Whatsapp
Chat 24 jam Hubungi Kami

Table of Content

    • Solusi
    • Knowledge
    • Jangan Abaikan Tanda-tanda Workaholic dan Dampak Buruknya!

    Jangan Abaikan Tanda-tanda Workaholic dan Dampak Buruknya!

    Rajin bekerja sangat bagus untuk memotivasi diri sendiri dan orang lain. Namun menjadi workaholic justru mengganggu kehidupan dan kesehatan.

    Apakah kamu pernah dalam situasi ini atau melihat melihat temanmu begitu rajin dalam bekerja? Datang paling awal dan pulang paling terakhir? Inikah yang disebut “gila kerja”? Kamu mungkin beranggapan bahwa temanmu atau justru kamu sendiri sedang bekerja keras saking semangatnya. Bisa jadi temanmu atau kamu adalah seorang workaholic

    Workaholic adalah istilah yang biasa ditujukan kepada orang yang kecanduan bekerja. Apakah kamu sudah mengetahui apa itu workaholic? Mungkin selama ini kamu menganggap bahwa workaholic adalah sebutan untuk orang yang bekerja keras saja. Benarkah?

    Bekerja memang jadi salah satu cara untuk mengembangkan dan memaksimalkan potensi diri. Namun, dalam situasi tertentu, justru banyak orang jadi terobsesi dengan pekerjaannya.

    Baca juga: Perhatikan Hal Ini Sebelum Tanda Tangani Perjanjian Kerjamu! 

    Apa Arti dari Kata Workaholic?

    Merujuk laman American Psychology Association, workaholism adalah suatu kondisi dan situasi ketika seseorang merasakan paksaan atau kebutuhan dari dalam dirinya untuk terus-menerus bekerja yang tak bisa dikendalikan. 

    Sederhananya, mereka merasa adanya kecanduan untuk terus-terusan bekerja yang tercipta dalam diri mereka sendiri, bukan karena faktor eksternal lain.

    Jadi, apa itu workaholic? Nah, workaholic adalah istilah yang ditujukan untuk mereka yang mempunyai kecanduan untuk terus bekerja atau workaholism. Sebagian besar orang banyak yang menyebut istilah workaholic sebagai orang yang gila kerja.

    Kecanduan kerja, atau gila kerja, atau yang lebih dikenal dengan workaholism pertama kali digunakan untuk mendeskripsikan kebutuhan yang tidak terkendali untuk terus bekerja. Orang yang disebut dengan workaholic adalah seseorang yang memiliki kondisi ini.

    Terdapat banyak sekali faktor yang membuat seseorang menjadi workaholic, tapi paling banyak alasan dari mereka adalah agar bisa lari dari masalah yang saat itu sedang dihadapi.

    Biasanya, mereka akan menenggelamkan diri mereka dalam pekerjaan, sehingga mereka kadang kala lupa bahwa hidup bukan hanya untuk melakukan pekerjaan.

    Sebagian besar masyarakat banyak yang menyamakan workaholic dengan pekerja keras, padahal keduanya memiliki arti yang berbeda.

    Salah satu perbedaan antara keduanya adalah faktor perasaan saat bekerja. Seorang pekerja keras umumnya akan menghabiskan banyak waktu untuk bekerja karena memang mereka senang melakukannya. Sedangkan seorang workaholic lebih cenderung tidak begitu senang dengan pekerjaannya.

    Nyatanya, para workaholic lebih memilih bekerja karena adanya dorongan dari dalam diri yang seolah-olah memaksa mereka untuk terus melakukan pekerjaan.

    Mengapa Orang Bisa Menjadi Workaholic?

    Sebuah penelitian menemukan bahwa 7,8% orang di dunia ini tergolong dalam kategori pecandu kerja atau workaholic. Orang-orang tersebut lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja atau bisa dikatakan melebihi jam normal.

    Dikutip dari Inc.com, perbedaan antara workaholic dengan pekerja keras bisa dilihat dari aktivitas yang mereka lakukan. Workaholic adalah mereka yang bekerja berjam-jam, seringkali pada akhir pekan, dan melalui waktu liburan mereka. Mereka juga bisa bekerja selama 12 hingga 14 jam sehari. Selain itu, mereka hanya berfokus pada pekerjaan dan tidak mempedulikan hal yang lain. 

    Para pecandu kerja ini mungkin ‘memanfaatkan’ pekerjaan mereka untuk mengurangi rasa bersalah dan cemas karena masalah tertentu. Gila bekerja juga bisa membuat seseorang meninggalkan hobi, olahraga, hingga hubungannya dengan orang-orang terdekat.

    Kecanduan kerja jadinya seburuk itu? Kecanduan terhadap kerja masih bisa dilihat sisi positifnya, tidak selalu dianggap jadi masalah. Kerja yang berlebihan terkadang bisa dihargai secara finansial maupun budaya. Kecanduan kerja bisa menjadi masalah jika sudah menimbulkan masalah dengan cara yang sama dengan kecanduan lainnya.

    Lalu mengapa ada istilah workaholic? Sebenarnya istilah ini muncul dari kalangan awam, bukan medis. Workaholic dianggap sama seperti alcoholic, yaitu orang yang kecanduan alkohol. Selain itu, kecanduan kerja juga tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang normal karena bisa menimbulkan beberapa masalah pada diri workaholic.

    Perasaan candu dan kebutuhan untuk terus bekerja yang tidak kenal waktu ini nyatanya bisa berakibat buruk untuk kesehatan mental dan fisik.

    Bersumber dari laman Lifehack, workaholic bisa menimbulkan rasa depresi, cemas berlebih, insomnia, penyalahgunaan obat, hingga risiko penyakit jantung.

    Apa Saja Tanda-tanda Workaholic?

    1. Sering merasa belum puas dengan pekerjaan yang dilakukan

    Biasanya workaholic merasa waktu yang mereka miliki tidak cukup bagi pekerjaan yang sedang dilakukan. Mereka juga memikirkan cara agar bisa menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya untuk bekerja.

    Misalnya saja, menggunakan waktu istirahat untuk mengerjakan tugas, sampai melupakan kebutuhan untuk makan siang. Bahkan sesampainya di rumah, mereka masih merasa harus melakukan pekerjaannya. 

    Workaholic merasa tidak puas dengan waktu kerja yang diberikan kantor atau perusahaan. Kondisi paling parahnya mereka bahkan menggunakan waktu yang seharusnya untuk istirahat sebagai peluang untuk bekerja.

    2. Keseimbangan yang buruk antara kehidupan pribadi dan pekerjaan

    Workaholic tidak memiliki work life balance yang baik. Hampir seluruh hidupmu kamu fokuskan hanya untuk bekerja, sehingga hal-hal di luar urusan pekerjaan seperti hobi, liburan, dan keluarga bukan menjadi prioritas. Hal ini bisa mengakibatkan buruknya hubunganmu dengan keluarga bahkan diri sendiri.

    3. Workaholic merasa tidak nyaman ketika tidak bekerja

    Seorang workaholic juga merasa tidak nyaman ketika mereka tidak bekerja. Hal ini bisa disebabkan banyak hal, seperti merasa tidak produktif atau tidak bisa menjalankan tanggung jawab. Selain itu, meninggalkan pekerjaan menyebabkan mereka cemas dan gelisah, karena tindakan bekerja memberi mereka kenyamanan dan stabilitas. 

    4. Tidak ada ketertarikan selain urusan pekerjaan 

    Berkaitan dengan work life balance, seorang workaholic biasanya tidak memiliki ketertarikan selain dengan hal pekerjaan. Mereka tidak memiliki hobi atau hal-hal yang disukai sebagai pengisi waktu luang. Motivasi mereka hanya hanya pekerjaan. Padahal hobi dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan dan dapat mengistirahatkan pikiran dari berbagai urusan pekerjaan.

    5. Pola tidur berantakan 

    Bukan akibat deadline ataupun permintaan atasan yang banyak, tetapi workaholic merasa sulit tidur karena merasa pekerjaan tersebut harus diselesaikan secepat mungkin. Padahal tenggang waktu yang kamu miliki sangatlah panjang. 

    Perasaan tidak puas, gelisah, dan tidak nyaman juga membuat workaholic tidak bisa untuk tidur nyenyak. Namun, penting untuk diketahui bahwa tidur merupakan aktivitas istirahat paling utama dan tentunya sangat dibutuhkan oleh tubuh dan mental. 

    6. Mulai mengabaikan kondisi kesehatanmu

    Inilah tanda paling berbahaya dari workaholic yang harus segera kamu hindari. Kamu mulai makan secara tidak teratur, melewati sarapan, hingga begadang. Kamu juga berusaha agar bekerja setiap saat. 

    Berbagai penyakit mengintai kamu setiap saat hingga kamu bisa saja tiba-tiba tumbang ketika bekerja. Dikutip dari laman HSE University, bahwa workaholic atau kecanduan kerja dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik seperti depresi, kecemasan dan gangguan tidur. 

     

    Kelelahan mental dan fisik akibat menjadi seorang workaholic dapat dihindari dengan menerapkan work-life balance dan dukungan dari perusahaan. 

    Dampak Negatif Workaholic

    Menjadi workaholic berdampak negatif untuk kehidupanmu, Majoopreneurs.

    1. Mengganggu Kesehatan Mental

    Terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bekerja tak hanya mengganggu kekuatan fisik, namun juga memicu gangguan tidur, meningkatkan kecemasan, hingga depresi karena tidak cukup beristirahat.

    2. Menyebabkan Stres

    Terlalu banyak bekerja dapat menyebabkan kamu kelelahan baik secara fisik maupun mental. Akibatnya, keseimbangan hormon dalam tubuh pun terganggu sehingga jadi mudah stres.

    3. Kurang Nutrisi

    Beberapa workaholic bahkan mengorbankan jam makannya untuk bekerja. Mereka hanya mengonsumsi camilan sambil menyelesaikan pekerjaan. Hal ini menyebabkan tubuh kekurangan nutrisi dan tentu saja merupakan pola hidup tidak sehat.

    Baca juga: Apakah Benar Lembur adalah Budaya yang Harus Dilestarikan?

    Seperti Apa ciri-ciri Workaholic?

    Berikut beberapa ciri workaholic yang dapat kamu kenali:

    • Meningkatnya kesibukan tanpa peningkatan produktivitas.
    • Terobsesi untuk bekerja lebih banyak, lebih lama, dan lebih sibuk.
    • Menghabiskan lebih banyak waktu bekerja daripada yang kamu diinginkan.
    • Bekerja secara berlebihan untuk mempertahankan harga diri.
    • Bekerja untuk mengurangi perasaan bersalah, depresi, cemas, atau putus asa.
    • Mengabaikan saran atau permintaan dari orang lain untuk mengurangi pekerjaan.
    • Memiliki masalah pribadi dengan keluarga, pasangan, atau teman dekat karena kesibukan pekerjaan.
    • Memiliki masalah kesehatan yang muncul akibat stres karena pekerjaan atau karena telah bekerja berlebihan.
    • Menggunakan pekerjaan sebagai cara ‘pelarian diri’ karena suatu masalah.
    • Merasa tertekan kalau tidak bekerja.
    • Kamu akan ‘kambuh’ bekerja secara berlebihan setelah kamu mencoba mengurangi atau menghentikan aktivitas pekerjaan.

    Kesimpulan

    Salah satu contoh workaholic yang jelas terlihat adalah datang di kantor paling pagi dan pulang dari kantor paling akhir. Kebiasaan ini biasanya diawali dengan anggapan bahwa tiba di kantor lebih awal akan membuat kamu lebih fokus. 

    Ada pula yang beranggapan bahwa pulang paling akhir dari kantor berguna untuk mengatur agenda pada keesokan harinya. Meski begitu, kebiasaan buruk ini sebaiknya dihindari karena justru dapat membuat kamu bekerja lebih banyak.

    Manajemen perusahaan pun sebenarnya memiliki peran yang besar dalam membuat seorang karyawan menjadi workaholic. Manajemen perusahaan harus turut mendukung work-life balance dan menghormati waktu privasi karyawannya.

    Karyawan bisa memberikan kontribusi yang besar di waktu kerja dan memiliki motivasi yang tinggi jika keseimbangan hidupnya diperhatikan oleh manajemen. Sehingga, perusahaan pun bisa mensejahterakan karyawannya dan mendapatkan keuntungan yang besar dari hal tersebut.

    Sekian dari majoo tentang workaholic kali ini dan sampai jumpa di artikel tentang dunia kerja lainnya, ya!

    Pertanyaan Terkait

    • Merujuk laman American Psychology Association, workaholism adalah suatu kondisi dan situasi ketika seseorang merasakan paksaan atau kebutuhan dari dalam dirinya untuk terus-menerus bekerja yang tak bisa dikendalikan. Sederhananya, mereka merasa adanya kecanduan untuk terus-terusan bekerja yang tercipta dalam diri mereka sendiri, bukan karena faktor eksternal lain.
    • Para pecandu kerja ini mungkin ‘memanfaatkan’ pekerjaan mereka untuk mengurangi rasa bersalah dan cemas karena masalah tertentu. Gila bekerja juga bisa membuat seseorang meninggalkan hobi, olahraga, hingga hubungannya dengan orang-orang terdekat.
    • Berikut beberapa ciri workaholic yang dapat kamu kenali: (1) Meningkatnya kesibukan tanpa peningkatan produktivitas, (2) Terobsesi untuk bekerja lebih banyak, lebih lama, dan lebih sibuk, (3) Menghabiskan lebih banyak waktu bekerja daripada yang kamu diinginkan, (4) Bekerja secara berlebihan untuk mempertahankan harga diri, (5) Bekerja untuk mengurangi perasaan bersalah, depresi, cemas, atau putus asa, (6) Mengabaikan saran atau permintaan dari orang lain untuk mengurangi pekerjaan, (7) Memiliki masalah pribadi dengan keluarga, pasangan, atau teman dekat karena kesibukan pekerjaan, (8) Memiliki masalah kesehatan yang muncul akibat stres karena pekerjaan atau karena telah bekerja berlebihan, (9) Menggunakan pekerjaan sebagai cara ‘pelarian diri’ karena suatu masalah, (10) Merasa tertekan kalau tidak bekerja.

    Upcoming Event

    Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

    Lihat semua event

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Quick Ratio adalah: Kelebihan dan Kekurangannya
    Quick ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas jangka pendek suatu perusahaan. Apa saja kelebihan dan kekurangan quick ratio?
    Newsletter adalah: Definisi, Manfaat, dan Tips Newsletter
    Newsletter adalah tools yang dapat menjembatani perusahaan dengan pelanggan untuk berbagi informasi penting dan menarik terkait perusahaan secara rutin.
    Benarkah Termin adalah Istilah untuk Cicilan atau Uang Muka?
    Termin adalah sistem pembayaran dengan jangka waktu berdasarkan kesepakatan, atau terkait syarat yang telah disepakati saat akad jual secara kredit.
    Payback Period Adalah: Dari Rumus Sampai Contohnya
    Sederhananya, pengertian payback period adalah jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi yang telah dikeluarkan.