Yuk, Intip Transfer Pricing adalah Kunci Sukses Bisnis!

Ditulis oleh Ajar Pamungkas

article thumbnail

Bagi yang belum kenal betul, mungkin banyak yang mengira bahwa transfer pricing adalah biaya yang dibebankan untuk memindahkan barang. Anggapan tersebut tak sepenuhnya salah, sih, jika kita memang hanya melihat namanya saja. Namun, sebenarnya biaya yang satu ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kegiatan memindahkan barang, lho!

Kebijakan ini sebenarnya merupakan metode penentuan harga yang unik karena bisa membantu pelaku usaha mengoptimalkan potensi keuntungan bisnisnya. Saking optimalnya, tak sedikit pula orang yang menganggap bahwa kebijakan ini merupakan sebuah tindak kecurangan.

Eits, tidak perlu terburu-buru. Bagaimana jika kita coba membahasnya lebih lanjut agar dapat menganalisis alasan mengapa kebijakan ini kerap dianggap curang. Sebenarnya, apa, sih, yang dimaksud dengan transfer pricing ini? Daripada penasaran, langsung saja kita simak penjelasannya, yuk!

Baca Juga: Apa Benar Pricing adalah Kunci Sukses Bisnis? Kok Bisa?!

Mengenal Metode Transfer Pricing

Ada beberapa metode transfer pricing yang bisa dilakukan oleh pelaku usaha, mulai dari metode CUP, RPM, CPM, split profit, maupun TNNM. Tiap-tiap metode ini memiliki karakteristiknya tersendiri yang bisa disesuaikan dengan sifat bisnis yang dijalankan, maupun bentuk kerja sama yang dibangun bersama mitra.

Secara umum, transfer pricing sendiri adalah metode penentuan harga suatu transaksi yang terjadi antara kedua belah pihak atau lebih yang memiliki hubungan istimewa. Misalnya saja ketika sebuah anak perusahaan memasok bahan baku dari perusahaan induk.

Secara sekilas, transaksi tersebut mungkin bisa dianggap sebagai transaksi jual-beli biasa. Akan tetapi, apabila kita melihat hubungan antara kedua belah pihak yang terlibat, tentu hubungan yang terjalin tidak bisa dibilang biasa, kan, yaitu sebagai induk perusahaan dan anak perusahaan.

Nah, karena ada hubungan yang istimewa ini, penentuan harga jual maupun harga beli antara keduanya pun bisa diatur secara khusus dan metode transfer pricing pun bisa dilakukan. Umumnya, metode yang dipilih akan disesuaikan dengan situasi serta kondisi kedua belah pihak tersebut sehingga setiap pihak bisa mengoptimalkan keuntungannya.

Apa Tujuan Transfer Pricing Dilakukan?

Tentunya, tanpa tujuan transfer pricing pasti tidak akan dilakukan. Sempat disinggung sebelumnya, tujuan utama yang ingin dicapai dengan transfer pricing adalah optimalnya keuntungan bisnis yang bisa dihasilkan.

Pasalnya, dengan melakukan transfer pricing, pelaku usaha dapat meminimalkan beban pajak yang muncul dapat ditekan. Sederhana saja, kok, yaitu dengan meminta pihak penjual untuk memasang harga jual yang tinggi.

Dengan harga jual yang lebih tinggi, tentunya margin keuntungan yang dihasilkan pun akan lebih kecil, kan? Padahal, besarnya pajak yang harus dibayarkan oleh pemilik usaha sebenarnya dihitung dari besarnya penghasilan yang diterima. Oleh karena itu, dengan melakukan transfer pricing, besarnya pajak yang harus dibayarkan pun bisa ditekan.

Tujuan transfer pricing yang berikutnya adalah untuk mengatur arus kas bisnis yang dikelola, khususnya arus kas yang dimiliki oleh perusahaan cabang. Wajar saja, kan, karena metode transfer pricing ini memungkinkan pelaku usaha untuk mengatur harga jual dalam transaksi yang dilakukannya dalam perusahaan payung.

Untuk alasan ini pula, banyak orang yang beranggapan bahwa transfer pricing merupakan sebuah kebijakan yang curang. Eits, sebelum kita mengambil kesimpulan, mari kita lanjutkan pembahasannya terlebih dahulu, ya! Let’s go!

Baca Juga: Pengertian, Contoh, dan Kelebihan dari Bundle Pricing

Transfer pricing adalah metode penentuan harga yang kerap dianggap curang. Apakah benar?

Bagaimana Cara Menghitung Transfer Pricing?

Cara menghitung transfer pricing umumnya akan mengikuti metode yang dipilih. Jadi, tidak bisa dilakukan secara asal, karena sekalipun pelaku usaha bisa secara fleksibel menentukan harga, praktik ini tetap harus dilakukan secara wajar agar tak melanggar peraturan.

Tergantung metode yang dipilih, penghitungan transfer pricing bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya saja, ketika baik anak maupun induk perusahaan ingin mengoptimalkan keuntungannya masing-masing tanpa ada pihak yang dikorbankan, metode split profit bisa digunakan.

Dalam metode split profit, harus ada barang tak berwujud yang sifatnya unik, sehingga tidak bisa ditemukan pembandingnya. Langkah ini menjadi syarat karena tanpa adanya pembanding, penentuan harga yang dilakukan pun akan terbebas dari tuduhan praktik yang tidak wajar.

Di samping adanya komoditas yang unik dan tak bisa dibandingkan, metode split profit juga akan lebih maksimal jika dilakukan antara kedua pihak yang saling terintegrasi dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, hubungan sebagai induk dan anak perusahaan kerap menjadi modal awal untuk menjalankan metode ini.

Selain dengan metode split profit, cara menghitung transfer pricing juga bisa dilakukan dengan metode lain, seperti metode RPM atau resale price method yang bisa membantu pelaku usaha menentukan besarnya harga berdasarkan komisi penjualan ulang atau reselling.

  • Contoh Transfer Pricing yang Kerap Ditemukan

Hubungan antara induk dan anak perusahaan bisa menjadi contoh transfer pricing yang paling mudah ditemukan. Bagaimana tidak, kan, toh kedua perusahaan tersebut berada di bawah perusahaan payung yang sama, sehingga penentuan harga secara wajar bisa dilakukan tanpa adanya unsur paksaan atau semacamnya.

Apabila tidak dilakukan dengan badan usaha yang ada di bawah payung yang sama, penentuan harga dengan metode transfer pricing pun terasa tidak wajar, karena jika dilihat sekilas, salah satu pihak harus menanggung beban kerugian yang besar sementara pihak yang lain mendapatkan keuntungan secara optimal.

Sebagai contoh transfer pricing, misalnya saja, perusahaan A menjual produknya kepada perusahaan B dengan harga yang murah, kemudian perusahaan B pun menjual kembali barang tersebut ke pasar dengan melakukan mark up dalam bentuk komisi penjualan ulang.

Dalam situasi tersebut, perusahaan A bisa menekan beban pajak penghasilan yang harus dibayarkan sementara perusahaan B bisa meningkatkan omzet dengan melakukan penjualan secara masif ke pasar. Dalam contoh transfer pricing ini, kedua belah pihak sama-sama diuntungkan, meski dengan cara yang berbeda.

  • Mengapa Launching Produk adalah Contoh Terbaik?

Bisa dibilang launching produk adalah salah satu contoh yang baik dalam memaksimalkan keuntungan transfer pricing. Mengapa bisa demikian? Mudah saja, yaitu karena dalam launching sebuah produk, besar kemungkinan masih belum ada produk serupa di pasaran yang bisa dijadikan pembanding.

Seperti yang sudah sempat dijelaskan sebelumnya, tanpa adanya pembanding, penentuan harga bisa dilakukan dengan jauh lebih fleksibel tanpa khawatir akan dianggap tidak wajar.

Ditambah lagi, umum terjadi pemberian potongan harga yang cukup besar dalam peluncuran suatu produk. Situasi ini terjadi karena dalam siklus hidup produk, launching produk adalah fase ketika produk tersebut diperkenalkan ke pasar. Jika dijual dengan harga jual yang asli tanpa adanya potongan harga istimewa, tentu produk tersebut akan sulit menembus pasar, kan? Itulah mengapa, penentuan harga jual yang rendah saat peluncuran produk jarang sekali dianggap sebagai sebuah ketidakwajaran.

Dari penjelasan yang telah diberikan di atas, tentu tidak sulit, kan, untuk memahami mengapa launching produk kerap dimanfaatkan untuk menjalankan metode penentuan harga dengan transfer pricing? Pertanyaannya, apakah praktik ini dapat digolongkan sebagai kecurangan?

Baca Juga: Memilih Strategi Pricing yang Tepat Untuk Bisnis

Apakah Transfer Pricing adalah Strategi yang Curang?

Jika kita simak penjabaran yang telah diberikan di atas dengan baik, tak sulit untuk mengambil kesimpulan bahwa transfer pricing adalah kebijakan yang bisa sangat menguntungkan pelaku usaha. Namun, untuk menggolongkannya sebagai sebuah praktik kecurangan kita tidak bisa terburu-buru.

Apabila dilakukan dengan tepat tanpa ada ketidakwajaran, tentu praktik ini tak bisa disebut sebagai praktik yang curang, kan, sekalipun mungkin memang bisa memberikan keuntungan yang luar biasa. Lain halnya jika transfer pricing dilakukan secara tidak wajar, misalnya saja dengan menjual suatu produk secara murah ke pihak tertentu, padahal harga produk tersebut di pasaran sudah memiliki standardisasi yang jelas.

Dalam situasi tersebut, menjalankan transfer pricing adalah sesuatu yang kurang dibenarkan. Selain karena akan merusak harga pasar yang sudah ditetapkan, praktik ini juga akan kentara sekali dilakukan sekadar untuk mencari keuntungan ataupun sebagai upaya untuk menghindari kewajiban pajak yang ada.


Eits, tenang! Sekalipun tanpa transfer pricing, pelaku usaha juga tetap bisa memaksimalkan keuntungan bisnisnya dengan cari lain, kok, misalnya dengan menggunakan aplikasi majoo yang memang sudah dirancang untuk mempermudah pengelolaan bisnis secara efektif dan efisien.

Jadi, tak perlu berlama-lama, langsung saja berlangganan setiap layanan menguntungkan dari aplikasi majoo, yuk!


Sumber Data: 

https://www.online-pajak.com/tentang-efiling/transfer-pricing 

Dapatkan Inspirasi Terbaru dari majoo

Subscribe untuk dapatkan berita, artikel, dan inspirasi bisnis di email kamu

Footer support

Pustaka majoo

Isi Form dibawah ini untuk download pustaka

format: 62xxxxxxxx
Batal
Icon close

Temukan Paket Paling Tepat untuk Bisnismu

Isi form berikut untuk membantu kami tentukan paket paling sesuai dengan jenis dan skala bisnismu.
solusi bisnis form

+62
whatsapp logo