Whatsapp
Chat 24 jam Hubungi Kami

Table of Content

    • Solusi
    • Knowledge
    • Rumus Persediaan Akhir dengan 3 Metode Perhitungan Berbeda

    Rumus Persediaan Akhir dengan 3 Metode Perhitungan Berbeda

    Persedian merupakan bagian dari current asset (aktiva lancar).

    Penggunaan rumus persediaan akhir sangatlah penting bagi setiap bisnis yang menjual barang. Nilai persediaan akhir ini akan memberi tahu perusahaan tentang nilai total produk yang masih dijual pada akhir periode akuntansi.

    Mengetahui banyaknya persediaan akhir ini akan membantu perusahaan untuk membentuk rencana pemasaran dan penjualan yang lebih baik dengan menjual lebih banyak produk di masa depan.

    Nah, agar kamu lebih memahami definisi persediaan akhir, metode paling umum dan contoh menghitungnya, serta jurnal penyesuaiannya, yuk, simak penjelasannya di bawah ini!

    Apa Itu Persediaan Akhir?

    Persediaan akhir merupakan nilai barang yang wujudnya sudah tersedia untuk bisa dijual secara langsung pada akhir periode akuntansi.

    Persedian merupakan bagian dari current asset (aktiva lancar) yang keberadaannya sangat penting bagi suatu perusahaan. Nilai persediaan merupakan salah satu komponen paling krusial di dalam laporan keuangan, terutama pada laporan neraca dan laporan laba rugi.

    Bila terjadi sedikit kesalahan dalam memberikan penilaian terhadap persediaan, mengakibatkan kesalahan pada laporan neraca maupun laporan laba rugi perusahaan.

    Selain itu, kesalahan menghitung persediaan akan berakibat fatal pada laporan audit, sehingga laporan audit menjadi tidak wajar.

    Dalam proses menghitung persediaan, sebaiknya memilih metode penghitungan yang praktis dan mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. 

    Rumus Persediaan Akhir yang Umum Digunakan

    Untuk menemukan persediaan akhir, caranya dengan menambahkan biaya pembelian bersih ke persediaan awal, lalu mengurangi harga pokok penjualan.

    Pembelian bersih ini berarti mengambil pengembalian atau diskon dari pembelian persediaan.

    Dengan menggunakan rumus persediaan akhir, kamu akan mengetahui nilai akhir persediaan untuk suatu periode akuntansi berdasarkan nilai pasar atau harga pokok barang. Rumus persediaan akhir yang umum digunakan adalah sebagai berikut:

    Persediaan akhir = (Persediaan awal + pembelian bersih) – Harga Pokok Penjualan (HPP)

     

    • Persediaan awal, persediaan akhir dari periode akuntansi terakhir atau total barang dalam persediaan.
    • Pembelian bersih, semua item yang dibeli dan ditambahkan ke persediaan dalam periode akuntansi yang sama.
    • Harga Pokok Penjualan (HPP), total pengeluaran biaya langsung oleh perusahaan yang timbul dari barang atau jasa yang diproduksi dan dijual dalam kegiatan bisnis perusahaan dalam satu periode.


    Cara yang paling akurat untuk menghitung persediaan akhir adalah menghitung secara fisik barang-barang yang ada pada akhir periode akuntansi. Namun, pendekatan ini hanya dapat dilakukan untuk perusahaan kecil.

    Bisnis dengan volume persediaan yang besar serta volume penjualan yang tinggi sering kali melihat jumlah persediaan mereka berubah dengan begitu cepat. Tentunya hal ini akan membuat penghitungan persediaan fisik sebelumnya menjadi tidak akurat.

    Mengecilkan atau melebih-lebihkan persediaan akhir dapat menyebabkan biaya penjualan barang menjadi tinggi dan menyebabkan tidak akuratnya pendapatan bersih, aset, dan ekuitas pada perusahaan.

     Persediaan akhir berguna untuk membentuk rencana pemasaran dan penjualan yang lebih baik di masa depan.

    Sistem untuk Menentukan Nilai Persediaan Akhir

    Stock opname menjadi cara yang paling banyak dilakukan untuk mengetahui jumlah barang yang masih dimiliki oleh perusahaan. Kegiatan ini biasanya dilakukan menjelang akhir tahun atau akhir periode akuntansi.

    Proses stock opname sendiri bisa dilakukan dengan dua cara, yakin memanfaatkan aplikasi inventory barang atau bisa juga dilakukan secara manual.

    Pada umumnya, sistem yang dipakai sebagai penentu nilai persediaan akhir ialah sistem periodik dan sistem perpetual. Penjelasan keduanya adalah sebagai berikut.

    1. Sistem Periodik

    Sistem ini biasanya dilakukan pada setiap akhir periode dengan menghitung langsung jumlah fisik barang sebagai penentu jumlah persediaan akhir. Dalam prosesnya, sistem periodik dibagi menjadi dalam tiga metode :

    • Metode Rata-Rata Tertimbang

    Metode ini digunakan sebagai penentuan harga beli barang dengan membagi jumlah harga barang yang masih tersedia sehingga barang tersebut bisa dijual kembali.

    • Metode FIFO (First In, First Out)

    Metode FIFO menganggap bahwa barang yang pertama masuk, barang itulah yang akan lebih dulu terjual.

    • Metode LIFO (Last In, First Out)

    Metode LIFO menganggap bahwa barang yang terakhir masuk, barang itulah yang akan lebih dulu terjual.

    2. Sistem Perpetual

    Jika dibandingkan dengan sistem periodik, sistem perpetual dianggap lebih rumit, karena setiap transaksi yang berlangsung wajib dilakukan pencatatan. Pencatatan ini mulai dari transaksi pembelian hingga transaksi penjualan. Semua data yang didapat akan dijadikan acuan dalam menentukan perhitungan persediaan.

    Baca juga: Beragam Jenis Laporan Keuangan untuk Bisnismu 

    Cara Menghitung Persediaan Akhir

    Berikut ini adalah metode yang paling umum digunakan untuk menentukan nilai persediaan akhir, yakni:

    1. Metode Laba Kotor

    Berikut adalah langkah-langkah menggunakan metode laba kotor dalam menghitung persediaan akhir.

    Temukan harga pokok barang yang tersedia

    Kamu dapat melakukan ini dengan menambahkan biaya persediaan awal dengan semua biaya pembelian. Hasilnya adalah harga pokok barang yang tersedia untuk dijual.

    Rumus harga pokok barang yang tersedia adalah:

     

    Biaya barang tersedia = Biaya persediaan awal + Biaya semua pembelian


    Temukan harga pokok penjualan

    Selanjutnya, kalikanlah total penjualan dengan persentase laba kotor untuk menentukan harga Pokok Penjualan (HPP). Rumus harga pokok penjualan, yakni:

     

    Harga pokok penjualan = Penjualan x Persentase laba kotor


    Temukan persediaan akhir

    Langkah terakhir dalam menentukan persediaan akhir menggunakan metode laba kotor adalah kurangkan harga pokok penjualan dari harga pokok barang yang tersedia, hasilnya akan menjadi persediaan akhir. Rumus persediaan akhir menggunakan laba kotor, yaitu:

     

    Persediaan akhir menggunakan laba kotor = Harga pokok barang tersedia – Harga pokok barang

    2. Metode Retail

    Untuk menghitung persediaan akhir menggunakan metode retail, kamu dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.

    Temukan persentase biaya ecer

    Untuk mendapatkan persentase ini, bagilah harga eceran persediaan dengan biaya persediaan yang sebenarnya. Rumus persentase biaya ecer, yaitu:

    Persentase biaya ecer = Biaya persediaan / Harga eceran persediaan

    Temukan harga pokok barang yang tersedia

    Langkah selanjutnya yaitu menambahkan biaya persediaan awal yang kamu punya dengan semua biaya pembelian. Hasilnya adalah harga pokok barang yang tersedia untuk dijual. Rumus harga barang yang tersedia, yaitu:

    Harga pokok barang yang tersedia = Biaya persediaan awal + Biaya semua pembelian

     

    Temukan biaya penjualan

    Untuk menemukan biaya penjualan dengan mengalikan jumlah penjualan dengan persentase biaya ecer. Rumus biaya penjualan, yaitu:

    Biaya penjualan = Penjualan x Persentase biaya ecer

    Temukan persediaan akhir

    Kamu dapat menemukan nilai persediaan akhir dengan mengurangkan harga pokok penjualan dari harga pokok barang yang tersedia. Hasilnya akan menjadi persediaan akhir. Rumus persediaan akhir dengan menggunakan metode retail, yaitu:

    Persediaan akhir menggunakan eceran = Harga pokok barang yang tersedia – Harga pokok penjualan selama periode tersebut

     

    3. Metode Work In Process (WIP)

    Metode lain yang tersedia untuk menghitung persediaan akhir adalah dengan menggunakan metode pekerjaan dalam proses, langkahnya sebagai berikut.

    Temukan persediaan awal Work In Process (WIP)

    Untuk menemukan persediaan awal WIP, caranya dengan mengurangkan bahan yang ditransfer ke produksi dari bahan yang dibeli. Rumus persediaan awal WIP, yaitu:

    Persediaan awal WIP = Bahan yang dibeli – Bahan dipindahkan ke produksi

     

    Temukan biaya produksi

    Langkah kedua yaitu dengan menambahkan bahan yang ditransfer ke produksi, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Cara ini dilakukan untuk mengidentifikasi biaya overhead pabrik. Rumus biaya produksi, yaitu:

    Biaya produksi = Bahan yang ditransfer ke produksi + Tenaga kerja langsung + Overhead pabrik

     

    Temukan harga pokok produksi

    Selanjutnya, tambahkan bahan langsung yang digunakan, tenaga kerja langsung yang digunakan, biaya produksi dan WIP awal, lalu kurangilah dengan WIP akhir. Hasilnya adalah harga pokok produksi. Rumus harga pokok produksi, yakni:

    Harga pokok produksi = (Bahan langsung yang digunakan + Tenaga kerja langsung yang digunakan + Biaya produksi + WIP awal) – WIP akhir

     

    Temukan persediaan akhir

    Langkah terakhir untuk mengetahui persediaan akhir dengan menggunakan metode WIP yaitu menambahkan WIP awal dan biaya produksi, lalu dikurangi dengan harga pokok produksi. Hasilnya akan menjadi persediaan akhir. Rumus persediaan akhir dengan metode WIP, yakni:

    Persediaan akhir menggunakan barang dalam proses = (Awal WIP + Biaya produksi) – Harga pokok produksi

     

    Baca juga: Account Receivable adalah Piutang Dagang, Pahami di Sini!

    Contoh Cara Menghitung Persediaan Akhir

    Kamu sudah mengetahui rumus persediaan akhir dengan beberapa metode di atas. Nah, agar kamu lebih memahaminya, di bawah ini terdapat contoh menghitungnya.

    1. Contoh Menghitung Persediaan Akhir dengan Metode Laba Kotor

    Temukan harga pokok barang yang tersedia

    Biaya persediaan awal + Biaya semua pembelian = Biaya barang tersedia

    Rp10.000.000 + Rp5.000.000 = Rp15.000.000

    Harga pokok barang yang tersedia adalah Rp15.000.000.

    Temukan harga pokok penjualan

    Penjualan x Persentase laba kotor = Harga pokok penjualan

    Rp8.000.000 x 75% = Rp6.000.000

    Harga pokok penjualan adalah Rp6.000.000.

    Temukan persediaan akhir

    Harga pokok barang tersedia – Harga pokok barang = Persediaan akhir menggunakan laba kotor

    Rp15.000.000 – Rp6.000.000 = Rp9.000.000

    Nilai persediaan akhir menggunakan metode laba kotor adalah Rp9.000.000.

    2. Contoh Menghitung Persediaan Akhir dengan Metode Retail

    Temukan persentase biaya ecer

    Biaya persediaan / Harga eceran persediaan = Persentase biaya ecer

    300 / 500 = 0,6 atau 60%

    Persentase biaya ecernya adalah 60%.

    Temukan harga pokok barang yang tersedia

    Biaya persediaan awal + Biaya semua pembelian = Harga pokok barang yang tersedia

    Rp1.000.000 + Rp500.000 = Rp1.500.000

    Harga pokok barang yang tersedia adalah Rp1.500.000.

    Temukan biaya penjualan

    Penjualan x Persentase biaya ecer = Biaya penjualan

    Rp1.800.000 x 60% = Rp1.080.000

    Biaya penjualannya adalah Rp1.080.000.

    Temukan persediaan akhir

    Harga pokok barang yang tersedia – Harga pokok penjualan selama satu periode = Persediaan akhir menggunakan eceran

    Rp1.500.000 – Rp1.080.000 = Rp420.000

    Persediaan akhir menggunakan eceran yaitu Rp420.000.

    3. Contoh Menghitung Persediaan Akhir dengan Metode WIP

    Temukan persediaan awal Work In Process (WIP)

    Bahan yang dibeli – Bahan dipindahkan ke produksi = Persediaan awal WIP

    Rp100.000.000 – Rp92.000.000 = Rp8.000.000

    Persediaan awal WIP adalah Rp8.000.000.

    Temukan biaya produksi

    Bahan yang ditransfer ke produksi + Tenaga kerja langsung + Overhead pabrik = Biaya produksi

    Rp92.000.000 + Rp60.000.000 + Rp88.000.000 = Rp240.000.000

    Biaya produksi adalah Rp240.000.000.

    Temukan harga pokok produksi

    (Bahan langsung yang digunakan + Tenaga kerja langsung yang digunakan + Biaya produksi + WIP awal) – WIP akhir = Harga pokok produksi

    (Rp92.000.000 + Rp60.000.000 + Rp240.000.000 + Rp8.000.000) – Rp162.000.000 = (Rp400.000.000) – Rp162.000.000 = Rp238.000.000

    Biaya produksi barang adalah Rp238.000.000.

    Temukan persediaan akhir

    (Awal WIP + Biaya produksi) – Harga pokok produksi = Persediaan akhir menggunakan barang dalam proses

    (Rp8.000.000 + Rp240.000.000) – Rp238.000.000 = Rp10.000.000

    Nilai persediaan akhir menggunakan barang dalam proses adalah Rp10.000.000.

    Baca juga: Laba Ditahan Adalah: Arti, Fungsi, dan Cara Menghitungnya 

    Jurnal Penyesuaian Nilai Persediaan Akhir

    Jurnal penyesuaian persediaan barang dagang dengan menggunakan metode laba rugi biasanya identik dengan penjualan suatu barang.

    Setiap transaksi yang terjadi akan memengaruhi persediaan awal dan persediaan akhir suatu barang. Tentunya hal ini akan berimbas pada harga jual sebuah produk yang akan ditawarkan kepada konsumen. Berikut ini contoh jurnal penyesuaian persediaan akhir menggunakan metode laba rugi.

    Di akhir periode, saldo persediaan barang awal sebesar Rp5.000.000, dan saldo persediaan akhir adalah Rp7.000.000. Bagaimana pembuatan jurnal penyesuaiannya?

    Jurnal Penyesuaian

    31 Desember 2021

    Tanggal

    Nama Akun

    Ref

    Debit

    Kredit

    31/12/2021

          Laba/Rugi

     

    Rp5.000.0000

     

     

                Persediaan barang dagang (awal)

     

     

    Rp5.000.000

     

    Persediaan barang dagang (akhir)

     

    Rp7.000.000

     

     

    Laba/Rugi

     

     

    Rp7.000.000

     

    Penutup 

    Itulah pembahasan lengkap mengenai definisi, rumus persediaan akhir, cara menghitungnya, dan contohnya.

    Nah, bagi kamu yang masih merasa kesulitan dalam hal pencatatan laporan keuangan, kamu bisa memanfaatkan aplikasi keuangan seperti majoo untuk melakukan pencatatan secara otomatis.

    Selain itu, ada banyak kelebihan lain yang ditawarkan aplikasi keuangan ini untuk perusahaanmu. Bahkan kamu bisa mengontrol seluruh transaksi yang terjadi hanya menggunakan smartphone yang kamu miliki.

    Dengan begitu, kamu tidak akan kesulitan untuk memproses segala jenis transaksi yang masuk ke perusahaan secara manual dan memantau seluruh prosesnya dari jarak jauh. Hanya dengan satu aplikasi, proses penyusunan jurnal penyesuaian akan menjadi lebih mudah.

    Bagaimana? Kamu tertarik? Yuk, berlangganan majoo sekarang!

    Pertanyaan Terkait

    • Cara menentukan nilai persediaan akhir periode bisa menggunakan dua sistem yaitu sistem periodik dan perpetual.

    Upcoming Event

    Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

    Lihat semua event

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Quick Ratio adalah: Kelebihan dan Kekurangannya
    Quick ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas jangka pendek suatu perusahaan. Apa saja kelebihan dan kekurangan quick ratio?
    Newsletter adalah: Definisi, Manfaat, dan Tips Newsletter
    Newsletter adalah tools yang dapat menjembatani perusahaan dengan pelanggan untuk berbagi informasi penting dan menarik terkait perusahaan secara rutin.
    Benarkah Termin adalah Istilah untuk Cicilan atau Uang Muka?
    Termin adalah sistem pembayaran dengan jangka waktu berdasarkan kesepakatan, atau terkait syarat yang telah disepakati saat akad jual secara kredit.
    Payback Period Adalah: Dari Rumus Sampai Contohnya
    Sederhananya, pengertian payback period adalah jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi yang telah dikeluarkan.