account Receivable, Jenis, Ciri-ciri, Manfaat dan Contohnya

Penulis Annisa Nur Indriyanti
01 October 2025

article thumbnail

Dalam dunia bisnis modern, arus kas merupakan salah satu aspek terpenting yang menentukan sehat atau tidaknya sebuah perusahaan. Tidak hanya soal bagaimana pendapatan masuk, tetapi juga bagaimana piutang dikelola agar bisnis tetap berputar lancar. Salah satu istilah penting yang sering muncul dalam laporan keuangan adalah account receivable atau piutang usaha. Banyak pengusaha pemula yang masih bingung memahami istilah ini, padahal keberadaannya sangat vital dalam menjaga likuiditas perusahaan.

Artikel ini akan mengulas secara lengkap tentang account receivable adalah, pengertiannya, jenis-jenisnya, ciri-ciri perusahaan dengan AR yang sehat, manfaat jika dikelola dengan baik, hingga contoh penerapannya dalam praktik bisnis sehari-hari.

Pengertian Account Receivable (Piutang Usaha)

Secara sederhana, account receivable adalah hak perusahaan untuk menerima pembayaran dari pelanggan atau pihak lain yang sudah membeli barang atau jasa secara kredit. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini dikenal dengan sebutan piutang usaha.

Contohnya, sebuah toko elektronik menjual laptop kepada pelanggan dengan sistem pembayaran tempo 30 hari. Laptop sudah diberikan kepada pembeli, tetapi pembayaran baru akan diterima sebulan kemudian. Dalam periode tersebut, nilai transaksi yang belum dibayar itulah yang tercatat sebagai account receivable.

AR merupakan salah satu pos penting dalam laporan keuangan, khususnya di neraca, karena mencerminkan aset lancar yang sewaktu-waktu akan berubah menjadi kas ketika pembayaran diterima.

Jenis-Jenis Account Receivable

Piutang usaha tidak hanya datang dari satu sumber saja. Ada beberapa jenis account receivable yang biasanya ditemui dalam aktivitas bisnis.

  1. Trade Receivable

Ini adalah jenis piutang paling umum, yaitu piutang yang timbul dari transaksi penjualan barang atau jasa kepada pelanggan dengan sistem kredit.

  1. Notes Receivable

Piutang yang didukung oleh dokumen tertulis berupa janji pembayaran, biasanya dalam bentuk wesel atau surat utang. Jenis ini memiliki kepastian hukum yang lebih kuat.

  1. Other Receivable

Merupakan piutang di luar penjualan utama, misalnya piutang kepada karyawan (pinjaman sementara), piutang bunga, atau klaim asuransi.

Dengan memahami jenis-jenis ini, perusahaan dapat mengklasifikasikan piutang dengan lebih jelas dan menyesuaikan strategi penagihannya.

Ciri-Ciri Perusahaan dengan AR yang Sehat

Keberadaan AR sebenarnya bisa menjadi indikator kesehatan keuangan sebuah perusahaan. Perusahaan dengan pengelolaan AR yang baik biasanya menunjukkan beberapa ciri khas, antara lain:

  • Memiliki sistem pencatatan piutang yang rapi dan teratur.

  • Tingkat piutang macet relatif rendah karena pelanggan disiplin membayar tepat waktu.

  • Arus kas tidak terganggu meskipun ada transaksi kredit.

  • Rasio perputaran piutang menunjukkan angka yang sehat, artinya perusahaan cepat mengubah piutang menjadi kas.

Jika sebuah perusahaan memiliki piutang menumpuk yang sulit ditagih, hal itu bisa menjadi sinyal masalah serius pada manajemen keuangan mereka.

Manfaat Mengelola Account Receivable dengan Baik

Banyak pengusaha yang kurang memperhatikan manajemen piutang, padahal ada banyak manfaat yang bisa diperoleh jika account receivable dikelola dengan baik.

Pertama, bisnis akan memiliki arus kas yang lebih stabil. Meskipun penjualan dilakukan secara kredit, perusahaan tetap bisa memastikan kapan dana akan masuk dan bisa mengatur pengeluaran operasional dengan tenang.

Kedua, pengelolaan AR yang baik dapat meningkatkan kepercayaan investor maupun pihak bank. Mereka melihat perusahaan mampu menjaga likuiditasnya dengan efektif.

Ketiga, dengan manajemen piutang yang rapi, risiko piutang tak tertagih bisa diminimalisir. Hal ini tentu berpengaruh besar terhadap laba bersih perusahaan.

Keempat, AR yang sehat juga memungkinkan perusahaan untuk memberikan fleksibilitas kepada pelanggan. Pelanggan yang diberikan opsi kredit akan lebih tertarik untuk melakukan pembelian dalam jumlah besar, yang pada akhirnya meningkatkan volume penjualan.

Contoh Account Receivable dalam Praktik Bisnis

Agar lebih mudah dipahami, mari kita lihat contoh nyata penerapan AR dalam bisnis. Bayangkan sebuah perusahaan distribusi bahan bangunan menjual semen senilai Rp200 juta kepada toko bangunan dengan sistem pembayaran 60 hari. Perusahaan distribusi mencatat transaksi tersebut sebagai penjualan kredit. Hingga pembayaran dilakukan, nilai Rp200 juta itu menjadi account receivable di laporan keuangan mereka.

Contoh lain bisa ditemukan dalam industri jasa. Sebuah agensi digital marketing menyelesaikan proyek iklan untuk klien, tetapi pembayaran baru dilakukan setelah laporan akhir diserahkan. Nilai jasa yang belum dibayar itulah yang dicatat sebagai piutang usaha.

Dari dua contoh tersebut terlihat bahwa AR bukan sekadar angka di laporan, melainkan bagian nyata dari transaksi bisnis sehari-hari.

Cara Mencatat Account Receivable di Pembukuan

Dalam akuntansi, pencatatan account receivable sangat penting agar laporan keuangan tetap akurat. Ketika terjadi penjualan kredit, perusahaan akan mencatat:

  • Debit pada akun Account Receivable untuk menambah piutang.

  • Kredit pada akun Penjualan untuk mencatat pendapatan.

  • Ketika pelanggan melakukan pembayaran, perusahaan akan mencatat:

  • Debit pada akun Kas/Bank untuk menambah kas.

  • Kredit pada akun Account Receivable untuk mengurangi piutang.

Dengan pencatatan seperti ini, posisi piutang akan selalu terpantau dengan jelas. Perusahaan bisa mengetahui siapa saja pelanggan yang masih memiliki kewajiban, berapa nilai piutang, dan kapan jatuh temponya.

Account Receivable dan Tantangan Pengelolaannya

Meski terlihat sederhana, pengelolaan AR memiliki tantangan tersendiri. Tidak jarang perusahaan menghadapi masalah piutang macet, yaitu ketika pelanggan gagal melunasi kewajibannya. Hal ini bisa mengganggu arus kas bahkan menimbulkan kerugian besar.

Selain itu, semakin besar nilai piutang, semakin besar pula kebutuhan perusahaan untuk mengalokasikan sumber daya khusus dalam pengawasan dan penagihan. Dibutuhkan tim keuangan yang cermat serta sistem yang rapi agar semua piutang bisa dikelola dengan baik.

Dari pembahasan di atas, kita bisa melihat bahwa account receivable adalah salah satu aspek penting dalam manajemen keuangan perusahaan. Dengan memahami pengertian, jenis, ciri-ciri perusahaan dengan AR sehat, manfaat, hingga cara mencatatnya, pelaku usaha bisa lebih bijak dalam mengelola piutang.

Pengelolaan AR yang baik bukan hanya soal mencatat angka, tetapi juga memastikan arus kas perusahaan tetap stabil dan bisnis bisa berkembang dengan sehat. Namun, banyak UMKM hingga perusahaan menengah masih kesulitan mencatat piutang secara rapi karena sistem manual yang rumit.

Untuk itulah aplikasi seperti majoo hadir sebagai solusi. Dengan fitur pencatatan otomatis, pengelolaan piutang, hingga laporan keuangan real-time, majoo membantu bisnis mengelola account receivable dengan lebih mudah. Tidak hanya itu, majoo juga mendukung manajemen stok, penjualan, hingga integrasi pembayaran dalam satu platform.

Jika Anda ingin bisnis lebih profesional dan bebas dari kerumitan administrasi, mulai gunakan majoo sekarang. Dengan majoo, pengelolaan piutang usaha menjadi lebih praktis, akurat, dan mendukung pertumbuhan bisnis Anda di era modern.





Dapatkan Inspirasi Terbaru dari majoo

Subscribe untuk dapatkan berita, artikel, dan inspirasi bisnis di email kamu

Footer support

Pustaka majoo

Isi Form dibawah ini untuk download pustaka

format: 62xxxxxxxx
Batal
Icon close

Temukan Paket Paling Tepat untuk Bisnismu

Isi form berikut untuk membantu kami tentukan paket paling sesuai dengan jenis dan skala bisnismu.
solusi bisnis form

+62
Selamat datang di majoo 👋 Hubungi konsultan kami untuk pertanyaan dan info penawaran menarik
whatsapp logo