Whatsapp
Chat 24 jam Hubungi Kami

Table of Content

    Fair Value adalah: Tujuan dan Cara Menghitung

    Model fair value adalah mensyaratkan bahwa properti investasi diukur pada nilai wajar dengan perubahan nilai wajar dicatat dalam laporan laba rugi sebagai laba rugi tahun berjalan.

    Sebagai pelaku bisnis, tentu kamu ingin mengetahui berapa nilai aset atas barang atau jasa yang kamu jual di masa depan, bukan?

    Misalnya, 10 tahun lagi ruko yang kamu sewakan akan ditawarkan kepada pembeli dengan harga berapa? Tentu saja harga prediksi ini harus masuk akal serta sesuai dengan pasaran saat itu.

    Terlebih jika kamu memiliki banyak aset yang berupa barang maupun jasa, fair value menjadi hal yang harus kamu hitung dan perlu kamu pahami tujuannya.

    Memangnya apa itu fair value dan apa tujuan menghitung fair value dalam bisnis?

    Tak perlu berlama-lama lagi, mari kita kupas tuntas mengenai fair value dalam artikel ini. Baca terus sampai akhir, ya!

    Apa Itu Fair Value?

    Fair value disebut juga sebagai nilai wajar. Berikut ini merupakan definisi fair value berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP):

    • Fair value adalah nilai tukar aset atau penyelesaian kewajiban antarpihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar.
    • Fair value atau nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual aset, atau dibayarkan untuk mengalihkan liabilitas, dalam transaksi yang teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran.

    Lalu apa itu fair value dalam laporan keuangan? Ya, bisa dilihat dari definisi di atas bahwa fair value atau nilai wajar adalah estimasi harga aset, berupa barang atau jasa, yang bertujuan untuk bisa mengukur estimasi biaya yang menyertainya secara akurat.

    Perlu diingat bahwa fair value adalah pengukuran berbasis pasar, bukan pengukuran yang spesifik atas entitas.

    Dalam penerapannya, nilai wajar dapat ditentukan secara:

    • Langsung, dengan cara mengobservasi harga di pasar aktif.
    • Tidak langsung, dengan cara menggunakan teknik pengukuran berdasarkan arus kas. Membuat arus kas estimasi sebagai gambaran arus kas masuk di masa yang akan datang. Dari sini, nilai wajar bisa diukur.

    Hal yang perlu dicatat dalam penghitungan fair value adalah:

    • tidak ditambahkan dengan biaya transaksi saat perolehan suatu aset;
    • dan tidak dikurangi dengan biaya transaksi atas timbulnya suatu kewajiban.

    Dari sini terlihat bahwa fair value benar-benar memberikan informasi yang berguna karena menggambarkan nilai aset secara wajar.

    Baca juga: Apa yang Membedakan Aset Lancar dan Aset Tidak Lancar?

    Tujuan Menghitung Fair Value

    Fair value memangnya dihitung untuk apa? Ada beberapa tujuan penghitungannya. Hal ini penting untuk bisa memberikan gambaran akurat mengenai nilai aset yang bisa kamu tawarkan pada pembeli di masa datang.

    Berikut ini beberapa tujuan penghitungan fair value dalam perusahaan atau bisnis:

    • Untuk menentukan harga barang yang dapat dinegosiasikan antara pembeli dan penjual.
    • Untuk mengukur perubahan nilai sejak penilaian terakhir, atau menetapkan harga ketika tidak ada harga sebelumnya.
    • Untuk menambah keakuratan penilaian keuangan suatu aset.
    • Untuk mengestimasi harga sebaik mungkin untuk memudahkan transaksi dengan pembeli berdasarkan informasi dan kondisi saat ini.

    Menghitung fair value artinya tidak mengandalkan hanya pada nilai historis suatu aset. Kelemahan mengestimasi harga masa depan dari nilai historis biasanya mengenyampingkan perhitungan faktor eksternal lain. Misalnya saja perubahan pasar.

    Dengan menerapkan nilai wajar atau fair value, kamu bisa mendapatkan informasi yang lebih relevan dan bisa diandalkan. Tentu saja, perhitungannya membuat nilai aset dan ekuitas meningkat jika dipadukan dengan penerapan metode nilai historis.

    Menggunakan fair value untuk akuntansi adalah cara terbaik memelihara catatan keuangan yang akurat.

    Hierarki Fair Value

    Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) menerbitkan PSAK 68 yang mengatur setidaknya prinsip dasar perhitungan fair value.

    Untuk meningkatkan konsistensi dan keterbandingan dalam pengukuran fair value dan pengungkapan yang terkait, PSAK 68 menetapkan hierarki fair value yang mengategorikan input dalam tiga level.

    Input adalah asumsi yang akan digunakan pelaku pasar ketika menentukan harga aset atau liabilitas. Input tersebut dikategorikan dalam tiga level hierarki nilai wajar, yaitu:

    1. Input Level 1, yaitu harga kuotasian (tanpa penyesuaian) di pasar aktif untuk aset atau liabilitas yang identik yang dapat diakses entitas pada tanggal pengukuran.
    2. Input Level 2, yaitu input selain harga kuotasian yang termasuk dalam Level 1 yang dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas, baik secara langsung atau tidak langsung.

      Definisi ini mencakup harga untuk aset atau kewajiban yang:

      • Untuk barang serupa di pasar aktif; atau
      • Untuk barang yang identik atau serupa di pasar yang tidak aktif; atau
      • Untuk input selain harga kuotasian, seperti risiko kredit, tingkat gagal bayar, dan suku bunga; atau
      • Untuk input yang berasal dari korelasi dengan data pasar yang dapat diamati.
    3. Input Level 3, yaitu input yang tidak dapat diobservasi untuk aset atau liabilitas

    Hierarki fair value atau nilai wajar memberikan prioritas tertinggi kepada harga kuotasian (tanpa penyesuaian) di pasar aktif untuk aset atau liabilitas yang identik (input Level 1). Dan prioritas terendah jatuh pada input yang tidak dapat diobservasi (input Level 3).

    Maksud umum dari hierarki ini adalah untuk memandu akuntan melalui serangkaian alternatif penilaian, di mana solusi yang mendekati Level 1 lebih disukai daripada Level 3.

    Teknik penilaian yang digunakan dalam mengukur nilai wajar memaksimalkan penggunaan input yang dapat diobservasi yang relevan dan meminimalkan penggunaan input yang tidak dapat diobservasi.

    Dalam pengukuran nilai wajar, karakteristik aset atau liabilitas (seperti kondisi dan lokasi, dan pembatasan) diperhitungkan jika karakteristik tersebut dipertimbangkan oleh pelaku pasar (market participants) pada tanggal pengukuran.

    Cara Menghitung Fair Value

    Sebenarnya, tak ada rumus fair value tunggal yang bisa diaplikasikan untuk menghitungnya. Mengapa? Tentu saja karena beda aset maka beda kondisinya.

    Selain itu juga karena banyaknya jenis aset yang perlu dievaluasi dan metode yang disukai dalam menentukan fair value berbeda-beda untuk tiap aset.

    Beberapa Pendekatan Metode Pengukuran Fair Value

    Sekali lagi, tak ada rumus fair value yang bisa diaplikasikan untuk setiap aset dan kondisinya. Namun demikian, ada beberapa metode yang umumnya digunakan, yaitu:

    • Pendekatan Nilai Pasar (Market Approach)

    Metode perhitungan fair value yang paling sederhana namun dapat dikatakan efektif adalah dengan menaksir nilai wajar menggunakan perbandingan informasi.

    Menggunakan harga yang terkait dengan transaksi pasar aktual untuk aset dan liabilitas yang serupa atau identik untuk mendapatkan fair value.

    Misalnya, sebuah perusahaan pembuat mesin obras membandingkan membandingkan harga di pasar. Bisa dengan melakukan survei langsung ke toko-toko terkait atau mencarinya di Internet.

    Dengan mendapatkan nilai rata-rata dari beragam sumber berdasarkan kondisi dan umur mesin, pemilik perusahaan bisa memperkirakan fair value atau nilai wajar mesin obras.

    • Pendekatan Estimasi Arus Kas (Income Approach)

    Menggunakan estimasi arus kas atau pendapatan masa depan. Tentu saja yang disesuaikan dengan tingkat diskonto yang mewakili nilai waktu uang dan risiko arus kas tidak tercapai, untuk mendapatkan nilai sekarang yang didiskontokan.

    Cara alternatif untuk memasukkan risiko ke dalam pendekatan ini adalah dengan mengembangkan kumpulan kemungkinan arus kas masa depan rata-rata tertimbang.

    • Pendekatan Biaya (Cost Approach)

    Pendekatan ini digunakan untuk aset yang memiliki variabel yang nilainya diubah. Misalnya ketika perusahaan launching produk baru yang sukses diviralkan dengan strategi baru.

    Hasil perubahan tersebut kemudian dievaluasi mengenai strategi perubahan biaya itu memengaruhi nilai. Nah, nilai wajar kemudian dihitung dengan menggunakan nilai yang ditetapkan dan perubahan nilai yang diharapkan akibat adanya variabel baru.

    Baca juga: Menghitung Efisiensi Aset dengan Rumus Return on Asset

    Kesimpulan

    Para profesional akuntansi bisa saja menerapkan dua metode pendekatan yang berbeda untuk aset yang sama dalam penghitungan nilai wajar atau fair value. Semuanya tergantung dari kondisi aset dan juga preferensi pribadinya.

    Walau, ya, penerapan penghitungan fair value dalam akuntansi pelaporan keuangan untuk usaha kecil, mikro, dan menengah memang perkara yang menantang.

    Selain membutuhkan waktu, edukasi, tenaga, biaya, dan lainnya juga dibutuhkan komitmen tinggi agar laporan keuangan yang dihasilkan bisa sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan.

    Namun demikian, jika kamu sedang merintis sebuah usaha kecil, rutin menerapkan perhitungan fair value dalam bisnis adalah langkah yang baik. Gunakan saja metode sederhana yang bisa dilakukan agar jadi terbiasa.

    Menghitung fair value membuat penilaian lebih akurat, bisa mengetahui ukuran laba sebenar-benarnya, mampu membuat penilaian menjadi lebih baik pada semua jenis aset, dan tentu yang paling penting adalah membantu bisnis tetap bertahan.

    Perlu bantuan untuk mengembangkan bisnismu? Langsung hubungi majoo untuk mendapatkan solusi terbaiknya, ya.

    Pertanyaan Terkait

    • Fair value disebut juga sebagai nilai wajar. Berikut ini merupakan definisi fair value berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP): (1) Fair value adalah nilai tukar aset atau penyelesaian kewajiban antarpihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar. (2) Fair value atau nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual aset, atau dibayarkan untuk mengalihkan liabilitas, dalam transaksi yang teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran.
    • Bisa dilihat dari definisi di atas bahwa fair value atau nilai wajar adalah estimasi harga aset, berupa barang atau jasa, yang bertujuan untuk bisa mengukur estimasi biaya yang menyertainya secara akurat.

    Upcoming Event

    Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

    Lihat semua event

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Quick Ratio adalah: Kelebihan dan Kekurangannya
    Quick ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas jangka pendek suatu perusahaan. Apa saja kelebihan dan kekurangan quick ratio?
    Newsletter adalah: Definisi, Manfaat, dan Tips Newsletter
    Newsletter adalah tools yang dapat menjembatani perusahaan dengan pelanggan untuk berbagi informasi penting dan menarik terkait perusahaan secara rutin.
    Benarkah Termin adalah Istilah untuk Cicilan atau Uang Muka?
    Termin adalah sistem pembayaran dengan jangka waktu berdasarkan kesepakatan, atau terkait syarat yang telah disepakati saat akad jual secara kredit.
    Payback Period Adalah: Dari Rumus Sampai Contohnya
    Sederhananya, pengertian payback period adalah jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi yang telah dikeluarkan.