Whatsapp
Chat 24 jam Hubungi Kami

Table of Content

    • Solusi
    • Knowledge
    • Pengertian, Contoh dan Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Tradisional

    Pengertian, Contoh dan Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Tradisional

    Sistem ekonomi tradisional menjadi salah satu sistem ekonomi yang umum diterapkan.

    Pada dasarnya, setiap negara memerlukan cara tertentu untuk menjalankan perekonomian dan mengatasi masalah ekonomi, cara ini disebut sebagai sistem ekonomi. Dikutip dari Modul Pembelajaran Ekonomi SMA Kelas X yang disusun oleh Cucu Risa Asmarani, sistem ekonomi adalah suatu cara yang diambil dalam rangka mengatur sekaligus mengorganisasi seluruh kegiatan ekonomi, baik ekonomi rumah tangga negara atau pemerintah, maupun rumah tangga masyarakat atau swasta. Kegiatan ekonomi tersebut mencakup kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi yang dilakukan berdasarkan prinsip tertentu untuk mencapai kesejahteraan.

    Sistem ekonomi memiliki beberapa fungsi, yaitu:

    1. Merangsang masyarakat untuk melakukan kegiatan produksi.
    2. Menyediakan metode untuk mengkoordinasi kegiatan individu dalam perekonomian.
    3. Menyediakan mekanisme tertentu agar hasil produksi dapat dibagi secara merata.

    Lantas, bagaimana dengan sistem ekonomi tradisional? Perlu diketahui, sistem ekonomi tradisional adalah salah satu sistem ekonomi yang masih digunakan hingga saat ini. Apa pengertian sistem ekonomi tradisional, bagaimana ciri-ciri sistem ekonomi tradisional, adakah kelebihan sistem ekonomi tradisional dan kelemahan sistem ekonomi tradisional, siapa saja negara yang menganut sistem ekonomi tradisional, serta penjelasan mengenai contoh sistem ekonomi tradisional akan dibahas secara lengkap dalam artikel ini.

    Akan tetapi, sebelum membahas lebih jauh mengenai sistem ekonomi tradisional, tidak ada salahnya mengenal sistem ekonomi lainnya yang tidak kalah penting. Langsung saja, simak selengkapnya di bawah ini.

    Sistem Ekonomi Komando/Terpusat, Pasar/Liberal, dan Campuran

    Masih dikutip dari modul pembelajaran yang sama, secara umum sistem ekonomi terbagi menjadi empat, yaitu sistem ekonomi tradisional, sistem komando/terpusat, sistem ekonomi pasar atau liberal, dan sistem ekonomi campuran. Akan tetapi, sebelum membahas lebih jauh mengenai sistem ekonomi tradisional, simak lebih dulu informasi mengenai sistem ekonomi komando/terpusat, sistem ekonomi pasar/liberal, dan sistem ekonomi campuran berikut ini.

    1. Sistem ekonomi komando/terpusat

    Pada dasarnya, sistem ekonomi komando merupakan sistem ekonomi yang seluruh aturan perekonomiannya ditentukan oleh pemerintah. Dengan demikian, secara tidak langsung, masyarakat hanya menjalankan aturan perekonomian yang sudah ditentukan. Contoh negara yang menerapkan sistem ekonomi komando/terpusat adalah Korea Utara.

    Ciri-ciri sistem ekonomi komando/terpusat adalah sebagai berikut:

    • Sumber daya ekonomi dikuasai dan dimiliki negara, sehingga hampir setiap individu tidak mempunyai hak kepemilikan.
    • Kebebasan masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi sangat terbatas.
    • Peraturan ekonomi diatur dan ditetapkan oleh pemerintah.
    • Jenis pekerjaan dan pembagian kerja diatur oleh pemerintah.
    • Tingkat harga dan bunga ditentukan oleh pemerintah.

    2. Sistem ekonomi pasar/liberal

    Sistem ekonomi pasar/liberal merupakan sistem ekonomi yang memiliki titik berat pada kebebasan masyarakat dan menggantungkan kegiatan ekonomi pada mekanisme pasar. Selain itu, sistem ekonomi pasar/liberal juga dapat diartikan dengan negara yang memberi kebebasan penuh kepada masyarakat untuk menjalankan kegiatan ekonomi. Contoh negara yang menerapkan sistem ekonomi pasar/liberal adalah Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman.

    Ciri-ciri sistem ekonomi pasar/liberal adalah sebagai berikut:

    • Sumber daya ekonomi dimiliki dan diatur oleh pihak swasta secara bebas.
    • Adanya pembagian kelas atau status dalam masyarakat, yaitu kelas pekerja/buruh dan pemilik modal.
    • Pemilik modal berhak memiliki sumber-sumber produksi.
    • Adanya persaingan yang ketat dalam kegiatan ekonomi.
    • Tidak ada intervensi atau campur tangan pemerintah dalam pasar.

    Baca Juga: Memahami Perbedaan Sistem Ekonomi Liberal dengan Campuran

    3. Sistem ekonomi campuran (komando dan pasar)

    Sistem ekonomi campuran adalah sistem ekonomi yang menitikberatkan kegiatan ekonomi pada interaksi antara pemerintah dan pihak swasta. Pelaksanaan sistem ekonomi campuran bertujuan untuk mencegah penguasaan sumber daya ekonomi secara penuh atas sumber daya vital oleh kelompok tertentu. Dalam sistem ekonomi campuran, pemerintah berperan untuk mengawasi dan mengendalikan kegiatan perekonomian.

    Sementara itu, pihak swasta diberi kebebasan untuk menentukan kegiatan perekonomian yang ingin dilakukan. Dengan demikian, dalam sistem ekonomi campuran, pemerintah dan pihak swasta memiliki peran yang seimbang. Contoh negara yang menerapkan sistem ekonomi campuran adalah negara-negara yang pernah menjadi anggota non-blok (banyak terdapat di benua Asia dan Afrika), seperti Indonesia, India, Malaysia, Mesir, dsb.

    Ciri-ciri sistem ekonomi campuran adalah sebagai berikut:

    • Sumber daya ekonomi dikuasai oleh pemerintah.
    • Pemerintah dan pihak swasta memiliki peran yang seimbang dalam perekonomian.
    • Campur tangan pemerintah dilakukan dengan membuat kebijakan ekonomi agar dapat menciptakan persaingan yang sehat.

    Baca juga: Pengertian dan Contoh Pasar Bebas sebagai Bentuk Globalisasi

    Sistem Ekonomi Tradisional

    Apa pengertian sistem ekonomi tradisional? Sistem ekonomi tradisional adalah sistem ekonomi yang berdasar pada adat istiadat, sejarah, dan kepercayaan turun-temurun. Dalam sistem ekonomi tradisional, tradisi masyarakat berperan besar dalam mengambil keputusan ekonomi, khususnya produksi dan distribusi. Masyarakat bergantung pada pertanian, perikanan, berburu, atau kombinasi dari ketiganya dan menggunakan barter sebagai pengganti uang.

    Dikutip dari situs The Balance, negara yang menganut sistem ekonomi tradisional adalah negara-negara yang termasuk ke dalam kelompok berkembang, seperti negara-negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah. Saat ini, beberapa sistem ekonomi tradisional yang dianut telah berkembang menjadi tipe campuran yang menggabungkan unsur-unsur dari kapitalisme, sosialisme, atau komunisme. Ekonom dan antropolog percaya bahwa sistem ekonomi lainnya pernah menerapkan sistem ekonomi tradisional.

    Dalam menjalankan perekonomiannya, sistem ekonomi tradisional memiliki titik berat pada kebiasaan dan adat istiadat. Oleh sebab itu, keberadaan sumber daya alam sangat dibutuhkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk jangka waktu singkat.

    Ciri-ciri Sistem Ekonomi Tradisional

    Masyarakat dalam negara yang menganut sistem ekonomi tradisional memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

    • Kegiatan ekonomi terikat pada adat istiadat.
    • Hubungan masyarakat bersifat kekeluargaan.
    • Masyarakat bersifat statis, sebab kurang atau bahkan tidak berhubungan dengan dunia luar.
    • Tidak adanya pembagian kerja.
    • Tidak adanya pemisah antara rumah tangga konsumsi dan rumah tangga produksi.
    • Bergantung pada sumber daya alam.
    • Jenis produksi ditentukan sesuai kebutuhan.
    • Peralatan dan teknologi produksi bersifat sederhana.
    • Teknologi produksi dipelajari secara turun-temurun dan bersifat sederhana.
    • Menggunakan sistem barter karena belum mengenal uang sebagai alat pembayaran.
    • Pemerintah hanya berperan sebagai pengawas dan tidak dilibatkan dalam kegiatan ekonomi.

    Kegiatan transaksi yang menjadi wujud dari adanya sistem ekonomi.

    Kelebihan Sistem Ekonomi Tradisional

    Dalam pelaksanaannya, sistem ekonomi tradisional memiliki kelebihan sebagai berikut:

    • Setiap individu termotivasi untuk menjadi produsen.
    • Tidak ada persaingan yang tidak sehat, sebab kegiatan produksi tidak bertujuan untuk mencari keuntungan.
    • Masyarakat cenderung bersikap jujur karena menggunakan sistem barter.
    • Hubungan kerja sama dan kerukunan di antara setiap individu terjalin dengan erat.
    • Kondisi perekonomian masyarakat cenderung stabil.
    • Kelestarian sumber daya alam cenderung terjaga.

    Kelemahan Sistem Ekonomi Tradisional

    Dalam pelaksanaannya, sistem ekonomi tradisional memiliki kelemahan sebagai berikut:

    • Alokasi sumber daya ekonomi tidak efisien.
    • Teknologi yang bersifat sederhana berakibat pada rendahnya produktivitas.
    • Barang hasil produksi memiliki kualitas yang rendah.
    • Tujuan kegiatan ekonomi bukan untuk mencari keuntungan.
    • Tujuan kegiatan ekonomi hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini.
    • Tujuan kegiatan ekonomi bukan untuk meningkatkan taraf hidup.
    • Masyarakat cenderung menolak perubahan, sehingga kurang berkembang.
    • Sulit mempertemukan kedua pihak yang saling membutuhkan.
    • Sulit menetapkan nilai dari barang yang dipertukarkan.

    Baca juga: 10 Prinsip Ekonomi dan Contohnya Dalam Kehidupan Sehari-hari

    Negara yang Menganut Sistem Ekonomi Tradisional

    Saat ini, hanya sedikit negara yang menganut sistem ekonomi tradisional. Sistem ekonomi tradisional biasanya terdapat di daerah pedalaman dan terpencil yang terisolasi dari dunia luar. Di Indonesia sendiri, sistem ekonomi tradisional masih dianut oleh masyarakat di desa terpencil dengan akses yang sulit ditempuh. Daerah atau negara yang menganut sistem ekonomi tradisional adalah sebagai berikut:

    1. Lembah Baliem

      Lembah Baliem merupakan lembah di pegunungan Jayawijaya, Papua. Lembah Baliem berada di ketinggian 1.600 meter dari permukaan laut dan dikelilingi pegunungan. Di malam hari, suhu di Lembah Baliem bisa mencapai 10-15 derajat celcius.

      Penduduk Lembah Baliem terdiri dari suku Dani, suku Lani, dan suku Yali. Sistem ekonomi yang diterapkan di Lembah Baliem masih terbilang sistem ekonomi tradisional. Sebagian besar penduduk Lembah Baliem memiliki mata pencaharian bercocok tanam dengan berbagai hasil kebun, seperti pisang, tebu, ubi jalar, dan tembakau. Peralatan yang digunakan untuk bercocok tanam masih sederhana, seperti tongkat dari kayu yang berbentuk linggis dan kapak batu.

      Di sisi lain, penduduk Lembah Baliem, khususnya suku Dani melakukan ternak babi. Bagi suku Dani, anggota tubuh babi memiliki kegunaan sebagai sumber makanan, perlengkapan upacara adat, hiasan, dan juga dapat diolah sebagai pisau. Tidak jarang, babi digunakan sebagai alat tukar antar penduduk (barter). Sementara itu, beberapa penduduk Lembah Baliem juga melakukan perdagangan, seperti berdagang kayu, kulit binatang, bulu burung, dan kapak.

    2. Papua Nugini

      Jika dilihat dari tingkat ekonomi, Papua Nugini termasuk salah satu negara termiskin di dunia. Padahal, Papua Nugini memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sayangnya, pengelolaan sumber daya alam tersebut terhambat oleh tingginya biaya infrastruktur pendukung dan juga medan yang sulit untuk ditempuh. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat Papua Nugini adalah bercocok tanam, mulai dari kakao, karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, singkong, talas, teh, dan ubi jalar.

    3. Batangafo

      Batangafo menjadi salah satu negara yang menganut sistem ekonomi tradisional. Batangafo adalah sebuah kota yang berada di prefektur Republik Afrika Tengah di Ouham. Lebih jelasnya, Batangafo terletak di titik pertemuan antara Sungai Ouham dan Fafa. Sayangnya, hingga saat ini masih terdapat konflik kemanusiaan di Batangafo yang mempengaruhi kondisi perekonomian.

    4. Malawi

      Malawi adalah sebuah negara di daratan Afrika bagian selatan. Malawi dikelilingi oleh daratan Afrika Tengah bagian selatan dan negara-negara yang paling tidak berkembang di dunia. Sebagian besar penduduk Malawi tinggal di daerah pedesaan Perekonomian negara Malawi didominasi oleh sektor pertanian. Sayangnya, hingga saat ini masih terdapat konflik sosial dan ekonomi di Malawi, seperti kurangnya akses kesehatan, pendapatan penduduk yang sangat rendah, serta kualitas pendidikan yang buruk.

    5. Mbaiki

      Mbaiki adalah ibukota negara Republik Afrika Tengah. Sebagian besar mata pencaharian penduduk Mbaiki adalah bekerja sebagai petani kayu dan kopi. Sayangnya, hingga saat ini masih terdapat beberapa masalah krusial, seperti kurangnya akses kesehatan yang mengakibatkan tingginya angka kematian, kemiskinan, dan sedikitnya jumlah anak-anak yang bisa mengenyam pendidikan dengan layak.

    6. Mobaye

      Mobaye adalah sebuah desa tradisional yang berada di Afrika Tengah. Mobaye sering mengalami krisis ekonomi dan konflik antar penduduk. Dihuni oleh 7.000 penduduk, pasokan listrik di Mobaye masih sangat langka, sehingga mempengaruhi kualitas hidup dan tingkat perekonomian.

    Baca Juga: Pengertian, Prinsip, serta Keunggulan Sistem Ekonomi Islam

    Contoh Sistem Ekonomi Tradisional

    Sistem ekonomi tradisional berkembang dengan menggunakan metode barter dalam transaksi. Metode ini menjadi salah satu yang membedakan sistem ekonomi yang berkembang saat itu dengan sistem ekonomi modern saat ini. Dalam metode barter, setiap individu atau kelompok akan menukarkan barang miliknya dengan yang dibutuhkannya.

    Sebagai contoh, seorang petani membutuhkan daging sapi dengan membawa satu kilogram beras ke sebuah tempat yang disebut pasar. Di dalam pasar, petani tersebut bertemu dengan seseorang yang membawa satu kilogram daging sapi dan membutuhkan beras. Transaksi pertukaran barang pun terjadi di antara keduanya.

    Jika dibandingkan dengan saat ini, kedua hal tersebut tentu tidak bisa dilakukan karena masing-masing memiliki nilai yang berbeda. Saat ini, harga satu kilogram daging sapi tentu lebih tinggi dibandingkan dengan harga satu kilogram beras. Akan tetapi, karena saat itu keduanya saling membutuhkan, pertukaran tersebut sah-sah saja dilakukan dan justru menguntungkan bagi satu sama lain.

    Baca juga: Mengenal Apa yang Dimaksud Ekspor dan Eksportir

    Penutup

    Itulah beberapa hal yang harus diketahui mengenai sistem ekonomi tradisional. Mulai dari pengertian sistem ekonomi tradisional, ciri-ciri sistem ekonomi tradisional, kelebihan sistem ekonomi tradisional, kelemahan sistem ekonomi tradisional, negara yang menganut sistem ekonomi tradisional, dan contoh sistem ekonomi tradisional. Saat ini, sistem ekonomi tradisional memang sudah jarang diterapkan. Akan tetapi, sistem ekonomi tradisional merupakan cikal bakal sistem ekonomi modern yang kita kenal sekarang ini.

    Jika kamu adalah seorang entrepreneur yang baru saja memulai bisnismu, temukan berbagai informasi yang berkaitan dengan sistem ekonomi, bisnis, dan ekonomi secara umum di sini. Jangan ragu untuk melangkahkan kaki bersama majoo yang selalu setia menemani. Manfaatkan berbagai fiturnya, yuk berlangganan sekarang!

    Upcoming Event

    Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

    Lihat semua event

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    11+ Faktor Keberhasilan Wirausaha yang Wajib Dimiliki!
    Faktor keberhasilan wirausaha tidak terbatas pada modal uang saja, sehingga dibutuhkan adaptasi, inovasi, dan sikap wirausaha untuk mengembangkan usaha.
    Valuasi adalah: Pengertian dan Cara Menghitungnya
    Valuasi adalah perhitungan nilai sebuah perusahaan dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Besar maupun kecil, valuasi menjadi hal yang sangat penting.
    Fair Value adalah: Tujuan dan Cara Menghitung
    Nilai Wajar atau Fair Value adalah alat yang sangat berguna untuk membantu pengguna memahami keuangan perusahaan, terutama situasi keuangan saat ini.
    Daftar UMKM Online: Syarat dan Manfaatnya
    Daftar UMKM online bisa dilakukan dengan praktis. Manfaatnya antara lain agar mudah mengembangkan usaha dan untuk mendapatkan bantuan dana dari pemerintah.