Table of Content

    Temukan Kebutuhan Konsumen Dengan 5 Cara Ini

    Setiap bisnis yang ingin maju, harus memahami kebutuhan konsumennya

    Memahami kebutuhan konsumen merupakan bagian yang sangat penting dari strategi pemasaran. Setiap produk atau jasa idealnya bermanfaat bagi konsumen. Kegunaan tersebut tidak akan tercapai, kecuali ada kebutuhan atau persoalan konsumen yang terselesaikan. Hal tersebut kerap dikenal dengan pain point.

     

    Biasanya, pain point terlihat dari kata kunci yang dicari oleh konsumen pada laman mesin pencari di internet. Namun, kamu juga tidak bisa terburu-buru menyimpulkan hanya berdasarkan kata kunci yang kerap dicari. Konsumen melakukan pencarian bisa saja karena baru didorong rasa ingin tahu, produk atau jasa tersebut sedang booming, dan lain sebagainya.

     

    Cara memahami kebutuhan konsumen

    Keputusan membeli umumnya terjadi ketika kesadaran tentang suatu persoalan berubah menjadi kebutuhan mendesak. Konsumen merasa pain point tersebut harus segera diselesaikan. Inilah calon pelanggan yang perlu kamu incar.

     

    Pertanyaannya, bagaimana kamu dapat mengetahui kebutuhan konsumen sejak awal? Di bawah ini, beberapa cara yang dapat kamu lakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan yang dimiliki konsumen. Sebelum akhirnya mengubah informasi tersebut menjadi strategi pemasaran.

     

    1. Mulailah dari yang kamu ketahui

    Strategi pemasaran pasti dimulai dengan informasi yang telah kamu ketahui. Tinggal menyusun informasi tersebut dalam bentuk persona pembeli.

     

    Secara sederhana, persona pembeli merupakan informasi tentang jenis pembeli ideal untuk produk atau jasa yang kamu tawarkan. Minimal kamu perlu memahami tiga hal, yaitu:

    • Siapakah calon pembeli yang kamu incar (industri, jabatan, lokasi, minat, dan karya)?

    • Persoalan seperti apa yang dimiliki oleh orang-orang tersebut?

    • Bagaimana produk atau jasamu akan digunakan untuk memecahkan masalah mereka?

     

    Membuat format persona pembeli memang tidak dapat mengidentifikasi kebutuhan pelanggan baru. Namun, cara ini dapat digunakan untuk memvalidasi prediksi persoalan konsumen dari waktu ke waktu. Dengan memiliki gambaran persona pembeli, kamu juga lebih mudah untuk melihat perubahan pola pembelian dan mengidentifikasi pain point baru yang muncul.

     

    2. Bertanyalah kepada konsumen!

    Memang tidak mudah untuk membuat konsumen menceritakan kebutuhannya melalui survei. Namun, makin bisnismu menunjukkan kehadirannya untuk menolong konsumen, maka mereka makin bersedia untuk terlibat di dalam survei.

     

    Kadang mungkin kamu perlu memberikan insentif atau reward bagi konsumen yang bersedia terlibat di dalam survei. Tidak masalah. Bagian terpentingnya adalah kamu dapat mengetahui apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Hal yang akan memotivasi konsumen untuk bertransaksi.

     

    Jangan abaikan kekuatan dari opini konsumen, bertanyalah kepada mereka!

     

    3. Berdiskusi dengan tim penjualan

    Umumnya, tim penjualan memiliki wawasan yang lebih luas tentang kebutuhan konsumen. Dibanding bagian lain di dalam bisnis, tim penjualan merupakan garda depan. Berada di lapangan, dekat dengan konsumen. Setiap kali konsumen memiliki persoalan, tim penjualan adalah orang pertama yang akan mendengarnya. Oleh karena itu, penting sekali untuk selalu berdiskusi dengan tim penjualan.

     

    Persoalan di dalam kepala konsumen cenderung berkembang perlahan. Dan bisa meledak tiba-tiba dengan komentar menuju ke arah yang sama. Untuk menghindari hal tersebut, lebih baik diadakan pertemuan rutin dengan tim penjualan untuk membahas observasi di lapangan.

     

    4. Mengamati media sosial

    Kini, hampir semua orang telah memakai media sosial. Orang menyampaikan keluhan atau mencari kebutuhan melalui media sosial. Berbagai tren juga dibicarakan di media sosial.

     

    Jadi, kamu dapat menangkap esensi kebutuhan konsumen dengan mengamati media sosial. Bahkan, kamu dapat melempar pertanyaan dan warganet cenderung menjawabnya dengan senang hati.

     

    5. Menghadiri konferensi atau gathering

    Tips terakhir ini mungkin paling relevan bagi B2B industry. Menghadiri konferensi bukan hanya dapat memberikan motivasi dan inspirasi, tetapi juga jejaring yang dapat berakhir menjadi pelanggan bisnis.

     

    Menariknya, dari konferensi tersebut, kamu memiliki banyak peluang untuk mempelajari kebutuhan masing-masing bisnis. Tentu saja sambil mengamati persoalan dari bisnis mana yang dapat diselesaikan oleh produk atau jasa milikmu.

    Upcoming Event

    Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

    Lihat semua event

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Meningkatkan Brand Exposure Online Shop Tanpa Gagal
    Brand exposure merupakan salah satu kegiatan dalam hal branding. Bagaimana cara meningkatkan brand exposure pada online shop?
    Wajib Tahu, 5 Trik Agar Bisnismu Gak Ambruk di Tengah Jalan!
    Memulai sebuah bisnis membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Tapi ngomongin soal mengelola bisnis? Wah, ini sudah another level sih!
    Ingin Mulai Bisnis Kuliner? Ini 5 Perlengkapan yang Wajib Kamu Punya!
    Bisnis kuliner belakangan makin jadi primadona, apalagi di tengah populernya platform penjualan online.
    5 Trik Tingkatkan Jualan Laris di eCommerce, Anti Gagal!
    Buat kamu yang sedang mempertimbangkan untuk melakukan ekspansi usaha dengan coba berjualan di marketplace, majoo punya beberapa tips ampuh yang bisa kamu coba. Yuk, simak!