Table of Content

    • Solusi
    • Fitur
    • Cara Menghitung Laba Rugi Bisnis dengan Laporan Laba Rugi

    Cara Menghitung Laba Rugi Bisnis dengan Laporan Laba Rugi

    Laporan laba rugi dapat membantu pelaku usaha mengembangkan bisnisnya lebih maju

    Laporan laba rugi bukanlah sesuatu yang baru di dunia ekonomi dan bisnis. Bahkan, tanpa perlu menjadi seorang pelaku usaha, semua orang tentunya pernah sedikit-sedikit mendapatkan pengetahuan terkait jenis pelaporan keuangan yang satu ini dari mata pelajaran yang diberikan selama duduk di bangku sekolah.

    Sebenarnya, apa, sih, yang dimaksud dengan laporan laba rugi? Misalnya saja, apa saja yang sebaiknya dihitung dalam laporan ini? Apa pengertian yang dimilikinya? Kemudian, apa manfaat yang bisa diperoleh oleh pelaku usaha saat menyusun jenis laporan yang satu ini?

    Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, langsung saja kita simak bersama-sama lebih lanjut!

    Pengertian Laporan Laba Rugi

    Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang dibuat dengan mencatat data-data pendapatan sekaligus beban yang ditanggung dalam sebuah operasional bisnis.

    Salah seorang tokoh ekonomi, Sirait, dalam bukunya menyatakan bahwa laporan laba rugi adalah suatu laporan yang memberikan informasi kinerja perusahaan dalam menjalankan operasional bisnisnya selama jangka waktu tertentu.

    Beliau juga menambahkan bahwa laporan ini pada hakikatnya melaporkan pendapatan serta beban rugi laba di periode tersebut, misalnya dengan membandingkan pendapatan bisnis dengan beban pengeluarannya, sehingga ditemukan nilai laba bersih apabila pendapatan lebih besar dibanding dengan beban. Sebaliknya, jika pendapatan lebih kecil dibanding beban pengeluaran, selisihnya dapat dihitung sebagai nilai rugi bersih.

    Pengertian laporan laba rugi tersebut juga didukung oleh ahli ekonomi lainnya, Sofyan, yang menambahkan bahwa dari pengertian tersebut, laporan ini sebenarnya memiliki sejumlah fungsi yang dapat digunakan oleh sebuah perusahaan maupun badan bisnis lainnya, misalnya saja:

    1. Mengetahui kemampuan sebuah perusahaan atau pelaku usaha dalam menghasilkan pendapatan bisnis dengan merencanakan serta mengontrol arus kas masuk dan keluar pada rentang waktu yang telah lalu.

    2. Mengetahui kemungkinan dan nilai laba serta rugi yang diterima dalam setiap pemesanan.

    3. Membantu mengetahui harga pokok persediaan, produk jadi, dan juga produk dalam proses yang disajikan dalam bentuk neraca.

    Dengan fungsi serta pengertian yang telah dijabarkan di atas, laporan laba rugi memiliki urgensi bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan bisnisnya dengan ukuran yang jelas, yaitu dari proyeksi keuntungan serta kerugian yang dimiliki oleh bisnisnya, di mana proyeksi ini kemudian akan divalidasi melalui kinerja perusahaan terkait di masa lampau.

    Lalu, jika memang urgensinya cukup besar, khususnya bagi pelaku usaha yang ingin bisnisnya terus berkembang berdasarkan proyeksi yang benar-benar jelas, bagaimana cara menghitung laba rugi bisnis menggunakan laporan ini?

    Eits, jangan terburu-buru. Sebelum mulai menghitung laba maupun kerugian yang mungkin dialami selama menjalankan bisnis, tentunya pelaku usaha perlu mengetahui terlebih dahulu komponen apa saja yang dibutuhkan untuk menghitungnya, bukan?

    Komponen-Komponen dalam Laporan Laba Rugi

    Setidaknya, ada tujuh komponen utama yang menyusun sebuah laporan laba rugi. Tiap-tiap komponen ini umumnya perlu diketahui atau dihitung terlebih dahulu agar laporan yang nantinya dibuat dapat benar-benar menjawab pertanyaan bisnis yang dihadapi.

    Tanpa memahami komponen-komponen tersebut, pelaporan keuangan terkait laba rugi tidak akan dapat disusun secara valid karena tidak ada penghitungan yang jelas. Sebenarnya, komponen apa saja, sih, yang perlu diketahui sebelum mulai menyusun laporan yang satu ini?

    1. Harga Pokok Penjualan

    Harga pokok penjualan, atau yang juga dikenal sebagai cost of goods sold, merupakan istilah yang digunakan di dunia ekonomi serta perpajakan untuk menggambarkan total pengeluaran biaya langsung dari sebuah perusahan ketika memproduksi serta memasarkan sebuah barang maupun jasa dalam satu kegiatan bisnis di sebuah periode.

    Harga pokok penjualan menjadi salah satu komponen utama dalam cara membuat laporan laba rugi mengingat laporan yang satu ini memang dikhususkan untuk mencari tahu seberapa besar keuntungan serta kerugian yang diterima oleh pelaku usaha secara bersih. Oleh karena itu, perlu diketahui juga harga pokok sebagai indikator penentu apakah hasil penjualan dari produk tersebut bisa dinyatakan untung atau justru rugi.

    Mengapa demikian? Karena suatu produk umumnya tidak dapat dijual begitu saja sesuai dengan harga pokoknya, tetapi juga harus memperhitungkan berbagai ragam beban lainnya yang perlu ditambahkan agar perusahaan bisa dapat tetap mendapatkan keuntungan bisnis.

    Tanpa mengetahui harga pokok penjualan, pelaku usaha tidak dapat memperhitungkan kinerja dari bisnis yang dijalankan karena tak dapat secara pasti menentukan apakah operasional yang dilakukan dalam memasarkan suatu produk maupun jasa dapat digolongkan sebagai sebuah keuntungan maupun kerugian.

    1. Penjualan Bersih

    Komponen berikutnya yang perlu dicermati dalam cara menghitung laporan laba rugi adalah nilai penjualan bersih yang berhasil dilakukan dalam suatu periode penghitungan.

    Sama seperti harga pokok penjualan, penjualan bersih menjadi krusial karena angka atau nilai ini akan menentukan apakah hasil penjualan yang secara bersih diterima oleh pelaku usaha mampu menutup biaya produksi serta pemasaran atau tidak.

    Singkat kata, apabila nilai penjualan bersih ternyata masih di bawah beban-beban pengeluaran yang dilakukan dalam suatu operasional bisnis, dapat dikatakan bahwa pelaku usaha mengalami kerugian.

    Begitu pula sebaliknya, jika nilai penjualan bersih yang didapatkan bisa lebih besar dari seluruh beban pengeluaran yang telah digelontorkan, bisnis dapat dikatakan mengalami keuntungan karena mampu menambahkan pos-pos pendapatan bisnis.

    Nilai penjualan bersih, seperti namanya, tidak mencakup retur pembelian serta diskon atau potongan harga.

    1. Pengeluaran

    Setiap operasional bisnis tentu memiliki pengeluaran. Dalam laporan laba rugi komponen pengeluaran menjadi sesuatu yang krusial karena dapat menentukan hasil penghitungan akhir.

    Secara umum, pengeluaran kerap dibandingkan dengan pendapatan, termasuk dalam kaitannya dengan laba rugi. Ketika nilai dari pengeluaran ternyata lebih besar dibanding pendapatan, bisnis dapat dikatakan merugi; dan sebaliknya, jika pengeluaran masih dapat ditutup dengan nilai pendapatan yang masuk, bisnis dapat dikatakan memperoleh keuntungan.

    Karena laporan laba rugi memang difungsikan untuk mengetahui kinerja suatu usaha yang dilakukan dengan melihat keuntungan serta kerugian yang dialami, pengeluaran pun menjadi komponen yang tak kalah penting untuk dimasukkan dalam penghitungan.

    Secara kasar, pengeluaran dalam jenis laporan keuangan yang satu ini mencakup setiap pos yang dapat digolongkan sebagai beban dari sebuah usaha. Menghitung setiap pengeluaran dengan rinci, kemudian menggolongkannya dalam kategori-kategori yang membantu pelaku usaha melihat mana yang secara langsung berkaitan dengan produksi dan mana yang merupakan tambahan akan sangat berpengaruh dalam penghitungan laba rugi.

    Pos-pos pengeluaran juga dapat dikategorikan berdasarkan kewajibannya. Ada sejumlah pos pengeluaran yang mau tak mau pasti akan dikeluarkan dalam kegiatan produksi serta pemasaran, tetapi ada juga pengeluaran yang sifatnya opsional karena lebih ditujukan pada strategi yang juga dapat diubah kapan pun dibutuhkan.

    1. Laba Kotor

    Komponen berikutnya yang tak kalah penting dalam cara menghitung laba rugi adalah laba kotor atau keuntungan yang didapatkan oleh suatu perusahaan tanpa memperhitungkan biaya yang dikeluarkan atau perlu dipersiapkan terkait operasional bisnis.

    Laba kotor biasanya dapat dihitung lebih lanjut menjadi laba bersih atau pendapatan bersih yang juga menjadi salah satu dari tujuh komponen laba rugi.

    Komponen yang satu ini umumnya akan sangat dipengaruhi oleh berbagai pos pengeluaran yang tidak terkait secara langsung dengan kegiatan produksi maupun pemasaran produk tersebut, tetapi tetap menjadi beban yang perlu ditutup terlebih dahulu sebelum pelaku usaha dapat mencetak keuntungan.

    Sebagai contoh, seorang pelaku usaha mungkin sudah menghitung berapa pendapatan yang akan diterimanya ketika memasarkan suatu produk dengan mengurangi harga jualnya dengan biaya produksi serta pemasaran. Namun, sebenarnya ada beban lain yang perlu dihitung juga seperti gaji karyawan atau penyusutan nilai alat produksi, bukan?

    Oleh karena itu, pendapatan atau keuntungan yang telah dihitung oleh pelaku usaha tersebut sebenarnya merupakan laba kotor karena pendapatan yang diterima tersebut bisa jadi tidak dapat menutup berbagai biaya lain yang perlu dikeluarkan untuk memastikan operasional bisnis dapat terus dijalankan.

     

    Bagaimana cara menghitung laba rugi bisnis dengan laporan laba rugi?

    1. Pendapatan Bersih

    Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, pendapatan bersih sangat berkaitan dengan laba kotor.

    Mengapa demikian? Karena, jika laba kotor dihitung dengan mengurangkan harga pokok penjualan dari laba kotor, pendapatan bersih didapatkan dengan mengurangkan seluruh pengeluaran yang ada, baik yang berkaitan langsung dengan kegiatan produksi serta pemasaran mauapun pengeluaran-pengeluaran yang tidak berkaitan langsung, dari laba kotor.

    Dalam laporan laba rugi, pendapatan bersih menunjukkan nilai riil yang benar-benar diterima oleh pelaku usaha dengan memperhitungkan seluruh pengeluaran yang ada dari setiap proses bisnis, mulai dari produksi hingga pemasaran.

    Pendapatan bersih ini menjadi komponen yang paling utama serta indikator yang paling sederhana dalam menentukan apakah bisnis yang dijalankan tersebut memang meraih keuntungan atau justru mengalami kerugian.

    Apabila nilai dari pendapatan bersih berada pada kurva positif atau mengalami surplus, bisnis yang dijalankan dapat dikatakan sebagai bisnis yang menguntungkan, karena pendapatan bersih ini merupakan nilai nyata yang diterima oleh pelaku usaha setelah menutup seluruh biaya pengeluaran yang ada.

    Sebaliknya, jika nilai dari pendapatan bersih berada pada kurva minus atau mengalami defisit, bisa dibilang bisnis yang tengah dijalankan tersebut tengah merugi karena tidak dapat menutup pos-pos pengeluaran yang ada. Strategi produksi serta pemasaran yang baru perlu segera diterapkan karena jika kondisi ini terus dibiarkan berlarut-larut, beban perusahaan akan terus menumpuk semakin besar dan perusahaan pun akhirnya terpaksa gulung tikar karena sudah tidak mampu lagi membiayai operasional bisnisnya.

    Dari penjelasan di atas, jelas sekali mengapa pendapatan bersih menjadi komponen yang penting, dan bahkan bisa dibilang utama dari sebuah laporan laba rugi, karena komponen inilah yang nantinya akan menentukan hasil dari penyusunan laporan tersebut.

    1. Laba Ditahan

    Dalam bahasa bisnis, laba ditahan merupakan jenis keuntungan yang tidak dapat dibagikan secara langsung kepada pemegang saham. Laba ini perlu ditahan di dalam perusahaan atau unit bisnis apa pun untuk memastikan operasional bisnis dapat terus dijalankan atau bahkan dikembangkan.

    Besarnya laba ditahan umumnya didapatkan dari penghitungan pendapatan bersih. Oleh karena itu, meskipun termasuk sebagai komponen dalam penyusunan laporan laba rugi, posisi laba ditahan sesungguhnya tidak dibutuhkan untuk penyusunan laporan itu sendiri, tetapi justru dihitung dari laporan yang telah dibuat.

    1. Dividen

    Sama seperti laba ditahan, dividen juga merupakan hasil dari penghitungan laba rugi suatu bisnis.

    Bedanya, jika laba ditahan, seperti namanya, merupakan keuntungan bisnis yang ditahan tetap berada dalam perusahaan dan tidak dibagikan kepada setiap pemegang saham, dividen merupakan hasil keuntungan yang akan dibagikan kepada pemegang saham.

    Besaran dividen juga sama seperti besaran laba ditahan, yaitu dihitung melalui hasil pendapatan bersih. Oleh karena itu, jika pendapatan bersih yang diterima berada dalam kurva minus atau defisit, pemegang saham pun tidak akan menerima keuntungan apa pun dari bisnis yang tengah dijalankan.

    Apabila pemegang saham tetap dipaksakan untuk menerima dividen karena tidak adanya penghitungan laba rugi yang tepat, bisnis pun akan sulit untuk dikembangkan karena dividen yang tadinya merupakan bentuk keuntungan pemegang saham akan menjadi beban pengeluaran bisnis yang nantinya dapat membuat bisnis terhenti jika terus menumpuk.

    Karena alasan tersebut, penghitungan dividen pun menjadi salah satu komponen utama yang patut diperhitungkan dalam tata cara membuat laporan laba rugi.

    Cara Menghitung Laba Rugi Bisnis

    Setelah mengetahui ketujuh komponen yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun laporan laba rugi, selanjutnya adalah bagaimana cara untuk menyusun laporan itu sendiri.

    Secara sederhana, laporan ini dapat disusun dengan mengikuti beberapa tahapan, misalnya saja:

    1. Menghitung Pendapatan

    Langkah pertama yang harus dilakukan dalam menghitung laba rugi bisnis adalah dengan menghitung pendapatan yang diterima.

    Menghitung setiap transaksi yang keluar atau masuk merupakan sebuah keharusan dari setiap pelaku usaha. Dengan melakukan hal ini, penyusunan laporan laba rugi bisa dimulai.

    Catat semua pendapatan yang diterima, pastikan tidak ada yang terlewat. Buat satu bagian khusus yang mencatat seluruh pendapatan dalam satu periode sehingga dari nilai pendapatan yang berhasil dikumpulkan tersebut dapat diketahui performa bisnis dalam periode tersebut seperti apa.

    Menghitung pendapatan mungkin tidak akan sesulit menghitung penjualan karena sumber pendapatan yang ada bisa dibilang jauh lebih sedikit dibanding pos-pos pengeluaran. Namun, perhatikan selalu bahwa apabila ada pendapatan yang tidak tercatat dengan baik, penghitungan laba rugi akan sangat terpengaruh dan bisa jadi akan memengaruhi bagaimana strategi pengembangan bisnis dapat diterapkan.

    1. Menghitung Beban Pengeluaran

    Setelah mengetahui berapa jumlah pendapatan bisnis yang diterima, langkah berikutnya tentu membuat bagian pengeluaran.

    Sama seperti langkah yang harus dilalui dalam menghitung pendapatan, dalam menghitung beban pengeluaran pun pastikan untuk menghitung seluruh pengeluaran yang dilakukan dalam periode yang ingin dihitung performa bisnisnya.

    Berhati-hatilah saat ingin mencatat beban pengeluaran yang mungkin tidak berhubungan secara langsung dengan proses produksi maupun pemasaran produk serta jasa yang dijadikan komunitas bisnis.

    Beban-beban pengeluaran seperti penyusutan alat atau semacamnya sering kali terlewat dalam pencatatan maupun penghitungan. Padahal, jika tidak dapat diidentifikasi dengan benar, beban-beban pengeluaran ini akan memengaruhi cara penghitungan laba rugi bisnis, yang jika dibiarkan terlalu jauh akan membahayakan bisnis atau menempatkan pelaku usaha pada situasi yang sulit.

    1. Menghitung Keuntungan

    Setelah mengetahui nilai pendapatan dan juga nilai pengeluaran yang dicatat selama periode atau rentang waktu tertentu, selanjutnya pelaku usaha dapat mulai menghitung keuntungan.

    Ingat, dalam menghitung keuntungan, laporan laba rugi mengenal dua jenis keuntungan. Keuntungan kotor yang hanya berkaitan dengan seluruh pengeluaran yang secara langsung terkait dalam proses produksi, dan juga keuntungan bersih yang tak hanya menghitung pengeluaran langsung saja, tetapi juga pengeluaran-pengeluaran yang mungkin tak secara langsung berkaitan dengan proses produksi, tetapi tetap menjadi beban yang harus ditanggung oleh perusahaan.

    Untuk mengetahui apakah suatu bisnis dapat dikatakan mengalami keuntungan, cukup melihat besarnya selisih antara pendapatan dan juga pengeluaran yang telah dicatat pada laporan laba rugi.

    Bisnis yang mengalami keuntungan memiliki nilai pendapatan yang lebih besar dibanding jumlah beban pengeluaran yang tercatat dalam periode waktu tertentu. Dari sini, pelaku usaha pun dapat menghitung besaran laba ditahan dan juga dividen yang dapat dibagikan kepada para pemegang saham.

    Apabila pos pengeluaran tercatat lebih besar dibanding pos pendapatan, pelaku usaha tidak perlu menghitung besarnya nilai laba ditahan maupun dividen karena ika situasi ini terjadi, artinya bisnis tercatat tidak mengalami keuntungan sehingga tidak akan ada hasil keuntungan yang dapat dimasukkan sebagai laba ditahan maupun dividen bagi para pemegang saham.

    1. Menghitung Kerugian

    Menghitung kerugian merupakan alternatif dari langkah menghitung keuntungan. Karena, dalam laporan laba rugi hanya dikenal salah satunya saja. Misalnya saja untuk suatu periode waktu perusahaan dicatat mengalami kerugian, perusahaan tersebut tidak mungkin tercatat pula memperoleh keuntungan.

    Untuk mengetahui berapa besar jumlah kerugian yang dialami, jika memang bisnis teridentifikasi mengalami kerugian, cukup melihat besarnya pengeluaran dibanding dengan pendapatan. Bisnis dianggap merugi jika nilai pengeluaran lebih besar dibanding pendapatan bisnis yang diterima, terlepas dari seberapa besar selisih di antara kedua nilai tersebut.

    Menghitung laba rugi bisnis mungkin memang terasa merepotkan karena ada banyak komponen serta pertimbangan yang perlu diperhatikan dengan baik. Selain itu, pelaku usaha juga harus dapat mengidentifikasi mana keuntungan yang tergolong sebagai keuntungan bersih, dan mana yang tergolong sebagai keuntungan kotor.

    Selain itu, pelaku usaha juga masih harus memikirkan mana keuntungan yang dapat dibagikan kepada para pemegang saham sebagai dividen, dan mana yang termasuk dalam laba ditahan.

    Namun, tanpa adanya penghitungan laba rugi yang sesuai, akan sulit untuk mengembangkan bisnis yang dijalankan secara sempurna. Karena, untuk pengembangan bisnis yang baik, tentunya juga harus didasari pada pertimbangan-pertimbangan yang baik pula.

    Dalam bisnis, pertimbangan utama yang perlu diperhatikan tentu merupakan perhitungan bisnis itu sendiri. Apakah bisnis ini akan menguntungkan jika dijalankan? Apakah bisnis ini hanya akan menjadi beban tanpa ada keuntungan yang bisa diberikan? Atau mungkinkah bisnis ini bisa dimaksimalkan lagi dengan menekan biaya produksi maupun pemasarannya?

    Performa bisnis bukan satu-satunya yang dapat diukur dengan laporan laba rugi. Keberhasilan suatu strategi bisnis yang coba diterapkan pun dapat diukur hasilnya dengan laporan keuangan yang satu ini.

    Misalnya saja, sebuah strategi tercatat memiliki beban pengeluaran dengan nilai tertentu. Namun, ketika neraca tidak bergerak ke arah yang positif, tentu penerapan strategi ini menjadi sesuatu yang patut dipertanyakan karena memiliki beban pengeluaran tertentu yang tidak dapat ditutup oleh pendapatan yang diterima.

    Pastikan seluruh proses bisnis berjalan dengan baik dan benar sesuai dengan yang diharapkan, mulai dari produksi, pemasaran, bahkan termasuk saat menyusun strategi pengembangan bisnis yang ciamik! Manfaatkan beragam fitur dari aplikasi kasir online untuk memastikan pengelolaan operasional bisnis juga turut mendukung strategi yang ingin diterapkan!

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Surat Keterangan Usaha (SKU): Syarat dan Perbedaannya dengan SIUP/NIB/IUMK
    Sebelum ada NIB dan IUMK, SKU adalah syarat awal bagi para pelaku usaha melengkapi dokumen izin usaha. Bagaimana perubahan itu memengaruhi legalitas usaha?
    Pahami! Perbedaan Biaya (Cost) dan Beban (Expense)
    Orang awam banyak menyebutkan bahwa biaya dan beban itu sama. Padahal, dua istilah akuntansi ini berbeda. Lalu apa perbedaan, pengertian, contoh cost dan expense?
    Pengertian Kebutuhan Sekunder: Faktor dan Contohnya
    Kebutuhan sekunder adalah hal-hal yang termasuk dalam barang penunjang hidup manusia setelah adanya kebutuhan primer.
    Cara Menghitung Laba Rugi Bisnis dengan Laporan Laba Rugi
    Akuntansi adalah sebuah sistem atau proses yang dapat membantu pelaku usaha dalam mengembangkan bisnis secara tepat. Bagaimana caranya?