Table of Content

    Intip Lanskap Pendanaan untuk Usaha Kecil Pasca Pandemi!

    Memperbarui rantai pasokan hingga cermat dalam hal pengeluaran dapat memperbesar kas atau modal bisnis.

    Selama pandemi, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk membantu usaha kecil agar tetap mampu bertahan, termasuk soal pendanaan atau keuangan. Pemerintah mengucurkan dana triliunan rupiah untuk pemulihan UMKM melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

    Akan tetapi, dukungan pemerintah untuk bisnis berakhir seiring dengan meredanya pandemi COVID-19. Karena itu, bisnis tentu perlu beradaptasi dalam hal mencari pembiayaan atau modal usaha.

    Baca juga: Pendanaan: Pengertian dan Jenis Pendanaan

    Meskipun begitu, di luar sana masih ada investor yang bersedia mendukung perkembangan bisnis. Namun, investor ingin melihat pemilik bisnis yang proaktif dalam mengakses dukungan dan pendanaan

    Jadi, pemilik bisnis tidak bisa hanya duduk manis dan menunggu investor datang memberikan suntikan modal. Kamu perlu memegang inisiatif dan memahami lanskap pembiayaan bagi usaha kecil pasca pandemi.

    Memperbesar Kas atau Modal Pasca Pandemi

    Seiring dengan meredanya pandemi COVID-19, bisnis perlu memastikan kondisinya masih sesuai dengan situasi dan kondisi terkini saat negara dibuka kembali dan berbagai pembatasan sosial berakhir.

    Hal ini tidak selalu berarti bisnis harus melakukan pivot dan menciptakan model bisnis yang benar-benar baru, tetapi lebih tentang memikirkan hal yang dapat kamu lakukan dengan lebih baik. 

    Sebagai contoh, pemilik usaha bisa lebih banyak memanfaatkan rantai pasokan lokal, memastikan utang dikelola dengan baik, dan mengontrol arus kas dengan tidak membayar hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan bisnis.

    Langkah-langkah penghematan biaya operasional seperti di atas dapat memperbesar kas atau modal bisnis.

    Pemilik bisnis juga sudah tidak dapat lagi mengandalkan cara lama dalam mengelola bisnis, seperti pembuatan proyeksi keuangan dan rencana bisnis untuk lima tahun. Pasca pandemi COVID-19, hal tersebut pasti sudah tidak relevan lagi bangi banyak bisnis.

    Tidak hanya itu, kamu juga perlu mengetahui keuangan bisnis secara rinci dan up to date. Kamu perlu mengetahui situasi terkini, bukan satu atau dua bulan lalu. Dengan begitu kamu bisa membuat keputusan yang tepat.

    Pemilik Bisnis yang Kreatif dan Inovatif Menjadi Sorotan

    Kini para investor sedang secara aktif mencari peluang baru lagi. Kebanyakan investor ini mencari pendiri atau pemilik bisnis yang memiliki kreativitas dan tekad untuk membawa bisnis mereka melewati pandemi. 

    Usaha kecil dengan pemilik yang mempunyai tekad kuat merupakan bisnis yang ingin didukung oleh para investor.

    Baca juga: Investor adalah: Pengertian, Tujuan, dan Jenis-Jenisnya

    Belum lagi, para angel investor kini sudah mengadopsi pendekatan yang lebih terpadu di seluruh wilayah. Pasalnya, bisnis sekarang sudah banyak melakukan transformasi digital dan dapat dikelola secara virtual. Aspek geografi pun menjadi kurang relevan lagi sebagai pertimbangan.

     Mengetahui lanskap pendanaan penting bagi pemilik usaha kecil agar bisnis tidak kehilangan peluang.

    Secara historis, investor telah mulai melirik bisnis lokal sebagai sasaran investasi sehingga mereka dapat lebih hands-on. Akan tetapi, persepsi ini berubah karena makin banyak bisnis yang sekarang sudah dilakukan secara online.

    Hal ini mendorong investasi dari luar masuk. Sebuah peluang yang harus ditanggapi oleh bisnis yang sedang mencari pendanaan.

    Saham Kian Populer

    Meskipun program bantuan pemerintah mulai berakhir, investasi ekuitas swasta justru tengah booming. Masyarakat Indonesia disebut-sebut tengah beralih dari saving society menjadi investing society.

    Jumlah single investor identity (SID) dan jumlah transaksi di pasar modal, terutama saham, makin meningkat.

    Tentu bisnis kecil belum bisa mengakses dana sebab kepemilikan bisnis ini belum diperjualbelikan dalam bentuk saham. Akan tetapi, semangat investasi ini berdampak baik bagi bisnis kecil.

    Pasalnya, para investor yang berinvestasi pada saham rata-rata mencari opsi investasi lainny, misalnya peer to peer lending (P2P). 

    P2P lending adalah layanan pinjam-meminjam uang secara langsung antara kreditur dan debitur berbasis teknologi informasi.  Nah, P2P lending umumnya dapat diakses oleh bisnis-bisnis kecil. 

    Baca juga: Mengenal P2P Lending: Kelebihan, Cara, dan Contohnya

    Bukan rahasia lagi, bisnis kecil sulit berkembang karena akses pendanaan yang terbatas. Pinjaman usaha memang tersedia di bank atau lembaga keuangan lainnya, tetapi banyak bisnis kesulitan menyediakan agunan yang disyaratkan.

    Kehadiran opsi seperti P2P lending tentu akan mempermudah bisnis dalam memperoleh pembiayaan atau suntikan modal. Akses terhadap modal usaha tersebut makin mudah bila kamu menggunakan aplikasi POS yang menyediakan fitur pembiayaan seperti majoo.

    majoo hadir membantu usaha kecil bukan hanya pada aspek mempermudah pengelolaan operasional, melainkan juga membuka akses pembiayaan usaha melalui majoo Capital. Mau tahu lebih rinci? Langsung klik tautan ini!

    Upcoming Event

    Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

    Lihat semua event

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Ingin Jualan di Media Sosial? Kamu Wajib Baca Ini!
    majoo punya beberapa tips nih, agar kamu bisa memaksimalkan penjualan melalui media sosial. Yuk, disimak!
    Memaksimalkan Bisnis secara Optimal dengan Integrasi GoFood
    Ada banyak cara untuk memaksimalkan bisnis, salah satunya dengan melakukan integrasi GoFood. Wah, maksudnya bagaimana, tuh?
    Bagaimana Digital Marketing Bisa Membantumu Perluas Pasar?
    Saat ini merupakan era menarik bagi digital marketing. Berkat pemasaran digital, bisnis lebih mudah berkomunikasi dengan konsumen dan memperluas pasar.
    Mengapa Pelaku Usaha Perlu Memahami Karakter Gen Z?
    Mengapa pelaku usaha perlu mempertimbangkan karakter Gen Z dalam menjalankan operasional bisnis? Apa, sih, yang akan terjadi jika tidak dilakukan?