Whatsapp
Chat 24 jam Hubungi Kami

Table of Content

    MVP adalah Minimum Viable Product. Apa Sih Fungsinya?

    Pengertian MVP dan Fungsinya Dalam Pengembangan Produk

    Startup atau perusahaan rintisan kian menjamur. Hal ini membangkitkan semangat jiwa wiraswasta anak muda untuk berlomba-lomba membangun startup baru.

    Istilah startup sendiri telah ada sejak akhir 90-an. Kemunculannya berkaitan dengan inovasi teknologi yang terjadi pada akhir 90-an hingga awal 2000-an. Saat itu terjadi fenomena yang bernama bubble dot-com akibat internet mulai banyak digunakan di berbagai belahan dunia. Tak ayal, perusahaan dot-com bermunculan secara massal.

    Fenomena startup juga hinggap di Indonesia sejak awal 2010. Sampai saat ini, menurut data StartupRanking, Indonesia memiliki lebih dari 2.193 startup dan menduduki posisi kelima terbanyak di dunia.

    Beberapa startup buatan anak bangsa bahkan telah menyandang level Unicorn, yaitu mendapatkan nilai valuasi sebesar US$1 Miliar. Mereka adalah GoTo, Bukalapak, J&T Express, Traveloka, OVO, Xendit, dan Ajaib.

    Baca juga: 33 Daftar Perusahaan Startup di Indonesia, Apa Saja?

    Bicara tentang startup, rata-rata mereka menawarkan hal yang sama, yaitu semangat kerja keras dan kreativitas tanpa batas. Mereka harus kreatif dan bekerja keras karena startup merupakan perusahaan yang baru dirintis dan baru beroperasi.

    Rata-rata, perusahaan startup sedang berada dalam fase pengembangan produk yang akan ditawarkan ke masyarakat. Mereka juga masih mencari pasar yang tepat.

    Saat baru berdiri, startup punya beban dan risiko besar, yaitu peluncuran produk. Produk yang mereka tawarkan belum tentu bisa diterima masyarakat meskipun telah diproduksi dengan biaya yang tinggi.

    Oleh karena itu, hendaknya startup membuat MVP atau minimum viable product terlebih dahulu. Apa itu minimum viable product dan apa saja fungsinya? Yuk, simak penjelasan majoo berikut ini!

    Pengertian MVP

    MVP atau Minimum Viable Product adalah produk yang dikembangkan dengan fitur-fitur dasar, namun mampu menarik perhatian pengguna atau masyarakat. MVP merupakan konsep dari manajemen produk yang sangat berguna saat perusahaan akan memperkenalkan produk baru ke pasar.

    Minimum Viable Product dibuat agar perusahaan tidak membuang banyak biaya karena fitur-fitur awal telah diterima dan berhasil memuaskan konsumen. Tujuan MVP adalah untuk memvalidasi ide bisnis, mempelajari pengalaman pengguna, dan mendapatkan umpan balik (feedback) terkait produk. Dengan demikian, perusahaan bisa mengembangkan produk agar menjadi lebih baik, tapi dengan cara yang efisien.

    Istilah MVP atau Minimum Viable Product muncul pertama dalam buku laris bertajuk “The Lean Startup” karya Eric Ries, seorang pebisnis dan tokoh startup. Istilah MVP yang dicetuskannya saat ini menjadi sebuah gerakan yang dilakukan secara global oleh berbagai perusahaan di seluruh dunia.

    Pada akhirnya, minimum viable product atau MVP adalah produk dengan serangkaian fitur dasar yang dianggap cukup unik dan berguna untuk menarik perhatian konsumen. Perusahaan tidak perlu membuat produk dengan fitur yang belum terlalu high-end, tetapi yang terpenting memiliki nilai guna yang tinggi. Hasil feedback, baik positif maupun negatif, dari pengguna akan digunakan perusahaan untuk menyempurnakan produk dan menghasilkan produk akhir.

    Tujuan MVP

    Masalah terbesar yang harus dihadapi oleh semua perusahaan startup saat meluncurkan produknya adalah penerimaan masyarakat yang tidak baik. Padahal, perusahaan sudah mengeluarkan sumber daya dan biaya yang cukup tinggi.

    Oleh karena itu, perusahaan startup membutuhkan MVP dalam produk. Tujuan MVP adalah sebagai berikut:

    1. Agar dapat segera meluncurkan produk

    Salah satu tujuan utama MVP adalah perusahaan startup bisa segera meluncurkan produk. Alasannya, karena ada momen-momen penting yang membuat produk harus diluncurkan pada saat itu.

    2. Untuk menguji produk pada pengguna

    Jika dalam pemasaran digital ada istilah A/B Testing, maka dalam pengembangan produk dikenal dengan minimum viable product. Tujuannya untuk menguji produk pada pengguna atau konsumen yang riil. Dari uji coba tersebut, perusahaan akan mendapat feedback yang benar-benar nyata dan relevan.

    3. Agar menghemat pengeluaran

    Meskipun mendapatkan pendanaan dari perusahaan ventura, namun perusahaan startup tetap harus melakukan penghematan. MVP adalah solusi yang tepat untuk menghemat pengeluaran. Perusahaan bisa membuat produk yang sederhana, namun benar-benar berguna dan bermanfaat bagi konsumen.

    4. Untuk meminimalisasi risiko kegagalan

    Dalam membuat minimum viable product, perusahaan bisa meminimalisasi risiko. Contohnya, tidak user friendly, kurang diterima konsumen, atau kerap mengalami error. Berbagai kekurangan yang didapatkan dari feedback pengguna dapat menjadi bahan untuk menyempurnakan produk di kemudian hari.

    Manfaat MVP

    MVP adalah rangkaian penting yang sangat bermanfaat dalam proses pengembangan produk (product development), khususnya bagi perusahaan rintisan atau startup. Secara garis besar, manfaat MVP adalah:

    • Untuk pengembangan fitur-fitur produk;
    • Untuk membantu perusahaan lebih memahami kebutuhan konsumen yang menjadi target pasar;
    • Untuk menguji manfaat produk secara langsung;
    • Untuk meminimalisasi risiko kerugian akibat meluncurkan produk yang tidak tepat;
    • Untuk menghemat biaya produksi;
    • Untuk mendapatkan umpan balik (feedback) dari konsumen yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas produk;
    • Untuk meminimalisasi pengeluaran perusahaan, baik dari segi waktu, sumber daya, hingga potensi kegagalan produk.

    Elemen MVP

    Dalam membuat minimum viable product, ada empat elemen utama yang harus diperhatikan, antara lain:

    • Fitur yang disediakan dalam MVP harus memiliki nilai guna bagi konsumen;
    • Desain MVP harus sesuai dengan standar yang berlaku;
    • Kualitas MVP harus memenuhi standarisasi melalui proses pengujian ketat;
    • MVP harus ramah terhadap pengguna.

    Baca juga: Produk Viral 2022 yang Laris Manis dan Jadi Inspirasi Bisnis

    Cara Membuat MVP

     Langkah-Langkah Membuat MVP

    MVP merupakan hal penting dalam bisnis. Kini, tiba saatnya kamu mengetahui cara membuatnya. Berikut langkah-langkah dalam membuat MVP:

    1. Melakukan Riset Pasar

    Apapun bisnis yang kamu jalankan, melakukan riset pasar wajib hukumnya! Tujuannya untuk mendapatkan masalah yang sedang dihadapi oleh konsumen yang menjadi target pasar. 

    2. Menentukan Value Proposition

    Value proposition merupakan alat bantu dalam memastikan produk atau layanan yang akan dikeluarkan telah menjawab kebutuhan konsumen. Kamu harus merumuskan detail produk yang target pasar butuhkan, mulai dari fitur, benefit, hingga pengalaman pelanggan.

    3. Memetakan Tahapan Pembelian

    Sebelum mengeluarkan MVP, petakan terlebih dahulu tahapan-tahapan yang akan dilalui oleh konsumen untuk menuju keputusan pembelian (sales funnel). Sebagai contoh, MVP kamu adalah sebuah website informasi jadwal transportasi umum. Sebelum dirilis, pahami dulu dari awal sampai akhir cara target pasar kamu akan menemukan situs sampai menggunakan website tersebut secara rutin.

    4. Meluncurkan MVP

    Kini tiba saatnya kamu meluncurkan MVP. Karena masih dalam tahap awal, MVP bukanlah sebuah produk yang sempurna.

    MVP adalah alat untuk mengumpulkan insight sedalam mungkin. Melihat respon konsumen dalam menggunakan produk tersebut menjadi hal terpenting.

    5. Melakukan Evaluasi

    Setelah MVP diluncurkan, secara berkala kamu harus melakukan evaluasi dengan sistem BML (Build-Measure-Learn). BML adalah siklus untuk membangun produk, mengukur indikator kepuasan pelanggan dan performa produk untuk dipelajari lebih lanjut. Hasil siklus BML kemudian dapat dianalisis sebagai bahan untuk strategi ke depannya.

    6. Mengubah Strategi

    Jika dari hasil evaluasi ternyata MVP kurang berhasil atau kurang memuaskan, maka segera melakukan mengubah strategi bisnis. Kebalikannya, jika MVP ternyata sukses, maka lakukan perbaikan pada sisi-sisi yang masih kurang, lalu luncurkan produk final yang sudah matang.

    Baca juga: Pivot adalah: Strategi, Tips, dan Waktu Pivot yang Tepat

    Contoh Minimum Viable Product

    Beberapa startup yang telah sukses memanfaatkan minimum viable product antara lain adalah Zappos dan Dropbox.

    Zappos adalah perusahaan retail sepatu dan pakaian online asal Amerika. Sebelum diakuisisi raksasa e-commerce Amazon sebesar $1,2 miliar pada Juli 2009, Zappos hanyalah toko sepatu online sederhana.

    Nick Swinmurn, pendiri Zappos menerapkan MVP dalam prosesnya. Awalnya, Zappos tidak punya produk sama sekali. Nick hanya mengunggah foto-foto sepatu yang akan dijual ke website. Saat ada konsumen yang memesan, Nick akan pergi ke toko sepatu konvensional dan membelinya. Kemudian, Nick sendiri yang mengirimkan sepatu itu ke pemesan.

    Contoh minimum viable product berikutnya adalah Dropbox. Layanan penyimpanan file berbasis cloud yang sangat populer ini awalnya diluncurkan tanpa ada produknya sama sekali. Pendirinya, Arash Ferdowsi dan Drew Houston hanya membagikan video sederhana yang menunjukkan cara kerja DropBox.

    Di luar dugaan, video tersebut sukses menarik minat 75.000 orang untuk mencoba DropBox. Setelah itu, duo lulusan Massachusetts Institute of Technology (MIT) mulai membangun produk mereka.

    Kesimpulan

    Itulah penjelasan dari majoo mengenai apa itu MVP. Kesimpulannya, MVP atau minimum viable product adalah produk dengan serangkaian fitur dasar yang dianggap cukup untuk menarik perhatian pengguna.

    Dengan membuat MVP, kamu bisa mengetahui feedback dari target pasarmu untuk menyempurnakan produk. Jika kamu adalah pemilik usaha rintisan atau startup, selain mendalami dunia pengembangan produk, kamu perlu paham tentang proses pencatatan keuangan pada bisnismu. Gunakan aplikasi kasir majoo untuk memberikan kemudahan dalam mengelola keuangan bisnis kamu. Dengan aplikasi majoo, siklus keuangan terus terkontrol dan kehidupan perusahaan akan terus tumbuh lebih baik. Coba dan buktikan kemudahannya sekarang juga!

    Upcoming Event

    Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

    Lihat semua event

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Quick Ratio adalah: Kelebihan dan Kekurangannya
    Quick ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas jangka pendek suatu perusahaan. Apa saja kelebihan dan kekurangan quick ratio?
    Newsletter adalah: Definisi, Manfaat, dan Tips Newsletter
    Newsletter adalah tools yang dapat menjembatani perusahaan dengan pelanggan untuk berbagi informasi penting dan menarik terkait perusahaan secara rutin.
    Benarkah Termin adalah Istilah untuk Cicilan atau Uang Muka?
    Termin adalah sistem pembayaran dengan jangka waktu berdasarkan kesepakatan, atau terkait syarat yang telah disepakati saat akad jual secara kredit.
    Payback Period Adalah: Dari Rumus Sampai Contohnya
    Sederhananya, pengertian payback period adalah jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi yang telah dikeluarkan.