Kenali Kapasitas Bisnis Sebelum Mengajukan Pinjaman Modal!



Sebelum kita masuk ke pokok bahasan, ada baiknya kita pahami dulu apa yang dimaksud dengan kapasitas. Secara harfiah, kapasitas adalah kemampuan pekerja, mesin, atau suatu organisasi untuk memproduksi barang dan jasa pada suatu periode tertentu. Kapasitas juga bisa berarti suatu  kemampuan terbaik dari seorang pengusaha, pemilik bisnis atau wirausahawan untuk memproduksi barang dan jasa guna memenuhi permintaan konsumen. 


Sedangkan yang dimaksud dengan kapasitas bisnis terbagi menjadi dua sudut pandang. Pertama, dilihat dari pandangan bisnis semata, kapasitas adalah jumlah output yang bisa dicapai oleh sebuah sistem selama periode waktu tertentu. Kedua, dilihat dari sudut industri jasa, kapasitas diartikan sebagai jumlah konsumen yang dapat ditangani selama beberapa waktu.


Mengenali kapasitas bisnis yang dimiliki penting adanya sebelum berani memutuskan untuk mengajukan pinjaman modal digital. Hal ini dikarenakan kapasitas dapat memengaruhi sebagian besar biaya tetap. Kapasitas juga memiliki fungsi sebagai tolak ukur bahwa permintaan dari konsumen dapat dipenuhi atau tidak, fasilitas yang ada akan berlebih atau tidak. Bila fasilitas terlalu besar, sebagian fasilitas akan menganggur dan membutuhkan biaya tambahan yang dibebankan pada produksi atau menjadi beban konsumen. 


Hal-hal tersebut otomatis akan berdampak pada kenaikan biaya. Dan sudah menjadi rahasia umum, bahwa bila sebuah UMKM memiliki biaya pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukan, maka kapasitas bisnisnya dianggap tidak bisa memenuhi persyaratan untuk pengajuan pinjaman modal digital. 


Karena bila sebuah UMKM sudah kewalahan dengan urusan pengeluarannya yang tidak stabil, maka bagaimana mungkin nantinya bisa membayar atau mengembalikan pinjaman modal yang diajukan? Bukannya membaik, hal ini ditakutkan malah akan memperburuk kondisi keuangan dalam sebuah UMKM. 



Mengenali kapasitas bisnis UMKM sebelum memutuskan untuk mengajukan pinjaman modal digital dapat dilakukan dengan beberapa tahap, antara lain: 

1. Pelajari dengan benar apakah bisnis UMKM milik kamu benar-benar membutuhkan pinjaman. Berutang yang kurang penting dan tidak benar-benar diperlukan maka sama halnya dengan menggali lubang untuk diri sendiri. 


2. Bila memang merasa kapasitas bisnis dalam hal permodalan kurang, coba cari jalan lain terlebih dulu. Kamu bisa mengecek anggaran yang ada. Mungkin kamu bisa melakukan pemotongan atau mengatur ulang pengeluaran dana untuk menutupi biaya modal. Menjual mobil inventaris mungkin memang merugikan, tapi itu lebih baik dari pembayaran bunga jutaan rupiah yang harus dibayar bila mengajukan pinjaman. 


3. Periksa ulang dan pastikan apakah kamu memiliki aset yang dapat digunakan untuk mendapatkan kembali modal yang hilang apabila seandainya kamu tidak bisa mengembalikan pinjaman beserta bunganya. Bila memang ternyata tidak punya, maka ada baiknya kamu memutuskan untuk tidak usah mengajukan pinjaman modal digital.  


4. Hal berikutnya yang bisa dilakukan adalah apakah bisnis UMKM milik kamu sudah bergabung ke digital marketplace di internet? UMKM yang menjalankan bisnisnya secara online lebih mudah mendapat pinjaman. Ini dikarenakan UMKM yang menjalankan bisnisnya secara online biasanya memiliki sistem rating atau penilaian dari konsumen. Jika mendapat rating yang baik, maka reputasi UMKM tersebut juga akan dinilai positif oleh lembaga keuangan. Reputasi yang baik akan memudahkan pemilik UMKM dalam mendapat pinjaman untuk mengembangkan usahanya.


5. Hal lain dalam mengenali kapasitas bisnis yang perlu kamu perhatikan adalah memahami kemauan pasar dan konsumen. Selama ini apakah UMKM milikmu sudah paham benar dengan apa yang diinginkan oleh konsumen? Apakah UMKM milikmu sudah berupaya maksimal dalam memenuhi kebutuhan pasar walau terganjal masalah pengadaan barang produksi karena minimnya modal? Jika jawabannya adalah iya, maka bisa dipastikan bila kamu mengajukan pinjaman modal digital, bisnis UMKM milikmu akan semakin mudah memenuhi permintaan konsumen. Begitu juga sebaliknya. 


6. Perhatikan lagi arus kas di keuangan UMKM milik kamu. Selain biaya produksi, kamu juga perlu melihat ulang biaya yang kamu perlukan untuk membayar gaji bulanan karyawan, sewa tempat produksi atau gudang, tagihan air, tagihan listrik, biaya memasarkan produk seperti iklan atau brosur, dan juga biaya perbaikan alat produksi. Beberapa pemilik UMKM memang mengajukan pinjaman modal digital untuk melancarkan arus kas mereka, tapi kalau memang dirasa masih belum memadai, kamu tidak perlu latah untuk ikut mengajukan pinjaman karena ujungnya hanya akan menjadi tambahan beban dalam bisnismu saja. 

Upcoming Event

Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

21 Januari 2022
SDM Kompeten, UMKM Kian Paten
Online
Lihat semua event

Download Majalah

Cover majalah wirausaha Indonesia
Lihat semua edisi

Related Article

Omnichannel Marketing: Definisi, Tips, dan Contohnya
Omnichannel marketing adalah strategi yang memungkinkan bisnis menemui target konsumen dengan pesan yang tepat, pada waktu yang tepat pula.
Mengapa Aplikasi POS Penting dalam Strategi Omnichannel?
Demi menghadirkan pengalaman menyeluruh, bisnis dapat menerapkan strategi omnichannel. Aplikasi POS akan mengimplementasikannya secara optimal.
Bisnis Online? Sumber Daya Fisik Apa yang Perlu Disiapkan?
Siapa bilang bisnis online tidak membutuhkan sumber daya fisik yang biasanya hanya dibutuhkan dalam bisnis yang dijalankan secara offline saja?
Permudah Kelola Bisnis dengan Aplikasi Integrasi Marketplace
Aplikasi integrasi marketplace adalah platform yang membantumu mengatur produk, stok, harga, sampai promosi di berbagai marketplace melalui satu dashboard.