Debt to Asset Ratio: Pengertian, Analisis & Interpretasi

Penulis Dwi Ernanda
26 May 2023

article thumbnail

Debt to asset ratio penting karena dapat membantu para pemangku kepentingan, seperti investor, kreditur, dan manajemen

Debt to asset ratio adalah salah satu indikator keuangan yang digunakan untuk mengukur sejauh mana suatu perusahaan menggunakan utang dalam membiayai asetnya. Rasio ini menunjukkan persentase total aset yang dibiayai oleh utang, baik utang jangka pendek maupun jangka panjang. Semakin tinggi rasio ini, maka semakin tinggi pula risiko keuangan yang dihadapi perusahaan.


Debt to asset ratio penting karena dapat membantu para pemangku kepentingan, seperti investor, kreditur, dan manajemen, dalam menilai kesehatan keuangan perusahaan. Rasio ini menunjukkan seberapa banyak perusahaan mengandalkan utang dalam menjalankan operasionalnya dan sejauh mana perusahaan mampu membayar kembali utang-utang tersebut.

Bagaimana Cara Menghitung Debt to Asset Ratio?

Untuk menghitung debt to asset ratio, kamu perlu mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Temukan jumlah total utang perusahaan, baik utang jangka pendek maupun jangka panjang, dari neraca keuangan.

  2. Temukan jumlah total aset perusahaan, baik aset lancar maupun aset tetap, dari neraca keuangan yang sama.

  3. Bagi jumlah total utang dengan jumlah total aset.

  4. Kalikan hasil pembagian tersebut dengan 100 untuk mengubahnya menjadi persentase.

  5. Rumus DAR = (Total Utang / Total Aset) x 100

Analisis dan Interpretasi Debt to Asset Ratio

Setelah menghitung debt to asset ratio, kamu perlu melakukan analisis dan interpretasi hasil perhitungan tersebut:

  1. Rasio yang lebih tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki lebih banyak utang dalam membiayai asetnya, sehingga risiko keuangan lebih tinggi.

  2. Rasio yang lebih rendah menunjukkan bahwa perusahaan lebih mengandalkan ekuitas dalam membiayai asetnya, sehingga risiko keuangan lebih rendah.

  3. Perbandingan debt to asset ratio antara perusahaan dalam industri yang sama dapat membantu menilai posisi relatif perusahaan tersebut.


Baca Juga: Debt to Equity Ratio (DER): Definisi dan Rumus Menghitungnya

Batasan Debt to Asset Ratio

Debt to asset ratio memiliki beberapa batasan yang perlu diingat, antara lain:

  1. Rasio ini tidak mempertimbangkan struktur utang perusahaan, seperti jatuh tempo dan tingkat bunga.

  2. Rasio ini tidak memperhitungkan perbedaan antara aset yang produktif dan aset yang tidak produktif.

  3. Rasio ini mungkin tidak cocok untuk perbandingan antar perusahaan dengan struktur keuangan dan industri yang berbeda.

Penggunaan Debt to Asset Ratio dalam Mengukur Kesehatan Keuangan Perusahaan

Debt to asset ratio digunakan dalam berbagai aspek untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan

Debt to asset ratio digunakan dalam berbagai aspek untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan. Berikut adalah beberapa penggunaan utama rasio ini:

Menilai Risiko Keuangan Perusahaan

Debt to asset ratio dapat membantu menilai risiko keuangan yang dihadapi perusahaan. Perusahaan dengan rasio yang tinggi memiliki lebih banyak utang dan mungkin menghadapi kesulitan dalam membayar kembali utang tersebut, terutama saat kondisi ekonomi tidak menguntungkan. Oleh karena itu, investor dan kreditur harus berhati-hati saat berinvestasi atau memberikan pinjaman kepada perusahaan dengan rasio yang tinggi.

Membantu dalam Pengambilan Keputusan Investasi

Rasio ini dapat membantu investor dalam mengambil keputusan investasi. Investor cenderung mencari perusahaan dengan rasio yang lebih rendah karena risiko keuangan yang lebih rendah. Namun, perlu diingat bahwa rasio yang terlalu rendah juga mungkin mengindikasikan kurangnya leverage finansial, yang mungkin membatasi pertumbuhan perusahaan.

Menilai Kemampuan Perusahaan dalam Membayar Kembali Utang

Debt to asset ratio juga dapat menilai kemampuan perusahaan dalam membayar kembali utangnya. Perusahaan dengan rasio yang rendah memiliki lebih banyak aset yang dapat digunakan untuk membayar kembali utang jika diperlukan. Oleh karena itu, perusahaan tersebut dianggap lebih mampu membayar kembali utangnya dan lebih menarik bagi kreditur.

Menyediakan Informasi untuk Perencanaan Keuangan

Manajemen perusahaan dapat menggunakan debt to asset ratio untuk merencanakan kebijakan keuangan mereka. Rasio ini dapat membantu manajemen menilai sejauh mana perusahaan mengandalkan utang dan seberapa efisien penggunaan asetnya. Dengan informasi ini, manajemen dapat membuat keputusan yang lebih baik tentang penggunaan utang dan ekuitas dalam membiayai operasional perusahaan.

Sederhanakan pengelolaan keuangan bisnismu dengan aplikasi keuangan dan akuntansi Majoo! Catat transaksi, monitor arus kas, dan buat laporan keuangan yang akurat dalam satu platform.


Debt to asset ratio adalah indikator penting dalam analisis keuangan perusahaan. Rasio ini mengukur sejauh mana perusahaan menggunakan utang dalam membiayai asetnya dan membantu menilai risiko keuangan perusahaan. Penggunaan debt to asset ratio meliputi penilaian risiko keuangan, pengambilan keputusan investasi, menilai kemampuan perusahaan dalam membayar kembali utang, dan perencanaan keuangan.


Meskipun rasio ini memiliki beberapa batasan, seperti ketidaksensitifan terhadap struktur utang dan perbedaan antara aset produktif dan non-produktif, debt to asset ratio tetap menjadi alat yang berguna dalam mengukur kesehatan keuangan perusahaan dan membantu para pemangku kepentingan membuat keputusan yang lebih baik.

Memahami Batasan Debt to Asset Ratio dalam Konteks Industri

Meskipun debt to asset ratio merupakan alat yang berguna dalam analisis keuangan, penting untuk memahami batasan rasio ini dalam konteks industri. Beberapa industri cenderung memiliki rasio utang terhadap aset yang lebih tinggi daripada industri lain. Berikut beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan saat menilai rasio ini dalam konteks industri:

Karakteristik Industri

Karakteristik industri dapat mempengaruhi tingkat debt to asset ratio yang dianggap wajar. Industri dengan tingkat aset tetap yang tinggi, seperti utilitas dan transportasi, cenderung memiliki rasio yang lebih tinggi daripada industri dengan aset tetap yang lebih rendah, seperti teknologi dan layanan. Oleh karena itu, penting untuk membandingkan rasio utang terhadap aset perusahaan dengan rasio industri yang relevan.

Siklus Ekonomi

Siklus ekonomi juga dapat mempengaruhi debt to asset ratio. Dalam periode pertumbuhan ekonomi, perusahaan mungkin lebih bersedia untuk mengambil utang guna membiayai investasi dan ekspansi. Sebaliknya, dalam periode resesi, perusahaan mungkin lebih berhati-hati dalam mengambil utang dan lebih fokus pada pengurangan risiko keuangan. Oleh karena itu, penting untuk menilai rasio utang terhadap aset dalam konteks siklus ekonomi saat ini.

Kebijakan Keuangan Perusahaan

Kebijakan keuangan perusahaan juga dapat mempengaruhi debt to asset ratio. Beberapa perusahaan mungkin lebih agresif dalam penggunaan utang, sementara yang lain lebih konservatif. Oleh karena itu, penting untuk memahami kebijakan keuangan perusahaan dan bagaimana kebijakan ini mempengaruhi rasio utang terhadap aset.

Strategi Mengurangi Debt to Asset Ratio

Mengurangi utang secara langsung akan mengurangi debt to asset ratio

Jika perusahaan ingin mengurangi debt to asset ratio-nya, ada beberapa strategi yang dapat diadopsi, antara lain:

Mengurangi Utang

Mengurangi utang secara langsung akan mengurangi debt to asset ratio. Perusahaan dapat melakukannya dengan cara melunasi utang yang ada, melakukan restrukturisasi utang, atau mengurangi penggunaan utang baru.

Meningkatkan Ekuitas

Meningkatkan ekuitas, baik melalui penerbitan saham baru atau peningkatan laba ditahan, akan mengurangi debt to asset ratio. Dengan meningkatkan ekuitas, perusahaan mengurangi ketergantungan pada utang dalam membiayai asetnya.

Mengoptimalkan Aset

Mengoptimalkan aset, seperti menjual aset yang tidak produktif atau mengurangi investasi dalam aset yang kurang menguntungkan, dapat membantu meningkatkan efisiensi penggunaan aset dan mengurangi debt to asset ratio.


Debt to asset ratio merupakan alat yang penting dalam analisis keuangan perusahaan. Namun, penting untuk mempertimbangkan batasan rasio ini dan mempertimbangkan konteks industri dan siklus ekonomi saat menilai rasio ini. Selain itu, perusahaan dapat mengadopsi strategi untuk mengurangi debt to asset ratio mereka, seperti mengurangi utang, meningkatkan ekuitas, dan mengoptimalkan aset.

Indikator Keuangan Lain yang Perlu Dipertimbangkan

Debt to asset ratio merupakan indikator penting, namun ada indikator keuangan lain yang juga perlu dipertimbangkan saat menilai kesehatan keuangan perusahaan, antara lain:

Debt to Equity Ratio

Debt to equity ratio mengukur jumlah utang perusahaan dibandingkan dengan ekuitasnya. Rasio ini menunjukkan sejauh mana perusahaan menggunakan utang dibandingkan dengan ekuitas untuk membiayai asetnya. Semakin tinggi rasio ini, semakin banyak perusahaan menggunakan utang daripada ekuitas.

Current Ratio

Current ratio mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan aset lancarnya. Rasio ini menunjukkan seberapa baik perusahaan dapat membayar kembali kewajiban jangka pendek, seperti utang dagang dan pinjaman jangka pendek.

Quick Ratio

Quick ratio, atau acid-test ratio, merupakan pengukuran likuiditas yang lebih ketat dibandingkan dengan current ratio. Rasio ini menghitung kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan aset lancar yang paling likuid, seperti kas dan setara kas, serta surat-surat berharga.

Return on Assets (ROA)

Return on assets (ROA) mengukur efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba dari asetnya. Rasio ini menggabungkan laba bersih dengan jumlah total aset untuk menilai seberapa baik perusahaan mengelola asetnya untuk menghasilkan laba.

Return on Equity (ROE)

Return on equity (ROE) mengukur efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba dari investasi pemegang saham. Rasio ini menggabungkan laba bersih dengan ekuitas pemegang saham untuk menilai seberapa baik perusahaan mengelola investasi pemegang saham untuk menghasilkan laba.


Dengan mempertimbangkan berbagai indikator keuangan ini, para pemangku kepentingan dapat melihat gambaran yang lebih lengkap tentang kesehatan keuangan perusahaan. Menganalisis dan memahami berbagai indikator keuangan ini dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik dan mengurangi risiko yang mungkin dihadapi oleh investor, kreditur, dan manajemen perusahaan.

Pentingnya Analisis Keuangan yang Komprehensif

Dalam menilai kesehatan keuangan perusahaan, penting untuk melakukan analisis keuangan yang komprehensif. Ini berarti tidak hanya mengandalkan satu indikator seperti debt to asset ratio, tetapi juga mempertimbangkan berbagai indikator keuangan lainnya. Berikut beberapa alasan mengapa analisis keuangan yang komprehensif penting:

Memberikan Gambaran yang Lebih Lengkap

Mempertimbangkan berbagai indikator keuangan dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kesehatan keuangan perusahaan. Setiap indikator keuangan memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga penting untuk melihat berbagai indikator untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang posisi keuangan perusahaan.

Mengurangi Risiko

Dengan melakukan analisis keuangan yang komprehensif, para pemangku kepentingan dapat mengurangi risiko yang mungkin dihadapi. Mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan dari berbagai aspek keuangan dapat membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik, baik dari sudut pandang investasi maupun pinjaman.

Membantu Dalam Perencanaan dan Pengambilan Keputusan

Analisis keuangan yang komprehensif dapat membantu manajemen perusahaan dalam merencanakan strategi bisnis dan kebijakan keuangan yang lebih efektif. Dengan memahami berbagai aspek keuangan perusahaan, manajemen dapat membuat keputusan yang lebih baik mengenai penggunaan sumber daya perusahaan, termasuk utang, ekuitas, dan aset.


Debt to asset ratio adalah indikator keuangan yang penting dalam menilai kesehatan keuangan perusahaan. Namun, penting untuk tidak hanya mengandalkan rasio ini, melainkan juga mempertimbangkan berbagai indikator keuangan lainnya seperti debt to equity ratio, current ratio, quick ratio, ROA, dan ROE. Dengan melakukan analisis keuangan yang komprehensif, para pemangku kepentingan dapat melihat gambaran yang lebih lengkap tentang posisi keuangan perusahaan dan membuat keputusan yang lebih baik dalam berinvestasi, memberikan pinjaman, atau merencanakan kebijakan keuangan perusahaan.




Sumber Data:

  • https://www.harmony.co.id/blog/pengertian-debt-to-assets-ratio-dan-rumus-perhitungannya

  • https://corporatefinanceinstitute.com/resources/commercial-lending/debt-to-asset-ratio/

  • https://investbro.id/debt-to-assets-ratio-dar/

  • https://unsplash.com/s/photos/debt-ratio

Dapatkan Inspirasi Terbaru dari majoo

Subscribe untuk dapatkan berita, artikel, dan inspirasi bisnis di email kamu

Footer support

Pustaka majoo

Isi Form dibawah ini untuk download pustaka

format: 62xxxxxxxx
Batal
Icon close

Temukan Paket Paling Tepat untuk Bisnismu

Isi form berikut untuk membantu kami tentukan paket paling sesuai dengan jenis dan skala bisnismu.
solusi bisnis form

+62
Selamat datang di majoo 👋 Hubungi konsultan kami untuk pertanyaan dan info penawaran menarik
whatsapp logo