Table of Content

    Apa yang Membedakan Aset Lancar dan Aset Tidak Lancar?

    Apa saja yang perbedaan aset lancar dan aset tidak lancar?

    Aset lancar dan aset tidak lancar merupakan dua istilah yang mungkin sudah sangat familier sekali di telinga para pelaku usaha, terlepas dari skala bisnis yang dijalankannya. Meski demikian, jika diminta untuk menjabarkan perbedaannya secara lengkap dan jelas, belum tentu semua bisa, lho!

    Agar bisa menjelaskan perbedaan aset lancar dan tidak lancar, pertama-tama kita harus mengetahui dulu, bukan, apa yang dimaksud dengan aset yang tergolong lancar itu sendiri, dan aset seperti apa yang dapat digolongkan sebagai tidak lancar?

    Baca juga: Melakukan Manajemen Aset dan Memperlancar Operasional Bisnis

    Apa Pengertian dari Aset?

    Baik yang lancar maupun tidak lancar, aset sendiri memiliki pengertian sebagai modal, kekayaan, maupun sesuatu yang memiliki nilai tukar. Nah, dari pengertian tersebut, hampir seluruh harta atau properti yang dimiliki oleh suatu bisnis sebenarnya dapat disebut aset. Karena pengertiannya yang cukup luas, aset kemudian dibagi menjadi aset lancar dan tidak lancar.

    Aset Lancar

    Aset lancar adalah jenis kekayaan yang dimiliki oleh suatu bisnis dan cenderung mudah diubah bentuknya menjadi uang tunai dengan nilai yang sama. Karenanya, aset yang termasuk dalam golongan ini kerap dijadikan sebagai komponen dasar bagi suatu bisnis untuk menjalankan kegiatan operasionalnya.

    Seperti yang kita tahu, kegiatan operasional bisnis umumnya dilakukan setiap hari, sehingga pelaku usaha perlu menyediakan media pembayaran yang cepat untuk dicairkan pula untuk memenuhi setiap beban pengeluaran yang mungkin dibutuhkan oleh kegiatan operasional tersebut. Oleh karena itu, tak heran jika aset lancar kemudian menjadi komponen dasar dalam kegiatan operasional bisnis.

    Lalu, bagaimana dengan aset tidak lancar?

    Aset Tidak Lancar

    Berkebalikan dengan aset lancar, aset tidak lancar adalah jenis kekayaan yang dimiliki oleh suatu bisnis yang tidak bisa dengan mudah atau secara cepat diubah bentuknya menjadi uang tunai dengan nilai yang sama. Selain itu, jenis aset yang satu ini juga kerap tidak dapat diukur dalam satuan nilai mata uang yang digunakan.

    Karena sifatnya yang demikian, aset yang tergolong tidak lancar tidak disarankan untuk menjadi komponen dasar dalam memenuhi kebutuhan setiap kegiatan operasional bisnis. Pelaku usaha akan kesulitan dalam menutup beban pengeluaran yang ditimbulkan oleh kegiatan operasional bisnis apabila menggantungkan usahanya pada aset tidak lancar.

    Baca juga: Pahami! Perbedaan Biaya (Cost) dan Beban (Expense)

    Apa Saja Contoh Aset Lancar dan Aset Tidak Lancar?

    Setelah menyimak pengertian dari aset itu sendiri, baik yang lancar maupun tidak lancar, pelaku usaha mana pun dapat mencoba mendaftar seluruh kekayaan yang dimiliki, kemudian memisahkannya sesuai dengan jenisnya.

    Agar tidak salah memisahkan, simak contoh-contoh dari kedua jenis aset tersebut berikut:

    Contoh Aset Lancar

    Salah satu contoh yang paling jelas dari aset lancar adalah uang tunai. Ingat kembali bahwa aset yang tergolong jenis ini mudah dipertukarkan dan digunakan, karenanya uang tunai yang bisa langsung digunakan untuk menyelesaikan pembayaran dapat digolongkan sebagai aset yang lancar.

    Selain uang tunai, sejumlah surat-surat berharga juga dapat digolongkan sebagai aset lancar, khususnya surat-surat berharga yang memang mudah untuk diperdagangkan seperti obligasi, saham, maupun deposito bulanan. Perhatikan bahwa tidak semua surat berharga dapat diperdagangkan dengan mudah. Deposito tahunan, misalnya saja, baru dapat dicairkan setelah jatuh tempo.

    Piutang juga dapat digolongkan sebagai aset dengan jenis yang lancar karena piutang sebenarnya dapat ditagihkan kapan saja sesuai kebutuhan atau pada tempo yang telah disepakati. Demikian pula dengan biaya dibayar di muka yang dapat langsung diterima oleh pelaku usaha dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan kegiatan operasional bisnisnya.

    Apakah tabungan tergolong sebagai aset lancar atau aset tidak lancar?

    Contoh Aset Tidak Lancar

    Untuk aset yang tidak lancar, umumnya dikenal tiga contoh yang paling umum, yaitu aset tetap, aset tidak berwujud, dan juga investasi jangka panjang.

    Untuk aset tetap, alasan yang menyebabkannya tergolong sebagai aset tidak lancar adalah nilainya yang terus berubah dari waktu ke waktu sekalipun dapat diukur dengan nilai mata uang yang digunakan. Gedung tempat usaha, sebagai contoh, memiliki nilai tukar yang terus berubah mengikuti perubahan pada harga tanah dan semacamnya.

    Sedikit berbeda dengan aset tetap, aset tidak berwujud digolongkan sebagai aset tidak lancar karena nilainya yang justru sulit untuk diukur meski mungkin tidak berubah-ubah. Hak cipta yang termasuk sebagai kekayaan intelektual, misalnya saja, dapat diperjualbelikan dan diukur dengan nilai mata uang, tetapi besarnya hak cipta yang sama akan berbeda-beda sesuai dengan kontrak yang telah disepakati.

    Sementara itu, investasi jangka panjang dapat digolongkan sebagai aset dengan jenis tidak lancar karena pemilik investasi tidak bisa sewaktu-waktu mencairkan nilai investasi yang sudah dilakukannya, tetapi harus mengikuti tempo yang sudah disepakati yang umumnya memiliki rentang yang sangat lama.

    Deposito tahunan, berbeda dengan deposito bulanan, merupakan jenis aset tidak lancar yang tergolong dalam investasi jangka panjang, karena untuk deposito tahunan, tanggal jatuh tempo di mana pemilik deposito dapat menarik deposito beserta bunga yang dimilikinya umumnya memiliki rentang tahunan, sehingga tidak dapat ditarik kapan saja dengan sistem bunga prorata.

    Baca juga: Piutang: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Jenis-Jenis Piutang

    Apa Perbedaan Aset Lancar dan Aset Tidak Lancar?

    Setelah memahami pengertian dan juga contoh-contoh aset yang tergolong sebagai aset lancar maupun aset tidak lancar, memahami perbedaan antara keduanya bukanlah perkara yang terlalu sulit.

    Secara umum, kedua jenis aset ini dapat dibedakan berdasarkan tiga karakter utamanya:

    1. Jangka Waktu Pencairan

    Seperti yang sudah sempat dijabarkan sebelumnya, perbedaan aset lancar dan aset tidak lancar yang paling utama terletak pada kemudahan aset tersebut untuk diubah bentuknya menjadi uang.

    Ketika diperdagangkan, kekayaan yang termasuk dalam aset lancar adalah jenis-jenis kekayaan yang dapat dicairkan menjadi uang tunai dalam waktu kurang dari 12 bulan. Itulah mengapa deposito bulanan termasuk dalam jenis aset yang satu ini karena deposito bulanan dapat ditarik setiap bulannya, berbeda dengan deposito tahunan yang membutuhkan waktu 12 bulan atau lebih untuk pencairan.

    2. Tujuan Pembelian Aset

    Perbedaan yang kedua terletak pada pembelian aset itu sendiri. Bila aset lancar dimiliki untuk memastikan adanya perputaran arus kas yang baik dalam memenuhi kebutuhan kegiatan operasional bisnis, tujuan pembelian aset tidak lancar adalah untuk mendukung kegiatan operasional itu sendiri.

    Pembelian gedung tempat usaha, misalnya saja, mungkin tidak dapat digunakan untuk membiayai kegiatan operasional bisnis. Akan tetapi, dengan memiliki gedung yang khusus digunakan sebagai tempat usaha, kegiatan operasional bisnis tersebut dapat terlaksana dengan baik tanpa adanya masalah.

    Baca Juga: Memahami Definisi dan Contoh Aktiva dalam Dunia Bisnis

    3. Manfaat Pembelian Aset

    Perbedaan aset lancar dan aset tidak lancar yang terakhir terletak pada manfaat yang akan diterima dari pembelian maupun kepemilikan aset tersebut.

    Untuk aset lancar, pelaku usaha umumnya melakukan pembelian atau memiliki aset tersebut untuk menyelesaikan pembayaran secara langsung. Dengan kata lain, manfaat yang diterima pun memiliki sifat ‘saat itu juga’.

    Berbeda dengan aset yang lancar, pembelian atau kepemilikan aset tidak lancar dilakukan oleh pelaku usaha sebagai jaminan ketika pelaku usaha tersebut bermaksud untuk melakukan pinjaman modal usaha pada bank yang dituju. Bisa dibilang manfaat yang diterima dari pembelian aset yang tergolong tidak lancar mungkin tidak bisa dinikmati secara langsung, tetapi dengan membeli aset tersebut, pelaku usaha dapat memperoleh dana segar untuk pengembangan usaha yang dimilikinya.

    Nah, tidak sulit, kan, mengenali perbedaan aset lancar dan aset tidak lancar? Agar semakin mudah untuk mengelompokkan mana saja kekayaan yang dapat digolongkan sebagai aset yang tergolong lancar dan mana yang tidak lancar, pelaku usaha juga bisa memanfaatkan Fitur Inventaris yang dimiliki oleh aplikasi majoo.

    Dengan berlangganan aplikasi majoo, pelaku usaha tidak hanya dapat menikmati kemudahan dalam melakukan pengelolaan bisnis, tetapi juga dapat membuat daftar inventaris dari setiap aset yang dimilikinya, termasuk persediaan barang yang siap dijual maupun bahan baku yang dibutuhkan dalam kegiatan produksi.

    Agar semakin nyaman mengelola bisnis, melalui fitur ini pelaku usaha juga bisa memesan langsung barang-barang yang persediaannya sudah menipis kepada pemasok, lho!

    Yuk, gunakan aplikasi majoo sekarang juga!

    Baca juga: Memenuhi Syarat (KTA) untuk Pinjaman Modal

    Upcoming Event

    Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

    Lihat semua event

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    9 Cara Memulai Bisnis dari Nol, Perhatikan Di Sini!
    Diperlukan langkah dan strategi yang matang untuk memulai sebuah bisnis. Pertimbangan ini dapat membantumu melewati setiap hambatan yang mungkin terjadi.
    Tokopedia Paylater adalah Bentuk Kenikmatan Belanja Online
    Tokopedia Paylater membantu lebih dari 100 juta pelanggan aktif Tokopedia untuk beli sekarang bayar nanti. Mau mencoba? Baca dulu tipsnya!
    RAB adalah Rencana Anggaran Biaya, Bagaimana Cara Buatnya?
    RAB adalah singkatan dari rencana anggaran dan biaya, lalu mengapa dokumen yang satu ini sangat dibutuhkan oleh pemilik usaha dalam operasional bisnis?
    Stakeholder adalah: Pengertian, Fungsi, dan Jenis
    Operasional sebuah bisnis mustahil dijalankan tanpa adanya peran stakeholder. Namun, seberapa penting sebenarnya keberadaan peran ini dalam bisnis?