Sukses Bisnis Cuci Sepatu ala Shoeborn

Ditulis oleh Nisa Destiana

article thumbnail

Shoeborn, bisnis cuci sepatu yang sangat mengedepankan excellent service.

Secara berkala, orang membeli sepatu baru. Menariknya, semangat orang merawat sepatu tidak selalu berbanding lurus dengan semangat membelinya. Karena itu, bisnis cuci sepatu menjadi salah satu usaha yang terbilang menjanjikan.

Selama orang masih memakai sepatu dan gaya hidup masyarakat cenderung makin praktis, laundry sepatu bisa terus bertahan. Tampaknya, peluang ini dilihat oleh Shoeborn, bisnis yang spesialisasinya pada jasa cuci dan reparasi sepatu.

Mulai beroperasi sejak 2020 hingga saat ini, bisa dibilang bisnis ini survive melewati pandemi. Apa rahasia keberhasilan Shoeborn? Yuk, simak kisahnya!

Excellent Service Dimulai dari Manajemen Karyawan

“Bisnis jasa itu harus mengedepankan service.” ungkap Frans, pemilik Shoeborn, kepada tim majoo.

Frans menyadari bahwa excellent service merupakan elemen krusial dan keunggulan kompetitif bagi bisnis sehingga harus diupayakan dengan maksimal. Tentunya, layanan prima tersebut akan diberikan kepada konsumen oleh para staf.

Tidak heran bila Frans cukup fokus dalam manajemen karyawan. Langkah ini bukanlah strategi yang asing dalam bisnis. Telah banyak studi yang dilakukan untuk melihat kaitan antara manajemen karyawan yang baik dengan terciptanya sikap karyawan yang service-oriented.

Baca juga: Tips Optimalkan Layanan Pelanggan untuk Daya Tarik Produk

Salah satu studi tersebut menyatakan bahwa pemilik usaha atau manajer perlu fokus pada relasinya dengan karyawan. Relasi internal yang baik di suatu organisasi bisnis akan tercermin dalam cara karyawan bersikap kepada pihak eksternal atau konsumen.

Tak hanya itu, karyawan juga memerlukan panduan yang jelas tentang cara bersikap atau cara menghadapi konsumen. Menyadari hal ini, Frans juga menyiapkan Standard Operating Procedure (SOP) sehingga siapa pun staf yang bertugas, konsumen selalu memperoleh pelayanan dengan standar tertentu.

Perlu diingat, pembuatan SOP merupakan satu hal, tetapi penerapannya merupakan persoalan berbeda. Karena itu, Frans juga selalu menjalankan supervisi agar SOP pelayanan diterapkan secara disiplin oleh para staf. 

Menariknya, Frans tidak hanya menuntut staf menjalankan tugasnya dengan baik, tetapi juga mengapresiasi mereka. Jika karyawan menunjukkan performa kerja optimal, Frans memberikan reward sesuai dengan performa tersebut.