Whatsapp
Chat 24 jam Hubungi Kami

Table of Content

    • Solusi
    • Knowledge
    • FMEA adalah Failure Mode and Effect Analysis, Apa Bagusnya?

    FMEA adalah Failure Mode and Effect Analysis, Apa Bagusnya?

    FMEA adalah kegiatan yang banyak berhubungan dengan riset.

    FMEA adalah failure mode and effect analysis, atau salah satu teknik yang kerap digunakan untuk menemukan sumber masalah dari sesuatu. Banyak pemilik usaha yang juga menggunakan teknik ini dalam pengembangan bisnisnya.

    Mengapa, sih, teknik ini banyak diminati? Seperti apa sebenarnya kinerja teknik FMEA ini sehingga banyak orang yang memutuskan untuk menggunakannya dalam pengelolaan serta pengembangan bisnisnya masing-masing?

    Daripada terlalu lama bertanya-tanya, bagaimana jika langsung saja kita bahas bersama-sama seluruh hal tentang FMEA! Mulai dari pengertiannya secara umum, pengertiannya menurut para ahli, contoh-contoh penerapannya dalam perusahaan, rumus penghitungannya, serta cara menghitung RPN!

    Yuk, langsung saja kita ulas!

    Pengertian FMEA

    Secara singkat, pengertian FMEA dapat dimaknai sebagai sebuah teknik analisis yang dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang mungkin dapat menjadi potensi masalah dalam proses produksi maupun hasilnya.

    Tentu ada banyak model analisis serupa dengan fungsi yang tak jauh berbeda, nah, kira-kira apa, dong, yang membedakan Failure Mode and Effect Analysis dengan analisis-analisis lainnya? Sederhana saja, FMEA berfokus pada analisis identifikasi efek sementara model-model analisis lain mungkin berfokus pada hal yang lain, misalnya saja potensi atau sumber masalahnya.

    FMEA kerap dijadikan upaya pencegahan dengan mengidentifikasi efek yang akan menjadi potensi masalah, bahkan sebelum masalah itu sendiri terjadi. Dengan demikian pemilik usaha pun dapat melakukan intervensi awal untuk menghindari masalah tersebut, atau menyiapkan rencana mitigasi untuk mengatasi masalah tersebut ketika terjadi.

    Dari pengertian FMEA di atas, apakah sudah bisa mulai membayangkan bagaimana model analisis berjalan? Jika belum, bagaimana jika kita simak pula pendapat para ahli terkait model analisis yang satu ini? Yuk!

    Pengertian FMEA Menurut Para Ahli

    Ada banyak sekali ahli di bidang bisnis yang mengeluarkan pendapatnya terkait Failure Mode and Effect Analysis. Dari sekian banyak ahli tersebut kita akan coba mengulas pendapat dari dua sosok, seorang pakar engineering dengan kredibilitas yang tak perlu ditanyakan lagi dan juga mantan gubernur di salah satu negara bagian di Amerika Serikat yang tergabung dalam American Society for Quality, sebuah organisasi dunia yang fokus pada jaminan mutu produk.

    Daripada berlama-lama, yuk, langsung saja kita ulas pengertian FMEA menurut para ahli berikut!

    • Roger D. Leitch

    Kerap mengeluarkan buku tentang analisis dan juga engineering, kepakaran Roger D. Leitch di bidang ini memang sudah tidak perlu diragukan lagi. Menurut pandangannya, FMEA dapat dimaknai sebagai berikut:

    FMEA adalah teknik analisis yang bila dilakukan dengan tepat di waktu yang tepat, akan memberikan nilai yang dalam membentuk proses pembuatan keputusan dari engineer selama perancangan dan pengembangan.

    Karena melibatkan engineer, pengertian menurut Roger D. Leitch ini sangat bisa diterapkan pada pengembangan produk di perusahaan-perusahaan berbasis teknologi seperti pengembangan platform marketplace, platform media sosial, atau aplikasi tujuan khusus yang mungkin biasa kita gunakan setiap hari. Namun, tidak menutup kemungkinan juga bahwa engineer yang dimaksud juga mencakup staf operasional produksi pada perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang lain.

    Dalam pengertian yang dimaknai oleh Roger D. Leitch, proses identifikasi terjadi pada saat pengembangan produk tengah berjalan. Engineer bisa saja menemukan sesuatu dan melaporkannya kepada pemegang keputusan untuk melakukan penyesuaian agar terhindari dari potensi masalah.

    • Lloyd Omdahl

    Dari Roger D. Leitch, mari kita beralih pada pengertian FMEA menurut para ahli yang lain, yaitu Lloyd Omdahl yang merupakan mantan gubernur ke-34 Negara Bagian North Dakota, Amerika Serikat. Sedikit berbeda, dalam bukunya Lloyd Omdahl menyatakan pengertian FMEA sebagai berikut:

    Failure Mode and Effect Analysis adalah teknik dalam engineering yang digunakan untuk menemukan, mengidentifikasi, dan menghilangkan moda kegagalan, masalah, potensi masalah dari sistem, desain dan/atau proses sebelum produk sampai ke pelanggan.

    Perbedaan pendapat antara Roger D. Leitch dan Lloyd Omdahl terletak pada cakupan analisis yang dilakukan. Apabila Roger D. Leitch berhenti pada pengembangan, Lloyd merasa FMEA masih dapat dilakukan sampai akhirnya hasil dari produk tersebut diterima oleh pelanggan.

    Selain itu, Roger juga menempatkan posisi pengambil keputusan di tangan engineer, sementara Lloyd sama sekali tidak menetapkan siapa yang akan mengambil keputusan dari hasil analisis yang telah dilakukan. Namun, secara proses, tidak ada banyak perbedaan dengan tujuan awal FMEA, yaitu mengidentifikasi adanya potensi masalah sebelum masalah tersebut terjadi.

     Berurusan dengan FMEA adalah pilihan yang tepat bagi pemilik usaha yang ingin selamat.

    Apa Fungsi FMEA bagi Bisnis?

    Setelah mengetahui pengertian Failure Mode and Effect Analysis, baik pengertiannya secara umum maupun pengertian menurut para ahli, kira-kira sudah terbayang mengapa metode yang satu ini kerap sekali digunakan di perusahaan-perusahaan industri? Apa, sih, fungsi dari FMEA bagi bisnis?

    Jawabannya cukup sederhana, lho! Seperti yang kita ketahui, setiap pemilik usaha tentu berusaha agar bisnis yang dijalankan menguntungkan. Sesuai dengan prinsip utama ekonomi, pelaku usaha harus dapat memperoleh pendapatan sebesar-besarnya dengan pengeluaran yang sekecil mungkin.

    Nah, yang tidak disadari banyak orang, khususnya yang memang tidak terjun langsung dalam industri produksi, proses produksi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bisnis sangat rentan untuk menghasilkan waste atau sisa yang harus dibuang atau secara otomatis tidak sengaja terbuang. Masalahnya, waste ini akan tetap menghasilkan biaya produksi, tetapi karena terbuang, waste tidak akan menghasilkan pendapatan.

    Apabila situasi itu terjadi, tentu perusahaan akan merugi, kan? Atau, jika pun tidak merugi, perusahaan tidak bisa memperoleh keuntungan secara maksimal. Oleh karena itu, FMEA kemudian difungsikan untuk mengidentifikasi setiap efek yang dapat menjadi potensi masalah pada saat proses produksi sehingga pemilik usaha dapat mengupayakan yang terbaik agar potensi masalah tersebut dapat diatasi.

    Harapannya, Failure Mode and Effect Analysis dapat meminimalkan waste yang terjadi pada setiap proses produksi dengan mengeliminasi gangguan yang mungkin terjadi. Dengan demikian, bisnis pun dapat menghasilkan produk yang berkualitas dengan pengeluaran yang lebih kecil.

    Apa Saja Contoh FMEA di Perusahaan Industri?

    Kita dapat menemukan dua contoh FMEA di Perusahaan Industri pada saat penerapan. Jangan bingung, secara tujuan dan proses, pelaksanaan kedua jenis FMEA ini kurang lebih sama, yang membedakan adalah fokus perhatiannya.

    Agar tidak makin bingung, langsung saja kita ulas bersama-sama keduanya!

    • PMFEA

    Huruf ‘P’ pada PMFEA merujuk pada ‘process’ atau proses, karena jenis FMEA yang satu ini memang dilakukan pada saat proses produksi terjadi untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin terjadi pada saat produksi massal dilakukan.

    Namun, harap diperhatikan, sekalipun mengacu ke proses produksi, FMEA sendiri pada dasarnya merupakan upaya pencegahan. Oleh karena itu, model FMEA harus sudah diselesaikan sebelum produksi massal dilakukan, sehingga penyesuaian terhadap proses produksi masih dapat dilakukan untuk mengatasi potensi masalah atau gangguan yang mungkin terjadi.

    Dengan demikian, pemilik usaha dapat menilik kembali rencana produksi yang akan dilakukan, dan melakukan penyesuaian sesuai rekomendasi yang dihasilkan oleh FMEA. Oleh karena itu, umumnya rekomendasi ini tidak boleh diberikan ketika proses produksi sudah berjalan, karena biaya untuk melakukan penyesuaian pada proses produksi yang telah berjalan bisa jadi akan lebih besar jika dibandingkan dengan potensi kerugian dari faktor masalah yang diidentifikasi.

    • DMFEA

    Contoh FMEA di Perusahaan Industri yang berikutnya adalah DMFEA. Jika ‘P’ pada PMFEA merujuk pada ‘process’, ‘D’ pada DMFEA merujuk pada ‘design’ karena fase desain merupakan fokus utama diterapkannya model FMEA.

    Terkadang orang berpikir proses produksi hanya terbatas pada kegiatan menyalakan mesin produksi dan mengoperasikannya untuk membuat produk jadi. Padahal sebenarnya ada proses panjang sebelum staf mulai menyalakan mesin produksi tersebut, lho, salah satunya adalah proses designing yang menjadi fokus DMFEA.

    Umumnya, tim riset perusahaan akan melakukan ideation atau perencanaan akan jadi seperti apa produk yang mereka hasilkan, kemudian barulah membuat prototype sesuai dengan hasil ideation yang nantinya akan menjadi cikal bakal produk. 

    Dengan kata lain, penghitungan DMFEA akan lebih jauh lagi karena perlu memikirkan potensi masalah yang mungkin terjadi, tak hanya saat produksi, tetapi ketika produk digunakan oleh pelanggan.

    Bagaimana Cara Menghitung RPN?

    Untuk mengetahui hasil FMEA, kita perlu mengetahui besarnya RPN terlebih dahulu. RPN merupakan singkatan dari Risk Priority Number yang digunakan untuk mengetahui tingkat risiko suatu potensi masalah. Pertanyaannya, bagaimana cara menghitung RPN?

    Mudah saja, kok! Coba gunakan rumus berikut:

    RPN = Severity x Occurrence and Detection

    Jadi, untuk dapat mengetahui nilai RPN, kita perlu tahu dulu seberapa serius efek gangguan tersebut, seberapa sering penyebabnya muncul, dan apa cara mendeteksi kegagalan yang digunakan. Seluruh komponen tersebut dikuantifikasikan agar dapat dikalikan untuk mengetahui nilai RPN.

    Bagaimana, sebenarnya cara menghitung RPN tidak terlalu sulit, kan?

    Menerapkan Hasil Perhitungan Rumus FMEA

    Nah, setelah mengetahui nilai RPN dari penghitungan rumus FMEA di atas, bagaimana menerapkannya dalam bisnis?

    Perlu diketahui bahwa komponen-komponen RPN akan ditampilkan dalam bentuk skor dari satu hingga sepuluh, dengan satu berefek paling positif sementara sepuluh berefek paling negatif. Artinya, apabila nilai severity yang diketahui memiliki skor sepuluh, artinya masalah yang akan terjadi dapat menyebabkan dampak yang sangat besar dan dapat berimplikasi hukum atau menyebabkan kecelakaan kerja.

    Nah, setelah dihitung dengan rumus FMEA, pemilik usaha dapat melihat skor yang dimiliki oleh tiap-tiap kategori dan dapat menentukan prioritas potensi masalah yang harus ditangani. Dengan demikian, FMEA adalah alat yang sangat berguna, kan?

    Ingin tahu apa lagi yang berguna? Tentu saja berlangganan aplikasi majoo dengan beragam fitur unggulannya yang dapat mempermudah pengelolaan bisnis. Yuk, langsung berlangganan layanan aplikasi majoo sekarang juga!

    Baca juga: Apa Itu Manufaktur? Apa yang Perlu Diperhatikan?

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Kwitansi adalah: Pengertian, Contoh, Format
    Kwitansi adalah bukti pembayaran yang sah dari sebuah transaksi. Dalam bisnis, ternyata ada berbagai jenis dan contoh kwitansi yang biasa digunakan.
    Kliring adalah: Pengertian, Mekanisme, Jenis, Contoh
    Kliring adalah metode pemindahan uang dari satu rekening ke rekening lain kepada yang berhak dan menunggu 2-3 hari kerja setelah proses kliring diajukan. 
    Kenalan dengan Cloud Computing dan Fungsinya Bagi Bisnis
    Dalam dunia bisnis, kehadiran cloud computing adalah sebuah gerakan peralihan ke sistem kerja yang lebih praktis, efisien, dan terkomputerisasi.
    Apa Iya Micro Influencer adalah Andalan Pemasaran Digital?!
    Bagi yang belum tahu, micro influencer adalah salah satu andalan untuk menjamin berhasilnya kegiatan pemasaran digital. Kok, bisa?! Simak, yuk!