Table of Content

    Setahun Pandemi, Saatnya Pandang New Normal Sebagai Peluang

    Dengan berbagai penyesuaian, usaha kecil masih punya harapan untuk bertahan

    Sudah satu tahun berlalu sejak kasus COVID-19 pertama di Indonesia muncul. Saat itu, berbagai dugaan tentang waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pandemi bermunculan. Sampai kini, setahun berikutnya, kita semua masih berkutat berjuang di tengah pandemi dan menjalani new normal.

     

    Bukan rahasia lagi, sektor ekonomi merupakan salah satu yang terkena hantaman keras, selain kesehatan tentunya. Banyak pemilik usaha yang gelisah takut tidak bisa bertahan, tidak sedikit juga yang benar-benar gulung tikar. Namun, di luar segala kesulitan, ternyata cukup banyak juga yang usahanya masih berjalan sampai sekarang.

     

    Selamat, kamu masih bertahan!

    Bagi bisnis yang hingga hari ini masih bisa bertahan, selamat karena kamu menang. Mungkin pendapatan jauh berkurang atau penjualan tidak optimal, tetapi kamu tetap menang karena terus berjuang. Kita tahu betapa beratnya menggerakkan roda bisnis di tengah situasi pandemi ini.

     

    Menurut prediksi Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin), ada 85,42% usaha mikro, kecil, dan menengah yang dapat bertahan hingga satu tahun di tengah pandemi. Jumlah yang cukup menakjubkan mengingat segala tantangan yang menghadang para pemilik usaha.

     

    Beralih ke platform digital merupakan salah satu strategi supaya bisnis bisa bertahan

    Kita mungkin tidak bisa mengetahui seluruh bisnis yang masih bertahan saat ini. Namun, ada beberapa yang dapat kita jadikan inspirasi. Kita ambil contoh dari bisnis kuliner, ada restoran Mie Kedondong di Surabaya, Martabak Mertua di Bandung, dan Ayam Geprek COC di Medan yang berhasil melewati krisis setahun terakhir.

     

    Dilansir dari detikfinance, masing-masing usaha tersebut cukup cepat beradaptasi dan beralih ke platform digital. Karena itu, omzet mereka cukup tertolong di tengah masa PSBB yang membatasi pelayanan di tempat atau dine in. Para pelanggan tetap bisa menikmati makanan kesukaan mereka dengan memesan secara online.

     

    Memandang new normal sebagai peluang

    Tidak ada yang tahu secara pasti, berapa lama lagi pandemi akan benar-benar teratasi. Jika kita melihat percakapan di media sosial cukup banyak yang membicarakan aktivitas yang ingin dilakukan saat situasi sudah kembali normal.

     

    Sayangnya, para ahli ekonomi berpendapat bahwa new normal merupakan gaya hidup baru yang perlu dijalani. Karena itu, mungkin saatnya kita memandang situasi ini lebih dari sekadar disrupsi, tetapi juga peluang yang perlu ditanggapi.

     

    Setidaknya, kita melihat beberapa sektor industri yang bertahan, seperti industri kesehatan, kecantikan, dan ritel. Meskipun tidak semua pebisnis bertahan, tetapi industri food and beverage juga termasuk yang masih sanggup berjalan.

     

    Sementara itu, kita juga melihat industri yang naik daun serta berhasil meraup keuntungan, misalnya pertanian. Baik untuk pemenuhan kebutuhan pangan seperti sayur-mayur dan buah-buahan maupun untuk hobi. Misalnya, penjualan tanaman yang kian marak belakangan ini.

     

    Seperti kata orang bijak, ketika satu pintu tertutup akan terbuka pintu lainnya. Dengan berbagai penyesuaian, seperti transaksi minim kontak, penyediaan jasa pesan-antar, hingga penjualan di platform digital, usaha kecil dan menengah masih punya harapan untuk bertahan.  

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Ingin Jualan di Media Sosial? Kamu Wajib Baca Ini!
    majoo punya beberapa tips nih, agar kamu bisa memaksimalkan penjualan melalui media sosial. Yuk, disimak!
    Memaksimalkan Bisnis secara Optimal dengan Integrasi GoFood
    Ada banyak cara untuk memaksimalkan bisnis, salah satunya dengan melakukan integrasi GoFood. Wah, maksudnya bagaimana, tuh?
    Bagaimana Digital Marketing Bisa Membantumu Perluas Pasar?
    Saat ini merupakan era menarik bagi digital marketing. Berkat pemasaran digital, bisnis lebih mudah berkomunikasi dengan konsumen dan memperluas pasar.
    Mengapa Pelaku Usaha Perlu Memahami Karakter Gen Z?
    Mengapa pelaku usaha perlu mempertimbangkan karakter Gen Z dalam menjalankan operasional bisnis? Apa, sih, yang akan terjadi jika tidak dilakukan?