Table of Content

    Kenali Pengertian, Fungsi, dan Contoh Manajemen Laba

    Manajemen laba adalah teknik akuntansi untuk menyajikan laporan keuangan dengan laba positif.

    Bukan rahasia lagi, setiap perusahaan tentu bertujuan untuk menghasilkan keuntungan. Supaya bisnis terus menguntungkan dan terhindar dari kebangkrutan, perusahaan perlu memiliki manajemen laba.

    Secara sederhana, manajemen laba adalah pengelolaan kas masuk atau pendapatan serta kas keluar atau pengeluaran agar bisnis menghasilkan laba bersih.

    Selain itu, manajemen laba juga didefinisikan sebagai teknik akuntansi. Nah, untuk memahami lebih lanjut, mari kita simak ulasan di bawah ini!

    Apa yang dimaksud dengan manajemen laba?

    Manajemen laba adalah teknik akuntansi yang digunakan untuk menyajikan laporan keuangan positif dari sisi kegiatan bisnis dan posisi keuangan perusahaan. 

    Dengan kata lain, manajemen laba atau earning management memanfaatkan penerapan aturan akuntansi dalam rangka menciptakan laporan keuangan dengan menggelembungkan laba.

    Istilah earning dalam kasus ini merujuk pada pendapatan atau laba bersih perusahaan dalam periode tertentu, misalnya kuartal atau satu tahun fiskal.

    Biasanya, perusahaan menggunakan manajemen laba untuk memperhalus fluktuasi laba sehingga laba yang disajikan dalam laporan lebih konsisten pada setiap bulan, kuartal, atau tahun.

    Memang benar, fluktuasi laba merupakan hal yang wajar terjadi dalam operasional perusahaan. Akan tetapi, setiap perubahan mungkin akan membuat investor khawatir sebab karakter penanam modal lebih menyukai laba yang stabil serta terus bertumbuh.

    Setelah pengumuman pendapatan atau earning sebuah perusahaan, harga saham perusahaan tersebut mungkin naik atau turun. Karena itu, pihak manajemen kadang melakukan intervensi melalui penerapan manajemen laba.

    Sebagai upaya untuk mengarahkan tingkatan laba yang dilaporkan kepada pihak eksternal atau stakeholder, praktik manajemen laba konon dibatasi oleh GAAP (General Adopted Accounting Principle).

    Hal ini masih menjadi pro dan kontra sampai saat ini. Bagi sebagian pihak, manajemen laba dianggap sebagai intervensi yang bersifat kecurangan. 

    Namun, tidak sedikit juga pihak yang menganggap earning management bukan kecurangan selama dilakukan dalam kerangka standar akuntansi yang dapat diterima dan diakui secara umum. 

    Fungsi manajemen laba

    Badan usaha atau individu tentu tidak akan menerapkan manajemen laba bila tidak ada fungsi atau tujuan yang menguntungkan. Adapun fungsi manajemen laba, antara lain:

    Mendatangkan bonus

    Umumnya, pemegang saham menjanjikan insentif bagi manajer atau pengelola bisnis apabila operasional bisnis berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Bonus juga sering kali dijanjikan jika bisnis mencapai omzet atau keuntungan tertentu.

    Jadi, manajer baru dapat memperoleh bonus ketika perhitungan laba usaha sesuai dengan yang telah ditentukan. Karena itu, kadang manajer menerapkan manajemen laba supaya performa bisnis berada pada posisi maksimal.

    Meningkatkan kepercayaan dari pemberi pinjaman

    Pemegang saham bukan satu-satunya pihak yang memiliki kontrak bisnis dengan manajemen perusahaan. Manajemen juga kerap mempunyai kontrak dengan kreditor atau pemberi pinjaman.

    Supaya perusahaan dipercaya untuk menerima pinjaman dana, sudah pasti performanya harus optimal. Dalam hal ini manajemen laba kadang diterapkan oleh manajer, terutama saat ingin memperoleh pinjaman dalam jumlah besar.

    Untuk kepentingan perpajakan

    Fungsi manajemen laba berikutnya terkait dengan kepentingan perpajakan, terlebih bila perusahaan yang bersangkutan belum go public atau sahamnya belum diperdagangkan dan miliki oleh publik. 

    Dalam banyak kasus, perusahaan yang belum go public menginginkan laporan laba fiskal terlihat lebih rendah dari jumlah yang sebenarnya. Intensi ini yang mendorong manajer untuk menerapkan manajemen laba.

    Dengan begitu, laba fiskal yang dilaporkan tampak lebih rendah, tanpa adanya pelanggaran aturan, baik dari sisi akuntansi maupun perpajakan.

    Baca juga: Menilik PTKP dan PKP Beserta Contohnya

     Manajemen laba diterapkan mulai dari untuk menjaga harga saham perusahaan hingga terkait kepentingan perpajakan

    Kebutuhan Initial Public Offering (IPO)

    Perusahaan biasanya menjadi entitas yang kepemilikannya diperdagangkan dan dimiliki oleh publik dalam rangka meningkatkan modal. Hal ini sering kali ditujukan untuk ekspansi bisnis.

    Nah, proses penawaran perdana saham perusahaan swasta disebut Initial Public Offering (IPO). Dalam proses IPO ini tentu performa perusahaan harus terlihat optimal agar menarik calon investor.

    Oleh karena itu, manajer kadang menerapkan manajemen laba sebelum proses IPO berlangsung.

    Pola manajemen laba

    Dalam penerapan manajemen laba, terdapat beberapa pola yang lazim digunakan, mulai dari pola yang dikenal dengan istilah ‘taking a bath’ hingga pola yang disebut ‘income maximization’.

    Apa yang dimaksud dengan setiap pola manajemen laba tersebut? Silakan simak penjelasan berikut ini!

    • Pola taking a bath

    Penerapan pola manajemen laba yang satu ini dilakukan dengan menghapus beberapa aktiva serta membebankan perkiraan biaya periode berikutnya pada laporan saat ini.

    Konsekuensi penerapan pola ini, perlu ada penghilangan bukti transaksi atau kerap disebut ‘clear the desk’. Dengan demikian, laba yang dilaporkan pada periode berikutnya meningkat.

    • Pola income minimization

    Kadang perusahaan merasa perlu menghindari sorotan politis. Perhatian secara politis kerap didapatkan perusahaan ketika profitabilitas perusahaan sangat tinggi.

    Baca juga: Memahami Arti, Cara Menghitung, serta Rasio Profitabilitas

    Jadi, dalam pola ini, terdapat penghapusan barang modal dan aktiva tidak berwujud, biaya iklan, serta pengeluaran untuk riset dan pengembangan.

    • Pola income smoothing

    Di antara pola manajemen laba, pola income smoothing termasuk yang paling menarik. Pola ini diterapkan dengan meratakan laba yang dilaporkan untuk tujuan pelaporan eksternal.

    Umumnya, laporan eksternal dengan penerapan income smoothing terutama diberikan kepada investor yang menyukai laba stabil.

    • Pola income maximization

    Berlawanan dengan pola income minimization, pola income maximization diterapkan ketika ada penurunan laba. 

    Umumnya, penggunaan pola ini dipilih untuk meningkatkan bonus serta melindungi perusahaan bila terjadi hal tidak sesuai terkait perjanjian utang.

    Contoh manajemen laba

    Seperti yang sudah diketahui, salah satu contoh manajemen laba adalah mengubah kebijakan akuntansi yang menghasilkan laba lebih tinggi dalam periode jangka pendek.

    Sebut saja, sebuah bisnis furnitur menerapkan metode Last In First Out (LIFO). Pada metode LIFO, unit yang masuk paling akhir, dikeluarkan atau dijual lebih dahulu. 

    Karena biaya persediaan umumnya meningkat dari waktu ke waktu, unit yang lebih baru menjadi lebih mahal dibandingkan dengan unit sebelumnya. Kondisi ini tentu membuat biaya penjualan menjadi lebih tinggi serta laba cenderung lebih rendah.

    Apabila bisnis furnitur tersebut mengubah metode First In First Out (FIFO), unit yang datang lebih dahulu dan lebih murah dijual terlebih dahulu. Metode FIFO akan menciptakan beban pokok penjualan yang lebih rendah.

    Oleh karena itu, laba yang diperoleh menjadi lebih tinggi sehingga perusahaan bisa melaporkan laba lebih besar untuk periode berjalan.

    Contoh manajemen laba yang lainnya, perusahaan mengubah kebijakan perusahaan agar lebih banyak biaya yang dikapitalisasi daripada yang dibebankan secara langsung. 

    Proses mengapitalisasi biaya sebagai aset dan menunda pengakuan beban dapat meningkatkan keuntungan dalam jangka pendek.

    Sebagai contoh, perusahaan membuat kebijakan tentang pembelanjaan di bawah Rp50.000.000 langsung dituliskan menjadi beban. Sementara itu, pengadaan dengan nilai lebih dari Rp50.000.000 dikapitalisasi terlebih dahulu.

    Cara tersebut akan otomatis menurunkan biaya operasional jangka pendek dan meningkatkan profit perusahaan.

    Strategi manajemen laba

    Pada pembahasan sebelumnya, kamu telah melihat pola dan contoh manajemen laba. Terlihat bahwa manajer atau badan usaha mungkin menggunakan metode berbeda dalam penerapan manajemen laba.

    Strategi manajemen laba memang dapat dijalankan dengan menerapkan beberapa cara atau teknik. Berikut ini teknik-teknik yang mungkin dilakukan oleh manajer atau badan usaha.

    • Mengubah metode akuntansi

    Metode akuntansi yang berbeda dapat menghasilkan angka perhitungan yang berbeda pula. Oleh karena itu, manajemen kadang mengubah metode akuntansi yang digunakan sebelumnya agar angka laba naik atau turun.

    Berbagai metode akuntansi membuka ruang bagi manajemen untuk mencatat fakta tertentu dengan cara berbeda. Sebagai contoh, ketika kamu akan mencatat penyusutan aktiva tetap atau depresiasi.

    Baca juga: Apa Itu Depresiasi? Memahami Pengertian dan Metode Depresiasi

    Penyusutan aktiva tetap bisa dicatat dengan metode jumlah angka tahun (sum of the year digit). Selain itu, kamu juga dapat menggunakan metode depresiasi garis lurus (straight line).

    Nah, perubahan metode yang digunakan akan memunculkan perbedaan, tetapi hal ini tidak membuat manajemen menyalahi peraturan.

    • Intervensi kebijakan perkiraan akuntansi

    Di samping mengubah metode akuntansi, manajemen juga dapat memengaruhi laporan keuangan dengan mengintervensi kebijakan akuntansi. 

    Adanya subjektivitas dalam penyusunan estimasi bisa dibuat agar berpihak pada kebutuhan manajemen saat itu, misalnya sedang perlu menampilkan nilai laba lebih tinggi.

    Beberapa kebijakan perkiraan akuntansi yang mungkin diintervensi, misalnya kebijakan jumlah piutang tidak tertagih, kebijakan tentang biaya garansi, atau kebijakan terkait proses pengadilan yang belum mencapai putusan.

    • Memindahkan periode bayar atau pendapatan

    Nilai laba dan performa perusahaan juga akan terlihat berbeda apabila periode bayar atau pendapatan berbeda. Karena itulah manajemen kadang memindahkan periode bayar dan pendapatan sebagai salah satu teknik manajemen laba.

    Beberapa cara yang lazim dilakukan, contohnya menunda pengeluaran untuk riset dan pengembangan sampai periode berikutnya. Selain itu, manajemen juga mungkin mempercepat atau menunda pengeluaran biaya promosi.

    Kadang pemindahan periode bayar juga melibatkan pihak eksternal seperti vendor. Manajemen perusahaan kadang bekerja sama dengan vendor agar pengiriman invoice ditunda sampai periode akuntansi berikutnya.

    Baca juga: Apa Itu Invoice dan Apa Pentingnya Bagi Bisnis?

    Di samping itu, manajemen kadang menjual investasi sekuritas untuk memengaruhi tingkat laba supaya terlihat lebih tinggi.

    Kemudian, contoh manajemen laba lain dari teknik pengaturan periode ini adalah mengatur waktu penjualan aktiva tetap yang sudah tidak terpakai oleh perusahaan.

    Kesimpulan

    Manajemen laba adalah intervensi terhadap laporan keuangan yang dilakukan oleh pihak manajemen agar performa perusahaan terlihat optimal, khususnya terkait dengan perolehan laba.

    Manajemen perusahaan menerapkan manajemen laba dengan tujuan yang beragam, mulai dari mendatangkan bonus hingga memengaruhi nilai pajak yang perlu dibayarkan.

    Jika kita perhatikan, penerapan manajemen laba memang dapat menguntungkan perusahaan, misalnya perusahaan menjadi lebih dipercaya oleh kreditur.

    Namun, cara ini berisiko membuat laporan keuangan perusahaan tidak relevan. Akibatnya, kinerja keuangan perusahaan menjadi bias.

    Padahal, informasi pada laporan keuangan sangat krusial sebab menampilkan kinerja perusahaan serta dapat dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan bisnis.

    Apabila kamu ingin selalu mengetahui performa nyata perusahaan atau bisnis, kamu perlu memastikan bisnis memiliki laporan keuangan yang akurat. 

    Meskipun demikian, perlu diakui pengelolaan laporan keuangan memang dianggap rumit oleh sebagian besar pemilik usaha.

    Kalau kamu termasuk yang merasa sulit mendokumentasikan keuangan, kamu dapat memanfaatkan sistem atau aplikasi POS yang sudah dibekali fitur laporan keuangan

    Dengan begitu, kamu bisa menarik laporan keuangan secara otomatis serta melakukan analisis performa bisnis.

    Upcoming Event

    Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

    Lihat semua event

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Kenali Apa Itu CV ATS Friendly
    CV ATS Friendly adalah CV yang secara otomatis dapat disortir melalui sebuah aplikasi yang disebut ATS. Lalu, bagaimana membuat CV ATS Friendly yang baik?
    NPV adalah: Rumus, Contoh, dan Cara Menghitung
    Tidak hanya bermanfaat untuk menganalisis untung rugi, perhitungan NPV juga akan sangat membantu dalam menyusun perencanaan keuangan perusahaan.
    Bisnis Proposal atau Proposal Bisnis? Mana yang Benar?
    Apa itu bisnis proposal? Apakah sama dengan proposal bisnis? Sebelum membuatnya, pahami pengertian dan ciri-ciri proposal bisnis lebih dulu.
    Bank Digital adalah Kebutuhan Masyarakat Saat Ini. Kok Bisa?
    Bank digital adalah transformasi layanan perbankan dari luring menjadi daring. Kemunculannya semakin marak di Indonesia. Mau jadi nasabahnya?