Whatsapp
Chat 24 jam Hubungi Kami

Table of Content

    Amortisasi adalah: Pengertian, Contoh, Manfaat

    Amortisasi adalah salah satu cara terbaik untuk menutup utang tanpa mengganggu arus kas.

    Bagi banyak orang, mungkin amortisasi adalah sebuah istilah yang masih asing di telinga. Jika berpikiran bahwa amortisasi berhubungan dengan lika-liku percintaan karena ada amor yang berarti cinta dalam bahasa latin, sayang sekali karena amortisasi sebenarnya justru berhubungan dengan utang piutang. Istilah amortisasi memang diambil dari bahasa latin, dan sangat berguna sekali untuk menyelesaikan utang yang belum dibayarkan. Tertarik untuk mengetahui selengkapnya tentang istilah yang satu ini agar semakin familier? Bagaimana jika kita bahas bersama-sama seluruh serba-serbinya; mulai dari pengertian, contoh, metode, dan cara menghitungnya, yuk!

    Memahami Pengertian Amortisasi

    Untuk memahami pengertian amortisasi, kita bisa mencoba menelusuri terlebih dahulu dari mana akar istilah ini berasal. Seperti yang sempat disinggung, amortisasi terdiri dari dua kata dalam bahasa latin ‘ad’ dan ‘mort’ yang bisa diterjemahkan secara bebas menjadi ‘untuk membunuh’.

    Meski mungkin terasa seram, arti amortisasi sebenarnya tidak ditujukan untuk manusia, melainkan untuk utang. Dengan kata lain, amortisasi dapat dimaknai sebagai upaya untuk mematikan utang dengan proses pelunasan yang dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati.

    Dengan kata lain, amortisasi adalah cara mencicil pembayaran utang, umumnya dilakukan dengan cara membayarkan buku bunga pinjaman terlebih dahulu. Jika dilihat sekilas, amortisasi memang terasa mirip dengan depresiasi. Namun, jika kita melihat pengertian amortisasi secara komprehensif, sebenarnya tetap ada perbedaan antara amortisasi dan depresiasi, kok!

    Baca juga: Utang adalah: Pengertian dan Jenis-Jenis Utang!

    Mempelajari Contoh Amortisasi

    Pembelian mobil atau rumah dengan cara mencicil kredit dari bank bisa menjadi contoh amortisasi yang paling mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja, seseorang membeli rumah senilai Rp700.000.000 yang pembayarannya diselesaikan dengan kredit pemilikan rumah dari salah satu bank, dan sebagai gantinya orang tersebut harus mencicil Rp5.000.000 setiap bulannya, artinya pinjaman tersebut diamortisasi sebesar Rp5.000.000 per bulan.

    Hal yang sama juga terjadi pada mobil atau kendaraan lain yang diperoleh secara kredit. Sekalipun penjual mobil maupun kendaraan tersebut menerima pembayaran penuh dari bank yang dipilih untuk melakukan kredit, bukan berarti konsumen juga harus membayar secara penuh.

    Agar tidak memberatkan konsumen, nilai pinjaman tersebut kemudian diamortisasi setiap bulannya atau sesuai dengan ketentuan waktu yang telah disepakati oleh pihak konsumen dengan bank.

    Yap, benar sekali! Jika kita lihat contoh amortisasi, sebenarnya amortisasi ini merupakan sesuatu yang sudah sangat sering sekali kita lihat. Setiap kali ada seseorang yang melunasi utang dengan cara mencicil, kegiatan tersebut dapat disebut sebagai amortisasi.

    Mempelajari Metode Amortisasi

    Ada dua metode amortisasi yang dapat dipelajari oleh pemilik usaha agar lebih mudah dalam menembangkan bisnisnya. Kedua metode yang dimaksud ini adalah metode garis lurus dan juga metode saldo menurun.

    Perbedaan di antara keduanya terletak pada cara pembayaran berikutnya setelah pembayaran pertama dilakukan. Dengan adanya kedua metode ini, pemilik usaha pun bisa dengan mudah menentukan bagaimana mereka akan menyelesaikan pembayaran utangnya.

    Pun demikian, pemilihan metode jelas tak bisa ditentukan oleh pemilik usaha seorang, karena dalam urusan utang piutang ada dua pihak yang terlibat, kan? Setiap pihak dapat berdiskusi dan memilih metode yang paling sesuai dengan situasi serta kondisinya masing-masing.

    Nah, seperti apa, sih, penjelasan kedua metode yang bisa digunakan untuk amortisasi ini? Bagaimana jika kita ulas bersama-sama secara rinci. Siapa tahu, dengan mengetahui perbedaannya, kita dapat memilih metode yang paling tepat untuk melakukan amortisasi jika di kemudian hari kita perlu menyelesaikan suatu utang!

    Baca juga: Mengapa Anjak Piutang Menjadi Angin Segar bagi Perusahaan?

    1. Metode Garis Lurus

    Metode garis lurus bisa dibilang sebagai metode yang paling umum digunakan dalam menyelesaikan utang. Pasalnya besarnya nilai yang dibayarkan setiap waktu pada metode ini berjumlah sama, sehingga antara kreditur dan debitur hanya perlu menentukan jangka waktu pencicilan saja.

    Sebagai contoh, seorang nasabah meminjam uang di bank untuk membeli rumah senilai Rp300.000.000 dengan jangka waktu pengembalian selama 20 tahun, dicicil setiap bulannya. Artinya, ada 240 kali cicilan yang harus dilakukan nasabah tersebut untuk melunasi utangnya.

    Dalam metode garis lurus, kita cukup membagi total nilai pinjaman dengan frekuensi cicilan, atau dalam kasus di atas berarti membagi Rp750.000.000 dengan 240. Dari sanalah kita mengetahui bahwa besarnya amortisasi pinjaman nasabah setiap bulannya adalah Rp3.125.000.

    Artinya, nasabah harus membayar cicilan sebesar Rp3.125.000 per bulan selama 20 tahun agar utangnya tersebut lunas. Bagaimana, mudah sekali, kan?

    2. Metode Saldo Menurun

    Dibandingkan dengan metode garis lurus, metode saldo menurun merupakan metode amortisasi yang lebih kompleks karena besarnya cicilan yang harus dibayarkan setiap waktunya terus menyusut. Dengan kata lain, cicilan akan terasa besar di awal, tetapi cicilan-cicilan berikutnya akan terasa lebih ringan.

    Metode ini akan sangat membantu bagi mereka yang mungkin belum memiliki banyak kebutuhan, tetapi ingin bersiap apabila sewaktu-waktu muncul pengeluaran tak terduga. Sehingga, ketika masih memiliki dana, sebagian besarnya dialihkan untuk melakukan amortisasi atau membayarkan cicilan.

    Pun demikian, besarnya penyusutan yang ingin diterapkan harus ditentukan bersama antara kedua belah pihak, dan penghitungannya pun harus dijaga agar setiap bulannya cicilan dibayarkan sejumlah nilai yang memang disepakati tanpa ada perbedaan.

    Besarnya nilai penyusutan ini menjadi penting dalam penghitungan. Misalnya saja, diketahui besarnya utang adalah Rp10.000.000 dengan cicilan pertama sebesar Rp5.000.000 dan penyusutan cicilan sebesar 50%. Artinya, untuk cicilan kedua, nilai yang perlu dibayarkan adalah 50% dari Rp5.000.000 atau sebesar Rp2.500.000 dan begitu seterusnya sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati setiap pihak yang terlibat.

     Amortisasi adalah salah satu cara untuk berhemat dan bersiap terhadap pengeluaran tak terduga.

    Apa Saja Manfaat Amortisasi?

    Amortisasi banyak dilakukan karena memberikan keuntungan bagi kreditur maupun debitur. Untuk kreditur, misalnya saja, manfaat amortisasi terwujud dalam kepastian uang yang dipinjamkannya akan kembali meski dalam jangka waktu yang panjang. Jangan salah, kepastian ini sangat penting bagi bank, lembaga keuangan, maupun pihak mana pun yang meminjamkan uangnya, lho!

    Dengan memberikan kemudahan bagi debitur untuk menyelesaikan utangnya melalui amortisasi, peluang kembalinya uang kepada kreditur akan meningkat, sehingga kreditur pun bisa lebih tenang dalam mengelola uangnya.

    Tak hanya bagi kreditur, manfaat amortisasi juga dirasakan oleh debitur karena dengan adanya amortisasi, debitur tidak perlu menyelesaikan utangnya sekaligus dalam satu waktu. Kemudahan pembayaran dengan amortisasi ini memungkinkan debitur untuk mengelola arus kasnya sehingga tidak terjebak dalam jurang utang.

    Baca juga: Apakah Benar Utang Usaha adalah Jerat yang Harus Dihindari?

    Bagaimana Cara Menghitung Amortisasi?

    Tertarik untuk menyelesaikan utang dengan amortisasi? Tidak perlu cemas atau takut akan bingung karena cara menghitung amortisasi sebenarnya cukup mudah, lho!

    Selama debitur dan kreditur sudah sama-sama menyepakati besarnya cicilan yang harus dibayarkan, kita cukup menghitung komponen-komponen dalam ketentuan pembayaran tersebut.

    Misalnya saja pada Kredit Pemilikan Rumah senilai Rp700.000.000 dengan lama waktu pelunasan selama 20 tahun. Kita dapat menentukan besarnya amortisasi tiap bulannya dengan membagi nilai pinjaman dengan banyaknya bulan dalam masa pembayaran, yaitu sebesar Rp3.125.000 setiap bulannya.

    Apabila metode yang digunakan adalah metode saldo menurun, cara menghitung amortisasi mungkin akan sedikit susah karena kita perlu mengalikan besarnya cicilan di bulan sebelumnya dengan nilai penyusutan yang telah ditentukan sebelumnya. Pun demikian, penghitungannya sendiri tetap sederhana dan dapat diselesaikan dengan mudah.

    • Jurnal Amortisasi adalah …

    Nah, agar penghitungan amortisasi bisa lebih mudah dilakukan, jurnal amortisasi adalah sebuah solusi yang bisa membantu. Sama seperti kebanyakan laporan pembukuan keuangan lainnya, jurnal amortisasi ini sebenarnya digunakan untuk mencatat seluruh cicilan atau nilai amortisasi yang dibayarkan setiap bulannya.

    Dengan adanya jurnal amortisasi ini, baik debitur maupun kreditur dapat dengan pasti mengetahui besarnya nilai pinjaman yang sudah diselesaikan dan berapa besar nilai pinjaman yang masih harus dibayarkan.

    Debitur dapat melihat jurnal amortisasi untuk melihat sisa utang yang harus dibayarkan, dengan demikian, debitur pun bisa membuat perencanaan keuangan yang lebih matang. Selain itu, jurnal ini juga dapat dijadikan bahan untuk penyusunan laporan keuangan untuk menjelaskan adanya pengeluaran yang berkaitan dengan utang.

    Bagi kreditur, jurnal amortisasi adalah alat kontrol untuk mengetahui besarnya nilai pinjaman yang masih harus ditagih. Hanya saja, untuk kreditur penghitungan jurnal menjadi sedikit berbeda karena kreditur akan mencatatkan amortisasi sebagai pendapatan.

    Membedakan Amortisasi dan Depresiasi

    Sempat dibahas sebelumnya bahwa amortisasi adalah sesuatu yang kerap kali salah dimaknai sebagai depresiasi, sebenarnya apa, sih, yang membedakan kedua hal ini?

    Sebenarnya, perbedaan keduanya sudah cukup jelas. Amortisasi merupakan konsep yang digunakan untuk menghitung aset tak berwujud seperti piutang, hak paten, atau semacamnya. Sebaliknya, depresiasi digunakan untuk menghitung besarnya nilai aset tetap yang dimiliki.

    Tak perlu bingung dalam memahami amortisasi, tak perlu bingung pula dalam mengelola bisnis, karena kini sudah ada aplikasi majoo dengan beragam fitur unggulan yang dapat mempermudah pengelolaan bisnis, dari mana pun, kapan pun dibutuhkan!

    Dengan fitur keuangan dari aplikasi majoo, contohnya saja, pencatatan amortisasi adalah perkara yang sepele karena aplikasi majoo akan segera mencatatkan setiap transaksi yang terjadi secara tepat, akurat, dan otomatis. Di samping itu, aplikasi majoo juga memiliki layanan CRM yang dapat membantu pemilik usaha membangun hubungan yang baik dengan pelanggan.

    Menarik sekali, kan? Yuk! Segera gunakan layanan dari aplikasi majoo!

    Baca juga: 3 Contoh Laporan Piutang dan Cara Membuatnya

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Kwitansi adalah: Pengertian, Contoh, Format
    Kwitansi adalah bukti pembayaran yang sah dari sebuah transaksi. Dalam bisnis, ternyata ada berbagai jenis dan contoh kwitansi yang biasa digunakan.
    Kliring adalah: Pengertian, Mekanisme, Jenis, Contoh
    Kliring adalah metode pemindahan uang dari satu rekening ke rekening lain kepada yang berhak dan menunggu 2-3 hari kerja setelah proses kliring diajukan. 
    Kenalan dengan Cloud Computing dan Fungsinya Bagi Bisnis
    Dalam dunia bisnis, kehadiran cloud computing adalah sebuah gerakan peralihan ke sistem kerja yang lebih praktis, efisien, dan terkomputerisasi.
    Apa Iya Micro Influencer adalah Andalan Pemasaran Digital?!
    Bagi yang belum tahu, micro influencer adalah salah satu andalan untuk menjamin berhasilnya kegiatan pemasaran digital. Kok, bisa?! Simak, yuk!