Whatsapp
Chat 24 jam Hubungi Kami

Table of Content

    B2C adalah: Pengertian, Tipe, dan Contohnya

    Model penjualan B2C bersifat langsung, yaitu dari bisnis ke konsumen akhir.

    B2C atau Business to Customer adalah kependekan dari istilah business to consumer. Sebagian besar dari kamu yang berkecimpung di dunia bisnis mungkin sudah familier dengan istilah tersebut. 

    Model penjualan B2C sangat berbeda dengan model B2B atau business to business. Jika keduanya dibandingkan, B2C merupakan model bisnis yang lebih lazim, bahkan sangat banyak, kita jumpai di pasaran.

    Lalu, apa yang dimaksud dengan B2C? Simak penjelasannya di bawah ini!

    Pengertian B2C (Business to Customer)

    Kamu tentu pernah mengunjungi supermarket atau mal dan membeli barang tertentu. Atau mungkin kamu justru pelaku usaha yang membuka bisnis swalayan tersebut. Nah, dalam kasus tersebut, baik sebagai pembeli maupun penjual, kamu sebenarnya sedang terlibat dalam praktik B2C.

    B2C adalah penjualan produk atau jasa secara langsung dari bisnis ke konsumen akhir atau end user. Konsumen akhir sering kali diterjemahkan sebagai konsumen yang membeli barang untuk penggunaan pribadi.

    Dengan kata lain, tak ada perantara di antara perusahaan atau bisnis dan konsumen tersebut. Produk atau jasa disalurkan oleh bisnis kepada pelanggan secara langsung.

    Menilik pengertian B2C di atas, hampir sebagian besar transaksi di sekitar kita hadir dalam model B2C. Sebut saja, aktivitas konsumen makan di kafe atau restoran, berbelanja di pasar, membeli pakaian atau gadget di mal, semuanya termasuk ke dalam lingkup kegiatan B2C.

    Transaksi-transaksi di gerai tersebut tentu termasuk dalam praktik B2C konvensional. Bersamaan dengan berkembangnya internet dan masifnya transformasi digital, B2C pun dapat berbentuk transaksi online.

    Kini sudah banyak bisnis, termasuk UMKM, yang membuka online shop untuk menjangkau konsumen akhir secara langsung melalui platform online. Kehadiran e-commerce makin mempermudah dan membuka peluang bagi bisnis untuk menjalankan B2C secara online.

    Baca juga: Maksimalkan Promosi Produk UMKM Melalui e-Commerce!

    Karakteristik B2C (Business to Customer)

    Model B2C bisa dikenali dari karakteristiknya. Setidaknya, ada empat karakteristik B2C yang perlu kamu ketahui, antara lain:

    Akses Terbuka untuk Umum

    Model penjualan B2C bersifat terbuka dan sering kali tidak terbatas. Apa maksudnya? Setiap informasi produk atau jasa yang ditawarkan oleh bisnis akan tersebar di tengah masyarakat luas.

    Keterbukaan tersebut tentu penting bagi bisnis yang kegiatan penjualannya B2C karena pada prinsipnya bisnis tentu ingin bisa menjangkau dan menjual ke sebanyak-banyaknya konsumen.

    Transaksi Bersifat Sederhana

    Prosedur transaksi yang terjadi antara bisnis dan konsumen dalam model penjualan B2C bersifat sederhana. Jika dirangkum prosesnya hanyalah seputar konsumen mencari produk atau jasa yang mereka inginkan, bisnis menyediakan jasa atau produk tersebut, lalu konsumen membayarnya.

    Tidak ada term atau ketentuan transaksi yang rumit layaknya dalam transaksi antara perusahaan. Di samping itu, transaksi juga tak selalu terjadi berdasarkan relasi antara bisnis dan konsumen. 

    Dalam beberapa kasus, konsumen mungkin datang secara acak dan bertransaksi di suatu gerai yang bisa menyediakan kebutuhannya.

    Sesuai Permintaan atau On Demand

    Bukan rahasia lagi, permintaan memegang peranan penting dalam transaksi penjualan. Sebagai pengingat, demand atau permintaan adalah keinginan atau kemampuan konsumen membeli barang atau jasa dengan harga tertentu pada waktu tertentu.

    Sebagai model penjualan yang langsung berkaitan dengan konsumen, tentu salah satu karakter B2C ialah sesuai dengan permintaan konsumen.

    Kompetisi Ketat

    Memang semua sektor bisnis dengan model penjualan apa pun tak bisa terhindarkan dari persaingan. Namun, bisnis dengan model penjualan B2C berhadapan dengan kompetisi yang ekstra ketat.

    Pasalnya, produk atau jasa yang dibutuhkan oleh konsumen langsung umumnya memiliki angka permintaan yang tinggi. 

    Makin tinggi produk atau jasa yang dibutuhkan untuk kebutuhan pribadi akan mendorong banyak bisnis untuk menghadirkan barang atau layanan serupa. Akhirnya, kompetisi yang ketat pun tak terelakkan.

    Kini model penjualan B2C tak terbatas pada transaksi langsung di gerai, dapat pula berupa transaksi online.

    Tipe Business to Customer (B2C)

    Seperti telah disebutkan sebelumnya, kini model penjualan B2C tak hanya terjadi di gerai, tetapi dapat juga dilakukan secara online. Nah, baik transaksi konvensional maupun online, perusahaan dapat menerapkan beberapa tipe B2C. Adapun beberapa tipe tersebut, yaitu:

    • Direct Seller atau Penjual Langsung

    Direct seller atau penjual langsung merupakan tipe B2C yang paling umum. Dalam konteks ini, penjual yang dimaksud dapat berupa perusahaan besar atau usaha kecil.

    Media penjualan langsung dapat bervariasi, misalnya gerai fisik, toko online, dan lain-lain. 

    Tipe penjual langsung biasanya memproduksi sendiri produk dan menjualnya secara langsung, tanpa melalui perantara. Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh pun bisa lebih besar. 

    • Perantara

    Berbeda dengan penjual langsung, tipe perantara umumnya tidak memiliki produk sendiri. Tipe bisnis ini hanya menyediakan platform yang mempertemukan pemilik produk dan pembeli.

    Apabila perantara bersifat online, konsumen akan melihat dan membeli produk melalui platform perantara online tersebut. Sementara itu, pemilik produk atau produsen yang akan menyiapkan produk dan mengirimkannya kepada konsumen. 

    Mungkin kamu familier dengan istilah dopshipper. Dalam konteks tipe B2C, dropshipper termasuk ke dalam perantara online

    Baca juga: Membuka Potensi Pendapatan Baru dengan Model Usaha Dropship

    Perantara tersebut akan memperoleh keuntungan dari komisi penjualan. Pada transaksi konvensional mungkin perantara penjualan lebih dikenal dengan istilah makelar.

    • Berbasis Biaya

    Model transaksi berbasis biaya sebelumnya mungkin tak terlalu populer di Indonesia sampai berbagai layanan movie streaming masuk ke pasar Indonesia. Ya, benar sekali, model transaksi berbasis biaya mensyaratkan konsumen berlangganan untuk menikmati produk atau layanan.

    Dengan kata lain, tipe transaksinya didasarkan pada subscription. Selain perusahaan yang bergerak dalam bidang entertainment, model transaksi berbasis biaya juga banyak diterapkan oleh bisnis media.

    • Berbasis Komunitas

    Tipe berikutnya ialah tipe B2C berbasis komunitas. Seperti yang sudah kita ketahui, komunitas biasanya merupakan tempat orang dengan kesamaan minat, ketertarikan, atau hobi berkumpul.

    Komunitas terkait juga menjadi wadah untuk para anggotanya berbagi informasi. Ada komunitas fotografi, otomotif, traveling, dan lain-lain. Nah, keberadaan tersebut dapat menjadi peluang bagi bisnis yang model transaksinya didasarkan pada komunitas.

    Perusahaan bisa mencoba menjual produk atau jasa kepada komunitas yang minat serta ketertarikannya berkaitan dengan bisnis.

    • Berbasis Periklanan

    Terakhir, bisnis yang menjual produk kepada konsumen langsung dengan basis periklanan, misalnya e-commerce atau website

    Umumnya, perusahaan akan membuat berbagai konten menarik untuk meningkatkan minat pengunjung atau website traffic. Traffic yang tinggi tersebut akan dimanfaatkan oleh perusahaan untuk menjual slot iklan yang bisa diisi dengan informasi produk atau jasa dari penjual yang beriklan.

    Biasanya, semakin tinggi traffic, semakin mahal pula biaya iklan yang harus dikeluarkan untuk setiap slot yang tersedia.

    Contoh B2C (Business to Customer)

    Supaya kamu lebih memahami B2C, kami akan membagikan beberapa contohnya. Sebetulnya, tidak sulit melihat contoh B2C dalam keseharian kita. Usaha-usaha kecil seperti toko kelontong atau pedagang keliling pun termasuk B2C. 

    Banyak bisnis lain di sekitar kita yang mungkin kamu pun bersinggungan juga termasuk B2C, misalnya kafe atau restoran, bisnis ritel, bisnis laundry, dan berbagai toko online yang menjual keperluan pribadi konsumen.

    Contoh-contoh di atas termasuk tipe B2C yang menjual produk atau jasa secara langsung atau direct selling. Bagaimana dengan contoh dari tipe lain?

    Kamu mungkin familier dengan Netflix atau Disney+. Kedua layanan movie streaming tersebut merupakan contoh B2C berbasis biaya.

    Kelebihan dan Kekurangan B2C

    Luasnya pasar merupakan salah satu kelebihan B2C. Namun, selain besarnya potensi pasar, B2C juga memiliki kekurangan sekaligus kelebihan lainnya. Yuk, simak kelebihan dan kekurangan model penjualan yang satu ini!

    Kelebihan B2C

    • Penjual Bisa Berkomunikasi Langsung dengan Konsumen

    Komunikasi langsung dengan konsumen memberi peluang bagi bisnis untuk mengidentifikasi kebutuhan dan ekspektasi konsumen secara akurat. 

    • Kesempatan Memperoleh Database Pelanggan

    Karena dapat berkomunikasi secara langsung dengan konsumen, bisnis dengan model B2C berpeluang mendapatkan database pelanggan. Database pelanggan sangat bermanfaat bagi bisnis saat akan menyusun strategi atau kampanye pemasaran.

    • Potensi Pasar Sangat Besar

    Seperti telah dibahas sebelumnya bisnis dengan model B2C menyasar kebutuhan konsumen secara langsung. Maka dari itu, potensi pasarnya pun sangat besar, terlebih jika dibandingkan dengan bisnis yang hanya bertransaksi dengan bisnis atau perusahaan lainnya.

    Kekurangan B2C

    • Persaingan Sangat Ketat

    Pada poin sebelumnya telah dibahas bahwa salah satu kelebihan B2C ialah memiliki potensi pasar sangat besar. Namun, karena potensi atau peluang pasar yang besar tersebut, banyak sekali bisnis yang ingin turut terjun menyediakan produk atau jasa serupa. Akibatnya, kompetisi bisnis dengan model B2C sangat ketat.

    • Harus Menyediakan Infrastruktur

    Dari pembahasan sebelumnya, kamu tentu sudah memahami bahwa karakter utama B2C adalah menyerahkan produk atau jasa ke konsumen akhir secara langsung. Sehubungan dengan hal tersebut, bisnis perlu memikirkan cara produk sampai ke tangan konsumen dengan aman dan terjaga kualitasnya.

    Terlebih jika jangkauan bisnis sudah sangat luas, misalnya mencakup pasar global. Bisnis tentu harus menyediakan infrastruktur yang baik demi menjamin konsumen menerima produk dalam keadaan baik.

    Sampai sini, semoga kamu sudah memahami pengertian B2C, karakteristik, tipe, sampai contohnya. 

    Jika bisnismu juga termasuk ke dalam B2C, pastikan kamu sudah memanfaatkan digital tools yang dapat meningkatkan customer experience. Kalau belum, yuk cek di sini sekarang!

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Kwitansi adalah: Pengertian, Contoh, Format
    Kwitansi adalah bukti pembayaran yang sah dari sebuah transaksi. Dalam bisnis, ternyata ada berbagai jenis dan contoh kwitansi yang biasa digunakan.
    Kliring adalah: Pengertian, Mekanisme, Jenis, Contoh
    Kliring adalah metode pemindahan uang dari satu rekening ke rekening lain kepada yang berhak dan menunggu 2-3 hari kerja setelah proses kliring diajukan. 
    Kenalan dengan Cloud Computing dan Fungsinya Bagi Bisnis
    Dalam dunia bisnis, kehadiran cloud computing adalah sebuah gerakan peralihan ke sistem kerja yang lebih praktis, efisien, dan terkomputerisasi.
    Apa Iya Micro Influencer adalah Andalan Pemasaran Digital?!
    Bagi yang belum tahu, micro influencer adalah salah satu andalan untuk menjamin berhasilnya kegiatan pemasaran digital. Kok, bisa?! Simak, yuk!