Whatsapp
Chat 24 jam Hubungi Kami

Table of Content

    • Solusi
    • Knowledge
    • Pivot adalah: Strategi, Tips, dan Waktu Pivot yang Tepat

    Pivot adalah: Strategi, Tips, dan Waktu Pivot yang Tepat

    Perubahan dalam sebuah kultur perusahaan adalah niscaya dan pivot mungkin harus dilakukan agar bisnis dapat diselamatkan dari keterpurukan.

    “Wah! Kabarnya Pak Mamat mau pivot, tuh! Keputusan berani.”

    “Pivot? Tanding di mana? Emang dia pemain basket?”

    “Bukan istilah pivot dalam permainan bola basket, bro! Ini istilah dalam bisnis. Tau, nggak?”

    “Tolong kasih pencerahan, bro.”

    Nah, Majoopreneurs! Sepertinya masih banyak orang yang belum tahu istilah pivot dalam bisnis ini, ya? 

    Kalau kamu merasa bisnis yang kamu jalani saat ini terasa kurang maksimal dalam hal menghasilkan keuntungan meski sudah mencoba banyak cara, mungkin pivot adalah strategi yang bisa kamu gunakan untuk bisa membangkitkan usaha kamu, loh.

    Pivot adalah melakukan perubahan strategi untuk mengarahkan bisnis ke situasi yang menguntungkan atau diinginkan. 

    Mungkin kamu belum tahu juga, bahwa beberapa bisnis besar di seluruh dunia juga sudah ada yang pernah melakukan strategi ini. Ternyata, perusahaan sebesar Starbucks pun pernah mencoba strategi ini dan mereka berhasil. 

    Apa rahasianya? Bagaimana cara melakukan pivot dalam bisnis? Kapan kita harus pivot? Semua pertanyaan itu akan majoo coba jawab pada artikel kali ini, ya.

    Baca juga: 8+ Contoh Bisnis Digital yang Meraup Keuntungan

    Apa Itu Pivot Dalam Bisnis?

    Pivot dalam bisnis adalah strategi atau upaya mempertahankan atau memajukan suatu usaha dengan mengubah arah bisnis tersebut. Pada umumnya strategi pivot diambil ketika perusahaan berada dalam keadaan sulit berkembang. 

    Dilansir dari laman forbes, pivot adalah suatu perubahan arah bisnis. Biasanya, strategi ini terjadi ketika bisnis kurang berkembang dengan baik karena produknya tidak mampu memenuhi kebutuhan yang ada di pasar. Kondisi bisnis yang seperti ini tentunya tidak bisa berjalan untuk jangka waktu yang lama.

    Untuk itu, pivot adalah suatu strategi yang dapat kamu lakukan untuk bisa menyelamatkan perusahaan kamu. Saat melakukan strategi ini, artinya kamu harus memulai bisnis dari awal. Namun, banyak perusahaan besar telah berhasil melakukan ini. Jadi jangan takut jika kamu memang merasa perlu melakukannya.

    Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut. Misalnya, produk tidak dapat bersaing di pasar dan sebagainya.

    Kenapa pivot terkadang diperlukan di dunia bisnis? Pivot dalam bisnis adalah perubahan strategi yang dilakukan ketika perusahaan kurang berkembang dan dikhawatirkan tidak bisa bertahan dalam waktu lama. Sehingga pivot bertujuan agar usaha tersebut dapat kembali meraih keuntungan.

    Waktu Pivot yang Tepat 

    Di bawah ini adalah saat-saat bagi sebuah perusahaan menentukan waktu pivot yang tepat bagi bisnisnya. 

    • Performa Bisnis Stagnan dan Tidak Bisa Berkembang. 

    Perusahaan dapat melakukan pivot ketika terjebak dalam situasi dimana tidak ada lagi ruang tersisa untuk tumbuh. 

    Misalnya basis pelanggan tidak meningkat, pendapatan stagnan untuk jangka waktu yang lama, dan peningkatan pengeluaran di marketing tidak berdampak pada peningkatan pelanggan baru dan mempertahankannya. 

    • Fokus Pasar Sudah Tidak Sesuai dengan Core Value atau Tujuan Bisnis 

    Pivot juga seringkali terjadi ketika pendiri bisnis menyadari bahwa fokus pelanggan mereka tidak sejalan dengan nilai yang mereka miliki. 

    Menjual produk yang berbeda dengan kebutuhan pasar inilah yang bisa menjadi alasan lain perusahaan dapat melakukan pivot. 

    • Butuh Beradaptasi dengan Perubahan dan Perkembangan Pasar Bisnis

    Perusahaan, terutama para startup diharapkan dapat gesit dalam melakukan pendekatan ke pasar. Ini berarti perusahaan juga dituntut untuk jeli beradaptasi dalam perubahan terutama yang berkaitan dengan pelanggan. Untuk mencapai hal ini tak jarang pivot pun dianggap sebagai salah satu jalan keluar.

    • Terjadi Konflik Internal di Dalam Perusahaan. 

    Pastinya lumrah, ya, jika di dalam perjalanan sebuah perusahaan ada masalah dan argumen dalam tim. Namun ketika anggota tim mulai kehilangan semangat menjalani hal yang sedang mereka bangun, maka ini bisa menjadi alasan perusahaan untuk melakukan pivot.

    • Lakukan Pivot di Market yang Sudah Ada

    Ketika kamu sudah melakukan pivot di dalam target pasar yang lama, kemungkinan besar strategi tersebut tidak akan berhasil karena kamu hanya akan bergerak dalam area yang sama tanpa adanya pembaruan informasi maupun perluasan segmen konsumen. Di saat inilah, kamu perlu melakukan pivot agar dapat menemukan segmen pasar yang baru untuk digarap dan dikembangkan.

    • Selalu Dikalahkan Kompetitor

    Persaingan antarperusahaan apalagi jika kamu masuk ke dunia startup itu sengit. Ini berarti bisa jadi bisnismu akan dikalahkan oleh perusahaan lain yang berhasil mendominasi. Dalam hal ini, tak jarang perusahaan harus melakukan pivot untuk mengubah produk, layanan atau mengubah strategi penjualan demi mengalahkan pesaing. 

    • Hendak Berinovasi Membuat Produk Baru 

    Model bisnis pivot ini adalah yang paling ekstrem. Dalam hal ini, kamu sudah merelakan bisnis yang lama agar dapat mengeksplorasi sesuatu yang sama sekali baru atau berbeda.

    Ketika kamu memutuskan untuk melakukan inovasi baru, ada baiknya untuk mempertimbangkan langkah menutup perusahan yang sekarang dan menggunakan uang yang tersisa untuk mendanai bisnis yang baru.

    • Reposition Product

    Terkadang ada salah satu elemen dalam produk yang memiliki potensi untuk mendapatkan target market yang lebih besar. Ketika menghadapi situasi ini, ada dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk menentukan strategi bisnis yang baru, yaitu:

    1. Meluncurkan produk atau layanan baru dengan tetap mempertahankan bisnis yang lama, atau
    2. Memulai dan meluncurkan bisnis yang benar-benar baru lalu menutup bisnis yang lama.

    Coba kamu cek arus kas keuangan perusahaan sebelum memilih keputusan pivot di atas. Jika bisnis yang lama masih menguntungkan dan jumlah pelanggan tumbuh terus secara konsisten maka kamu dapat menjaganya agar tetap beroperasi.

    Cara Menjalankan Strategi Pivot 

    Majoopreneurs, terkadang tujuan perusahaan bisa berada di dalam suatu kondisi yang tidak selamanya berjalan sesuai rencana. Perubahan tidak selalu buruk terkadang justru bisa menjadi jalan keluar untuk memajukan usahamu. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah pivot bisnis. 

    Bagaimana caranya? Beberapa cara menjalankan strategi pivot yaitu: 

    • Lakukan riset mendalam dan analisis untuk memahami masalah yang sedang dihadapi perusahaan.
    • Jika masalah terjadi karena kesalahan dalam targeting pelanggan sehingga produk tidak laku fokus pada perubahan jenis atau fungsi produk bisnismu. 
    • Lebih fokus menganalisis perkembangan pasar dan membidik target pasar yang paling cocok dengan bisnismu.
    • Pelajari kompetitor bisnismu dan segera berinovasi untuk menghasilkan produk yang lebih baik.

    Kebutuhan berinovasi memperbaiki kualitas produk adalah salah satu tujuan pivot yang harus diketahui oleh para investor.

    Contoh Perusahaan yang Melakukan Pivot

    Di bawah ini adalah beberapa contoh pivot bisnis perusahaan yang berhasil mencapai kesuksesan dengan melakukan pivot adalah:

    1. Instagram 

    Saat ini instagram dikenal sebagai salah satu media sosial yang populer. Sebelum menjadi seperti sekarang, Instagram sebetulnya adalah prototipe sederhana yang dibangun Kevin Systrom sambil belajar programming. 

    Pada awalnya, Instagram yang dikenal sebagai Burbn yang memiliki fitur check-in, opsi unggah foto dan deretan fungsi lainnya. Namun, Systrom dan co-founder Mike Krieger merasa aplikasi ini masih terlalu berantakan. 

    Mereka pun memutuskan untuk mengurangi fiturnya hanya menjadi fitur unggah, berkomentar dan like. Aplikasi ini pun berganti nama menjadi Instagram seperti sekarang. 

    2. Slack 

    Pendiri Slack bernama Stewart Butterfield dikenal sebagai seorang "pivoters" yang sukses. Setelah menjual Flickr, perusahaan Butterfield bernama Tiny Speck mengembangkan game bernama Glitch yang diluncurkan pada tahun 2011. 

    Pada tahun 2012, Butterfield menyatakan konsep Gitch tidak layak. Namun, platform komunikasi internal untuk berkomunikasi antara kantor cabangnya di AS dan Kanada ini ternyata dilihat memiliki peluang. Akhirnya platform komunikasi itu diluncurkan dengan nama Slack pada tahun 2014 dan berhasil menjadi unicorn pada tahun yang sama. 

    3. YouTube 

    Sebelum populer seperti sekarang, YouTube bukanlah tempat untuk kamu bisa mencari banyak video yang lucu dan tengah naik daun. 

    Apakah kamu tahu bahwa YouTube awalnya adalah situs kencan yang memungkinkan para penggunanya mengunggah video tentang diri mereka untuk membicarakan apa saja yang mereka inginkan dalam pasangan? 

    Namun saat itu hanya sedikit orang yang memanfaatkan fitur ini, sehingga pendiri YouTube merombaknya lalu melakukan pivot dan membiarkan semua penggunanya untuk mengunggah video apa pun yang mereka inginkan. 

    4. Netflix 

    Sama seperti YouTube, pada awalnya Netflix bukanlah platform streaming konten video. Perusahaan ini awalnya mengoperasikan layanan pesan antar untuk DVD yang disewakan. 

    Seiring meningkatnya permintaan akan konten digital, Netflix pun tidak hanya mulai menawarkan akses kepada film dan acara TV secara online, tapi juga mulai memproduksi program aslinya sendiri. 

    5. Twitter 

    Twitter diluncurkan pada tahun 2005 dengan nama Odeo, sebuah platform untuk menemukan dan berlangganan podcast. Namun Odeo pun memutuskan untuk melakukan pivot. Tapi, jadi apa, ya? Karyawan perusahaan diberikan waktu dua minggu untuk mencari ide baru. 

    Saat itu co-founder Twitter, Jack Dorsey yang pertama memperkenalkan ide untuk menciptakan platform microblogging yang membuat penggunanya dapat membagikan dan membaca update status secara real-time

    Twitter sendiri kini tidak hanya digunakan untuk berbagi pembaruan status, tapi sekaligus menjadi platform untuk banyak hal seperti jurnalisme warga. 

    Tips Melakukan Pivot

    Berikut ini beberapa cara efektif untuk melakukan pivot agar perubahan yang dilakukan bisa berhasil sesuai yang diharapkan.

    1. Cari Jalan Keluar dari Masalah

    Sebelum mulai pivot, tentunya kamu harus tahu permasalahan terbesar yang sedang dihadapi oleh perusahaan.

    Misalnya masalah utama yang dihadapi adalah produk yang tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen. Maka, perbanyak waktu untuk melakukan riset mengenai hal yang konsumen inginkan.

    Tentunya kamu harus paham bahwa kebutuhan pelanggan tidak akan selalu sama. Jadi, riset secara berkala perlu dilakukan agar bisa selalu paham dengan apa yang mereka inginkan.

    2. Tentukan Segmentasi Pasar yang Tepat

    Berikutnya yang harus dilakukan agar pivot bisa efektif dan berhasil adalah dengan memilih segmentasi pasar yang tepat.

    Ada beberapa alasan sebuah produk bisa kurang laku. Selain karena produk tidak sesuai keinginan konsumen, kemungkinan produkmu dijual ke pasar yang salah.

    Menurut Business, jika ada kesalahan dalam pemilihan segmentasi pasar maka tidak perlu mengubah produk. Kamu hanya perlu mencari tahu segmen pelanggan yang tepat untuk menjual produk tersebut.

    3. Ciptakan Produk Berkualitas

    Menciptakan produk yang lebih baik dari kompetitor memang bukanlah hal yang mudah. Namun pahamilah bahwa produk yang terbaik di industrinya pasti akan lebih menjual.

    Sebaik apa pun pelayanan untuk pelanggan yang dimiliki oleh perusahaan, tapi jika produk dianggap kurang baik pasti tetap akan membuat mereka kecewa.

    Itulah sebabnya dalam proses pivoting sangat diperlukan pemahaman yang mendalam terhadap produk yang dimilikinya.

    4. Ajak Konsumen Mencoba Produk Prototipe

    Setelah menyiapkan suatu produk baru, kamu bisa segera menyiapkan strategi untuk memasarkannya. Kamu dapat memanfaatkan konsumen yang sudah loyal untuk mencoba produk baru itu lebih dahulu.

    Tawarkan beberapa keuntungan bagi pelanggan loyal yang mau mencoba produk baru. Sekaligus meminta feedback dari produk tersebut untuk mengetahui kelayakannya sudah sesuai harapan agar bisa dilempar ke target pasar.

    5. Libatkan Investor

    Saat melakukan proses pivoting, kamu harus memberikan informasi kepada para investor. Menurut Inc, saat ada perubahan pada strategi bisnis perusahaan sebaiknya informasikan hal tersebut kepada seluruh tim, dewan direksi, dan pemegang saham setidaknya 3-6 bulan sebelumnya.

    Pivot dalam startup merupakan langkah yang besar sehingga diperlukan juga pertimbangan dari para investor.

    Nah, agar kamu bisa meyakinkan pihak investor bahwa pivot adalah ide terbaik dan tidak ada penolakan dari mereka, selalu persiapkan rencana yang detail serta ide-ide revolusioner yang dapat membuat proses tersebut berhasil.

    Baca juga: Stakeholder adalah: Pengertian, Fungsi, dan Jenis

    Kesimpulan

    Ada dua faktor utama yang memberi alasan kuat bagi bisnis untuk melakukan pivot, yaitu karena adanya faktor internal dan eksternal.

    Faktor internal seperti turnover karyawan dalam jumlah besar, penurunan performa bisnis, dan kesulitan mencapai tujuan.

    Sementara, faktor eksternal adalah perubahan kondisi atau tren di pasar, turnover investor, dan perubahan kebutuhan konsumen.

    Jika kamu menerapkan strategi dan tips pada artikel di atas, semoga langkah pivot yang kamu ambil bisa menjadi titik balik suksesnya bisnismu. Baca juga artikel lain seputar bisnis di blog majoo, ya!

    Pertanyaan Terkait

    • Menentukan waktu yang tepat untuk melakukan pivot tidak mudah. Namun demikian, berikut ini merupakan waktu-waktu pivot diperlukan: (1) performa bisnis stagnan dan tidak bisa berkembang, (2) fokus pasar sudah tidak sesuai dengan core value atau tujuan bisnis, (3) butuh beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan pasar bisnis, (4) terjadi konflik internal di dalam perusahaan, (5) lakukan pivot di market yang sudah ada, (6) selalu dikalahkan kompetitor, (7) hendak berinovasi membuat produk baru, (8) reposition product.
    • Pivot dalam bisnis adalah strategi atau upaya mempertahankan atau memajukan suatu usaha dengan mengubah arah bisnis tersebut. Pada umumnya strategi pivot diambil ketika perusahaan berada dalam keadaan sulit berkembang.
    • Pivot dalam bisnis adalah perubahan strategi yang dilakukan ketika perusahaan kurang berkembang dan dikhawatirkan tidak bisa bertahan dalam waktu lama. Sehingga pivot bertujuan agar usaha tersebut dapat kembali meraih keuntungan.

    Upcoming Event

    Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

    Lihat semua event

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Quick Ratio adalah: Kelebihan dan Kekurangannya
    Quick ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas jangka pendek suatu perusahaan. Apa saja kelebihan dan kekurangan quick ratio?
    Newsletter adalah: Definisi, Manfaat, dan Tips Newsletter
    Newsletter adalah tools yang dapat menjembatani perusahaan dengan pelanggan untuk berbagi informasi penting dan menarik terkait perusahaan secara rutin.
    Benarkah Termin adalah Istilah untuk Cicilan atau Uang Muka?
    Termin adalah sistem pembayaran dengan jangka waktu berdasarkan kesepakatan, atau terkait syarat yang telah disepakati saat akad jual secara kredit.
    Payback Period Adalah: Dari Rumus Sampai Contohnya
    Sederhananya, pengertian payback period adalah jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi yang telah dikeluarkan.