Benarkah Paritas Daya Beli adalah Elemen Penting di Bisnis?!

Ditulis oleh Ajar Pamungkas

article thumbnail

Paritas daya beli adalah salah satu konsep ekonomi makro populer yang masih kerap digunakan.

Dalam mengelola bisnis, ada banyak sekali teori yang bisa diimplementasikan untuk meningkatkan keuntungan, paritas daya beli adalah salah satunya. Namun, tentu tak semua pemilik usaha memahami konsep yang satu ini dengan mendalam, kan?

Tak apa, tak perlu cemas. Jika kamu termasuk pemilik usaha yang mungkin belum mengenal teori yang satu ini sama sekali, di sini kita akan membahasnya secara rinci. Siapa tahu, nantinya pemahaman yang didapatkan bisa diterapkan untuk memperoleh keuntungan bisnis yang lebih besar, kan?

Jadi, tunggu apa lagi? Langsung kita mulai pembahasannya, yuk!

Paritas Daya Beli adalah …

Secara singkat, paritas daya beli atau purchasing power parity merupakan salah satu konsep dalam ekonomi makro yang menjelaskan adanya perbedaan daya beli yang dimiliki oleh suatu negara dengan negara lainnya.

Nah, kalau begitu, bukankah berarti konsep ini hanya memengaruhi pemilik usaha yang bergerak di bidang ekspor atau impor saja? Tidak demikian juga, lho, ternyata. Pasalnya paritas atau perbedaan daya beli ini termasuk dalam konsep ekonomi makro. Artinya ada banyak hal yang dipengaruhi oleh paritas ini.

Bagaimana tidak, hal pertama yang paling dipengaruhi oleh paritas ini adalah nilai mata uang suatu negara. Padahal, perbedaan nilai mata uang ini bisa berefek pada banyak hal; mulai dari daya beli masyarakat suatu negara, kemampuan negara tersebut untuk melakukan pembangunan, hingga luasnya lapangan pekerjaan yang bisa dibuka di suatu negara.

Jika sudah sampai ke sana, jelas yang akan terdampak tidak hanya pemilik usaha di bidang ekspor impor saja, kan? Seluruh pemilik usaha, apa pun bidang bisnis yang digelutinya, akan tetap terdampak oleh adanya paritas daya beli ini.Itulah mengapa penting bagi para pemilik usaha untuk setidaknya memahami dampak dari perbedaan daya beli tersebut.

Sudah mulai penasaran dengan purchasing power parity? Langsung saja kita telaah bersama-sama, yuk!

Baca juga: Mengenal Apa yang Dimaksud dengan Ekspor dan Eksportir?

Memahami Teori Paritas Daya Beli

Ada beberapa teori paritas daya beli yang bisa kita pelajari untuk lebih memahami apa dampak yang akan dirasakan ketika terjadi paritas, salah satunya adalah teori yang dikemukakan oleh Salvatore melalui bukunya yang ia keluarkan di tahun 1997 lalu.

Untuk membuktikan pendapatnya, Salvatore melakukan uji coba dan observasi dalam waktu yang cukup panjang, yaitu mulai dari tahun 1990 hingga tahun 1997. Tak hanya berhasil membuktikan asumsi dasarnya, Salvatore juga menemukan bahwa keberadaan paritas akan lebih jelas terlihat dalam jangka panjang dibandingkan dengan observasi jangka pendek.

Dari temuan tersebut, tak heran jika teori terkait paritas kemudian digolongkan ke dalam konsep ekonomi makro yang memang cenderung membutuhkan waktu yang lama agar dapat terjadi.

Salvatore berpendapat bahwa satuan mata uang di seluruh dunia seharusnya memiliki nilai yang sama. Akan tetapi, terjadi ketidakseimbangan antara nilai tukar mata uang domestik dengan komoditas luar negeri.

Situasi ini pun kemudian hanya akan menguntungkan beberapa pihak yang berhasil membeli komoditas dengan harga serendah mungkin, kemudian menjualnya dengan harga yang setinggi-tingginya.

Dengan kata lain, teori paritas daya beli mencoba mengupayakan adanya nilai yang setara antara untuk sekumpulan barang yang serupa sekalipun perdagangannya dilakukan di banyak tempat yang berbeda. Dengan demikian, tidak ada pihak yang akan dirugikan dari perbedaan nilai mata uang serta daya beli masyarakat.

Baca juga: Apa Itu Pajak Ekspor dan Objek Pajaknya? Pahami di Sini!

Menerapkan Analisis Paritas Daya Beli dalam Bisnis

Dari teori terkait paritas, muncul analisis paritas daya beli yang berusaha mengukur seberapa jauh besarnya selisih antara daya beli masyarakat di satu negara dengan negara lainnya.

Dalam bisnis, analisis ini menjadi penting karena berkaitan dengan besarnya margin keuntungan yang bisa dicatatkan oleh seorang pemilik usaha ketika ia berhasil menyuplai komoditas dari daerah dengan harga jual yang lebih rendah ke daerah lain yang memasang harga jual lebih tinggi.

Untuk perusahaan perbankan dan lembaga keuangan lainnya, analisis ini juga cukup penting untuk membantu menghitung besarnya suku bunga yang diterapkan di suatu negara, dibandingkan dengan negara lainnya.

Melalui analisis paritas daya beli, kita dapat mengetahui besarnya rasio tingkat harga di Indonesia dan Amerika Serikat, misalnya saja, sehingga kita pun dapat menentukan strategi terbaik dalam memberi insentif agar rasio tersebut dapat diperkecil.

 Paritas daya beli adalah konsep yang dapat digunakan untuk mengukur rasio nilai mata uang dua negara.

Mengapa Perlu Tahu Cara Menghitung Paritas Daya Beli?

Mengapa, sih, kita perlu tahu cara menghitung paritas daya beli? Jawabannya cukup sederhana, kok, yaitu karena dengan mengetahui besarnya perbedaan harga barang dan daya beli masyarakat, akan lebih mudah untuk menyusun strategi bisnis yang sesuai dengan situasi di setiap daerah.

Untuk mereka yang bergerak di bidang ekspor impor jelas manfaatnya akan lebih besar, karena dengan mengetahui besarnya paritas yang ada, pemilik usaha dapat memutuskan negara terbaik yang bisa disasar untuk kegiatan ekspor dan impornya.

Pun demikian, untuk pemilik usaha yang bergerak di luar bidang ekspor dan impor pun tetap ada manfaat yang bisa diperoleh, kok. Peluang usaha, contohnya saja, bisa dieksplorasi dengan menyediakan alternatif komoditas yang dijual dengan harga tinggi di suatu daerah.

Dengan demikian, kita pun dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan memenuhi kebutuhan masyarakat akan suatu komoditas yang mungkin tidak terjangkau secara ekonomi karena adanya paritas. Itulah mengapa tak ada salahnya untuk meluangkan waktu dan mempelajari cara menghitung paritas daya beli, terlebih bagi mereka yang memang berbisnis sebagai eksportir maupun importir.

Baca juga: Ekspor adalah: Pengertian, Manfaat, dan Tujuannya

Mempraktikkan Rumus Paritas Daya Beli

Ingin mencoba untuk mempraktikkan rumus paritas daya beli dan mencoba menghitung besarnya perbedaan daya beli masyarakat di beberapa negara? Tak perlu takut akan bingung atau pusing karena harus berhubungan dengan angka dan kegiatan hitung-menghitung, rumusnya cukup sederhana, kokI

Untuk mengetahui besarnya paritas antara kedua negara, kita cukup membagi harga beberapa barang dalam mata uang domestik dengan kumpulan barang serupa yang dijual dengan mata uang asing.

Hasil pembagian tersebut akan menunjukkan rasio yang menjadi nilai paritas. Karena umumnya mata uang rupiah lebih lemah jika dibandingkan dengan mata uang lain dari negara-negara maju, hasil penghitungan ini akan berkisar di angka nol koma, misalnya saja 0,35 atau 0,45.

Selanjutnya, setelah memperoleh rasio tersebut dari perhitungan rumus paritas daya beli, kita dapat melakukan analisis daya beli masyarakat. Namun, jika ingin mencari angka yang lebih akurat, kita juga dapat memasukkan tingkat inflasi antara kedua negara ke dalam rumus di atas.

Sama seperti sebelumnya, rumus yang digunakan sama sekali tidak rumit. Kita cukup membagi persen perubahan inflasi secara domestik dengan persen perubahan inflasi di negara yang menjadi pembanding.

Pada dasarnya, ada banyak sekali faktor yang dapat memengaruhi besarnya paritas. Tak hanya harga barang dan inflasi juga, tetapi juga dapat mencakup stabilitas politik suatu negara yang juga dipengaruhi oleh banyak faktor lainnya. Ini pula yang menjadi kelemahan paritas daya beli.

Apa Kelemahan Paritas Daya Beli?

Seperti yang sudah disinggung, harga barang tidak semata-mata ditentukan dari biaya produksi dan pengeluaran lainnya, tetapi juga faktor-faktor lain yang bisa berupa faktor eksternal seperti inflasi atau faktor internal seperti besarnya margin keuntungan yang ditarget oleh pemilik usaha.

Karena banyaknya faktor yang memengaruhi tersebut, konsep paritas ini menjadi kurang akurat dalam menentukan rasio yang sesungguhnya antara harga barang di suatu negara dengan negara lainnya. Bahkan, tak jarang ketidakakuratan paritas ini bahkan bisa ditemukan di tingkat daerah, bukan lagi negara.

Kelemahan paritas daya beli ini membuatnya tak bisa dijadikan andalan bagi pemilik usaha untuk menghitung besarnya keuntungan yang bisa didapatkan dari pasar luar negeri. Pun demikian, teori-teori yang telah dirumuskan terkait paritas setidaknya tetap membantu untuk membuat perkiraan kasar, kok.

Ini pula yang menyebabkan pergerakan nilai mata uang yang sangat demikian. Nilai mata uang di suatu negara bisa naik pesat atau justru terjun bebas karena banyaknya faktor yang memengaruhinya.

Tak ada salahnya untuk memahami teori yang satu ini. Bagaimanapun juga, paritas daya beli adalah salah satu konsep ekonomi makro yang populer dan masih kerap digunakan. Coba terapkan beberapa teori di dalamnya pada bisnis.

Jangan lupa juga untuk menggunakan aplikasi majoo dengan beragam fitur unggulannya yang mampu membuat pengelolaan operasional bisnis lebih mudah untuk dilakukan. Dengan aplikasi majoo, pemilik usaha tak perlu lagi menghitung performa bisnisnya secara manual karena seluruh transaksi akan dicatat secara tepat, akurat, dan otomatis oleh aplikasi majoo.

Yuk, gunakan aplikasi majoo sekarang juga!

Baca juga: Importir adalah: Pengertian, Contoh, Perbedaan

Referensi:

  • https://www.ocbcnisp.com/id/article/2023/01/19/paritas-daya-beli-adalah
  • https://cerdasco.com/paritas-daya-beli

Sumber Gambar:

  • Freepik.com

Dapatkan Inspirasi Terbaru dari majoo

Subscribe untuk dapatkan berita, artikel, dan inspirasi bisnis di email kamu

Footer support

Pustaka majoo

Isi Form dibawah ini untuk download pustaka

format: 62xxxxxxxx
Batal
Icon close

Temukan Paket Paling Tepat untuk Bisnismu

Isi form berikut untuk membantu kami tentukan paket paling sesuai dengan jenis dan skala bisnismu.
solusi bisnis form

+62
majoo logo circle

Silakan Isi data diri di bawah Ini untuk terhubung dengan majooCare

+62
whatsapp logo