Table of Content

    • Solusi
    • Knowledge
    • Debt to Equity Ratio (DER): Definisi dan Rumus Menghitungnya

    Debt to Equity Ratio (DER): Definisi dan Rumus Menghitungnya

    Debt to Equity Ratio menjadi salah satu media untuk dapat memperhitungkan kesehatan perusahaan

    Sebagai pemilik perusahaan, tentu kamu harus bisa memahami istilah-istilah yang muncul di setiap laporan keuangan. Dengan begitu, kamu dapat menilai perjalanan dan perkembangan perusahaan tersebut.

    Suatu perusahaan dapat mengetahui kesehatan perusahaan dari laporan keuangan internalnya, tidak hanya hasil penjualan dan kualitas SDM-nya saja. Laporan keuangan akan memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi keuangan perusahaan tersebut.

    Salah satu aspek dari laporan keuangan yang perlu kamu ketahui adalah Debt to Equity Ratio

    Secara umum, Debt to Equity Ratio merupakan cerminan dari kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya. Semakin rendah rasio DER, maka akan semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk dapat memenuhi semua kewajibannya.

    Apa Itu Debt to Equity Ratio (DER) ?

    Sukmawati Sukamulja (2017)

    Mengatakan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) adalah mengukur persentase liabilitas pada struktur modal perusahaan. Rasio ini penting untuk mengukur risiko bisnis perusahaan yang semakin meningkat dengan penambahan jumlah liabilitas.

    Mudrajad Kuncoro (2016)

    Menyampaikan bahwa rasio ini berfungsi untuk mengetahui besarnya perbandingan antara jumlah dana yang disediakan oleh kreditor dengan jumlah dana yang berasak dari pemilik perusahaan.

    Kasmir (2012)

    Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengetahui perbandingan antara total utang dengan modal sendiri. Rasio ini berguna untuk mengetahui seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai dari utang.

    Baca juga: Leverage adalah: Pengertian, Jenis, dan Contohnya

    Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa, Debt to Equity Ratio (DER) adalah metode untuk mengukur risiko bisnis suatu perusahaan yang dapat mempengaruhi sebuah keputusan baik bagi perusahaan, kreditur, dan inverstornya.

    Rumus DER (Debt to Equity Ratio)

    Sebelum kita mengetahui cara menghitung Debt to Equity Ratio (DER), kamu harus mengetahui rumus DER (Debt to Equity Ratio) terlebih dahulu.

     

    Keterangan:  

    • Total Liabilities = Total Utang
    • Total Equity = Total Modal

    Untuk dapat menghitung DER, kamu perlu memperhatikan nilai utang (liabilitas) dan equity (equitas).

    Total utang atau liabilitas di sini adalah kewajiban yang harus dibayar perusahaan secara tunai dalam jangka waktu tertentu. Liabilitas ini terbagi menjadi tiga kategori berdasarkan waktu pelunasannya, yaitu kewajiban jangka panjang, kewajiban lancar, dan kewajiban lain-lain.

    1. Kewajiban jangka panjang

    Kewajiban jangka panjang merujuk pada kewajiban keuangan perusahaan yang jatuh tempo lebih dari satu tahun ke depan atau di luar periode normal. 

    Umumnya, nominal yang digunakan pada kewajiban jangka panjang lebih besar dan memiliki bunga yang besar, seperti pinjaman bank atau pihak lain.

    2. Kewajiban lancar

    Utang lancar atau kewajiban lancar adalah kewajiban yang sifatnya jangka pendek. Biasanya, kewajiban lancar seperti ini bisa kita temui pada utang perusahaan yang terkait dengan operasional perusahaan. 

    Misalnya seperti utang kepada supplier, kewajiban pembayaran gaji, hingga utang pembelian barang dalam rangka pemenuhan kebutuhan produksi.

    Baca Juga: Memahami Pengertian, Jenis, serta Rumus Liabilitas

     Penting bagi seorang investor untuk bisa membaca laporan keuangan

    Contoh Menghitung Debt to Equity Ratio (DER)

    Berdasarkan laporan keuangan kuartal II per 30 September 2020, perusahaan ABC memiliki kewajiban atau liability sebanyak 2.642.870 dan Ekuitas sebanyak 1.563.710. Kemudian, berapakah Debt to Equity Ratio (DER) dari perusahaan tersebut?

    Jawab:

    • Total kewajiban (Liability): 2.642.870
    • Total ekuitas (Equity): 1.563.710

    DER = Total utang / Total Ekuitas

    DER =  2.642.870 / 1.563.710 

    DER = 1,67 kali

    Maka, rasio utang dari perusahaan ABC adalah sebesar 1,67 kali. Rasio utang pada perusahaan ini masih tergolong kategori aman, karena tidak melebihi 2 kali atau 200%.

    Cara Membaca DER (Debt to Equity Ratio) Perusahaan

    Berikut ini adalah cara membaca rasio DER, agar kita dapat mengetahui apakah hasil penghitungan DER tersebut masuk ke dalam kategori baik atau tidak bagi perusahaan.

    Baca juga: Return on Equity: Definisi dan Cara Menghitung RoE

    1. Nilai DER di bawah atau sama dengan 100% atau 1, maka kondisi perusahaan masuk dalam kategori sehat. Penyebabnya, jika perusahaan mengalami gagal bayar, maka ekuitas perusahaan terbukti mampu membayar utang-utang tersebut.

      Selaku investor, kamu masih memiliki peluang untuk mendapatkan hasil penjualan ekuitas tersebut dari sisa pembayaran utang yang dilakukan.

      Akan tetapi, Investor baru bisa mendapatkan haknya setelah pemberi utang dan pemilik saham preferen.

    2. Nilai DER di atas 100% atau 1, maka kondisi perusahaan masuk dalam kategori warning. Jika kamu menemui perusahaan dengan jenis ini, perhatikan laporan keuangannya, dari mana sumber utangnya berasal, hutang bank, obligasi, atau utang usaha.

      Apabila utangnya berasal dari utang bank atau obligasi, maka kondisi perusahaan masuk dalam kategori warning, namun jika utangnya berasal dari utang usaha, maka kondisi perusahaan tersebut baik-baik saja.

    3. Nilai DER di atas 200% atau 2, maka kondisi perusahaan sudah beresiko tinggi. Perusahaan yang memiliki rasio DER di atas 200% sangat rawan dengan berbagai macam resiko, salah satunya disebabkan oleh sentimen nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan suku bunga bank.

      Perusahaan jenis ini banyak ditemui pada bursa saham Indonesia.

    4. DER tidak cocok untuk perusahaan perbankan

      Penyebab DER tidak cocok untuk perbankan adalah karena tabungan dari para nasabah dimasukkan ke dalam pos utang atau kredit. Semakin tinggi dana tabungan masyarakat, semakin tinggi pula DER saham perbankan tersebut.

      Jadi, tidak mengherankan apabila perusahaan perbankan memiliki jumlah DER di atas 6 kali (600%) atau bahkan lebih. Itulah alasannya, perhitungan DER tidak bisa digunakan pada perusahaan perbankan.

    Faktor yang Memengaruhi Naik dan Turunnya Debt to Equity Ratio (DER)

    Grill dan Chatton (2016) berpendapat, bahwa terdapat faktor-faktor yang mampu memengaruhi Debt to Equity Ratio (DER), yakni:

    1. Kenaikan atau penurunan utang
    2. Kenaikan atau penurunan modal sendiri
    3. Utang atau modal sendiri tetap
    4. Utang meningkat lebih tinggi dibandingkan modal sendiri, atau sebaliknya

    Baca juga: Mengenal Rasio Solvabilitas serta Manfaatnya dalam Bisnis

    Sedangkan, Bringham dan Houston (2013) menyatakan, bahwa faktor yang akan memengaruhi Debt to Equity Ratio (DER) adalah sebagai berikut:

    1. Stabilitas penjualan
    2. Struktur modal
    3. Leverage operasi
    4. Tingkat pertumbuhan
    5. Pajak
    6. Pengendalian
    7. Sikap manajemen
    8. Sikap pemberi pinjaman dan pemberi peringkat
    9. Kondisi pasar
    10. Kondisi internal perusahaan
    11. Fleksibilitas keuangan

    Fungsi Debt to Equity Ratio (DER)

    Debt to Equity Ratio memiliki fungsi utama untuk dapat mengetahui komposisi utang dan ekuitas dari suatu perusahaan. Data yang dihasilkan mengenai komposisi ini akan sangat mempengaruhi saat perusahaan ingin mengambil sebuah keputusan.

    DER pun dapat mengidentifikasi kemampuan perusahaan dalam pembayaran kredit atau tagihan perusahaan.

    Selain itu, dengan mengetahui perhitungan DER, kamu dapat menjadikan ini sebagai bahan pertimbangan atau pemberian kredit bagi kreditur, serta menjadi bahan pertimbangan bagi investor ketika ingin berinvestasi saham di perusahaan tersebut.

    Penutup

    Debt to Equity Ratio merupakan salah satu komponen penting yang digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu perusahaan. Dengan perhitungan ini, kamu akan memahami kualitas sebuah perusahaan untuk dapat menjalankan operasionalnya.

    DER ini juga menjadi pertimbangan bagi para kreditur dan investor untuk memberikan pinjaman atau dana investasi kepada perusahaan tersebut.

    Apabila kamu adalah seorang pengusaha yang ingin berinvestasi pada suatu perusahaan. Ada baiknya kamu memahami bagaimana membaca laporan keuangan perusahaan, salah satunya Debt to Equity Ratio. Dengan begitu, kamu bisa berinvestasi pada perusahaan yang sehat. 

    Umumnya, agar bisa mendapatkan data yang dibutuhkan untuk membuat laporan keuangan, perusahaan akan menggunakan aplikasi penunjang yang bisa mengakumulasi laporan perusahaan.

    Salah satu yang bisa kamu andalkan adalah dengan menggunakan aplikasi POS. Fitur yang terdapat pada aplikasi ini akan membantu memudahkan kamu melihat laporan harian, mingguan, bahkan bulanan. Di samping itu, fitur lain yang tidak kalah penting adalah inventory, aplikasi kasir, dan aplikasi owner yang bisa kamu akses langsung dari ponsel pribadimu. Tertarik? Daftar segera, dan nikmati kemudahan aksesnya!

    Upcoming Event

    Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

    Lihat semua event

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Kenali Apa Itu CV ATS Friendly
    CV ATS Friendly adalah CV yang secara otomatis dapat disortir melalui sebuah aplikasi yang disebut ATS. Lalu, bagaimana membuat CV ATS Friendly yang baik?
    NPV adalah: Rumus, Contoh, dan Cara Menghitung
    Tidak hanya bermanfaat untuk menganalisis untung rugi, perhitungan NPV juga akan sangat membantu dalam menyusun perencanaan keuangan perusahaan.
    Bisnis Proposal atau Proposal Bisnis? Mana yang Benar?
    Apa itu bisnis proposal? Apakah sama dengan proposal bisnis? Sebelum membuatnya, pahami pengertian dan ciri-ciri proposal bisnis lebih dulu.
    Bank Digital adalah Kebutuhan Masyarakat Saat Ini. Kok Bisa?
    Bank digital adalah transformasi layanan perbankan dari luring menjadi daring. Kemunculannya semakin marak di Indonesia. Mau jadi nasabahnya?