Whatsapp
Chat 24 jam Hubungi Kami

Table of Content

    Cara Mudah Mengubah Pain Point Menjadi Peluang Usaha

    Di balik berbagai persoalan yang dihadapi konsumen tersimpan peluang bagi bisnis untuk maju.

     

    Apakah kamu dapat melihat dari sudut pandang konsumen, bahkan calon konsumen yang batal bertransaksi? Apakah kamu menyadari ada persoalan yang terpaksa dihadapi oleh para konsumen atau calon konsumen?

     

    Di dunia bisnis, persoalan-persoalan tersebut lebih dikenal dengan istilah pain point. Hal-hal terkait bisnis, produk, atau pelayanan yang harus dihadapi konsumen dan terasa tidak nyaman. Akhirnya, konsumen atau calon konsumen beralih ke produk atau jasa lain.

     

    Pernahkah terpikir, bagaimana bila kamu dapat mengidentifikasi poin-poin tersebut dan memahami kenapa poin tersebut mengurangi daya tarik bisnismu?

     

    Paint point, menghambat utilitas dan menyembunyikan peluang usaha

    Utilitas menggambarkan kepuasan yang diperoleh konsumen dari bisnis, produk, atau jasa. Dari sini, sudah terlihat bahwa persoalan yang “dibebankan” kepada konsumen memiliki efek sebaliknya.

     

    Selain itu, pain point juga sering kali menggambarkan peluang bagi bisnis untuk bertumbuh. Sayangnya, persoalan-persoalan ini kebanyakan tersembunyi. Bisnis buta terhadap poin-poin tersebut, konsumen pun akhirnya mati rasa menghadapinya. Semua pihak dipaksa menganggap bahwa begitulah proses yang semestinya.

     

    Maka dari itu, kamu perlu mengidentifikasi poin-poin masalah tersebut dan menganalisis poin mana yang layak diselesaikan. Ya, tidak semua persoalan tersebut perlu kamu selesaikan. Hanya poin-poin yang bersifat peluang usaha saja yang patut dicari solusinya.

     

    Identifikasi persoalan yang dihadapi konsumen dan calon konsumen

    Pengalaman konsumen menjadi kunci, cobalah petakan hal tersebut. Bila kamu berhasil memetakan pengalaman konsumen, insight yang sangat berharga tentang pain point akan diperoleh. Meski bisnismu berada di sektor yang sangat kompetitif dan secara alami memiliki banyak persoalan.

     

    Kamu perlu memetakan keseluruhan pengalaman konsumen. Dengan demikian, kamu dapat memahami bagaimana bisnis memberikan utilitas kepada konsumen dan pada titik mana konsumen merasa tidak puas. Di sinilah peluang usaha akan terlihat, kamu dapat melesat dalam kompetisi dan memperluas pasar.

     

    Menurut Chan Kim dan Renée Mauborgne, Profesor di salah satu sekolah bisnis ternama, INSEAD, pengalaman konsumen dapat dibagi ke dalam enam tahapan yang disebut juga siklus konsumen. Pengalaman tersebut dimulai dari pembelian, pengiriman, pemakaian, penambahan (membeli add-on misalnya), perawatan, dan pembuangan. Menariknya, pemilik bisnis kebanyakan hanya fokus pada satu atau dua tahap saja dan mengabaikan peluang dari tahapan lainnya.

     

    Setiap tahap transaksi akan memberikan pengalaman spesifik bagi konsumen. Sebagai contoh, saat melakukan pembelian di toko. Pada tahap ini, konsumen harus melalui proses mencari produk, mengantre di kasir, dan seterusnya. Pengalaman-pengalaman inilah yang dapat kamu optimalkan sehingga konsumen tidak perlu merasa kesulitan.

     

    Dalam hal memenuhi kebutuhannya, sebisa mungkin konsumen tidak membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan uang. Pada siklus konsumen hal ini diwakili oleh poin produktivitas. Didukung oleh poin berikutnya, yaitu kemudahan. Setiap hal berkaitan dengan bisnismu, sebisa mungkin tidak rumit. Sementara itu, kenyamanan konsumen biasanya berkaitan dengan kapan dan di mana mereka bisa memperoleh produk atau jasamu. Makin mudah aksesnya, konsumen biasanya makin nyaman.

     

    Di samping itu, ada poin risiko yang perlu ditekan. Risiko barang rusak atau jasa tidak memuaskan. Risiko dapat berbentuk risiko finansial, fisik, sampai reputasi. Tergantung bidang bisnis yang kamu miliki.

     

    Dua hal lain yang tidak kalah penting adalah poin menyenangkan dan ramah lingkungan. Kesenangan dan citra lebih terkait pada tampilan, rasa, dan sikap yang ditunjukkan kepada konsumen. Poin terakhir, ramah lingkungan, tentu mengukur seberapa bersahabat bisnismu dengan kelestarian lingkungan. Jangan lupa, poin ini menjadi isu penting bagi konsumen beberapa waktu belakangan!

     

    Dari pain point menjadi peluang usaha

    Mari kita coba petakan siklus pengalaman konsumen tersebut ke dalam situasi saat ini. Misal, kamu adalah pemilik kafe yang tetap buka di tengah pandemi. Bagaimana kamu dapat mengubah pain point konsumen menjadi peluang usaha? Mari kita analisis!

     

    Dalam situasi saat ini, ada beberapa fakta yang tidak dapat dibantah. Pertama, saat konsumen harus datang ke kafe untuk membeli kopi, ada risiko tertular COVID-19. Namun, membeli kopi secara delivery pun membuat konsumen harus menambah biaya ongkos kirim. Belum lagi cup kopi yang digunakan menambah sampah plastik.

     

    Pada kasus ini, kamu dapat mengeluarkan produk kopi literan yang dikemas di botol kaca. Produk ini dilengkapi dengan promo gratis biaya pengiriman dan dapat dipesan melalui WhatsApp, misalnya.

     

     

    Pembelian

    Pengiriman

    Pemakaian

    Penambahan

    Perawatan

    Pembuangan

    Produktivitas

     

    √ Kopi diantar tanpa biaya tambahan

     

     

     

     

    Kemudahan

    √ Pesan melalui Whatsapp

     

     

     

     

     

    Kenyamanan

    √ Cukup menunggu di rumah.

     

     

     

     

     

    Risiko

    X tertular COVID-19

     

     

     

     

     

    Kesenangan dan citra

     

     

    √ Rasa kopi tetap sama, dibuat fresh

     

     

     

    Ramah lingkungan

     

     

    √ Botol dapat dipakai ulang

     

     

    X menambah sampah plastik

    Ilustrasi siklus pengalaman pelanggan yang dioptimalkan, dalam bisnis kafe di masa pandemi. 

     

    Hal yang sama dapat kamu terapkan dalam berbagai sektor bisnis. Dengan demikian, kamu akan selalu dapat mengubah persoalan konsumen menjadi peluang. Selamat mencoba!

    Upcoming Event

    Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

    Lihat semua event

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Ingin Jualan di Media Sosial? Kamu Wajib Baca Ini!
    majoo punya beberapa tips nih, agar kamu bisa memaksimalkan penjualan melalui media sosial. Yuk, disimak!
    Memaksimalkan Bisnis secara Optimal dengan Integrasi GoFood
    Ada banyak cara untuk memaksimalkan bisnis, salah satunya dengan melakukan integrasi GoFood. Wah, maksudnya bagaimana, tuh?
    Bagaimana Digital Marketing Bisa Membantumu Perluas Pasar?
    Saat ini merupakan era menarik bagi digital marketing. Berkat pemasaran digital, bisnis lebih mudah berkomunikasi dengan konsumen dan memperluas pasar.
    Mengapa Pelaku Usaha Perlu Memahami Karakter Gen Z?
    Mengapa pelaku usaha perlu mempertimbangkan karakter Gen Z dalam menjalankan operasional bisnis? Apa, sih, yang akan terjadi jika tidak dilakukan?