Whatsapp
Chat 24 jam Hubungi Kami

Table of Content

    Benarkah Sunk Cost adalah Cost yang Tak Bisa Dihindari?

    Sunk cost adalah biaya yang sudah dikeluarkan dan tak dapat dikembalikan.

    Bagi para pemilik usaha, sunk cost adalah salah satu jenis pengeluaran yang selalu dijadikan momok mengerikan. Pasalnya, pengeluaran yang satu ini cenderung sulit untuk sulit dihindari tanpa menimbulkan pengeluaran-pengeluaran lain yang lebih besar.

    Terkadang, jika sampai muncul sunk cost, pemilik usaha hanya bisa pasrah mencatatkan pengeluaran tersebut dan harus berhati-hati dalam menanganinya. Apabila tidak ditangani dengan hati-hati, nilai sunk cost bisa jadi justru bertambah besar, alih-alih berhasil ditutup.

    Memangnya, apa, sih, yang dimaksud dengan sunk cost? Apa saja contohnya? Yuk, mari kita bahas bersama-sama agar jika suatu waktu kita berhadapan dengan pengeluaran yang satu ini, kita tidak salah mengambil keputusan yang justru akan menempatkan bisnis pada ancaman kerugian yang lebih besar!

    Baca juga: Memahami Rencana Anggaran Biaya, Termasuk Cara Membuatnya

    Memahami Pengertian Sunk Cost

    Secara sederhana, pengertian sunk cost adalah biaya yang telah dikeluarkan dan tidak dapat dipulihkan. Secara sifat, sunk cost berkebalikan dengan biaya prospektif atau biaya yang diperkirakan akan dikeluarkan di kemudian hari berdasarkan keputusan bisnis yang saat ini diambil.

    Diambil dari bahasa Inggris, sunk cost dapat diterjemahkan secara bebas sebagai biaya hangus. Dilihat dari namanya saja, sudah terbayang, kan, kalau biaya yang satu ini merupakan biaya yang sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, dan harus direlakan begitu saja.

    Karena sifatnya yang demikian, sunk cost sebaiknya tidak dijadikan dasar pertimbangan saat mengambil keputusan bisnis. Sayang, memang, tapi apa boleh buat? Karena pengeluaran ini sudah pasti hangus, pemilik usaha sebaiknya memang tidak mengambil tindakan lebih lanjut untuk menutup pengeluaran tersebut, karena ada kemungkinan biaya tambahan yang dikeluarkan untuk menutupnya akan ikut hangus.

    Jika kita lihat lagi pengertian sunk cost, cara terbaik yang bisa dilakukan apabila berhadapan dengan pengeluaran yang satu ini adalah menghentikan setiap kegiatan yang berhubungan dengan biaya tersebut, kemudian mencari potensi keuntungan dari pos lain. Ibarat rumah yang sudah hangus, bukankah lebih baik kita merobohkannya hingga rata dengan tanah sebelum membangun bangunan lain yang lebih kuat?

    Nah, agar tidak terjebak dengan sunk cost, bagaimana jika kita lihat terlebih dahulu contoh-contoh pengeluaran yang bisa digolongkan sebagai biaya hangus. Sehingga ketika kita nantinya berhadapan dengan pengeluaran yang dicontohkan, kita bisa lebih awas dalam mengambil keputusan bisnis untuk mengatasinya!

    Contoh Sunk Cost Perusahaan

    Ada beberapa contoh sunk cost perusahaan yang kerap terjadi dan berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar apabila tidak diwaspadai. Meski demikian, contoh-contoh yang akan diberikan di bawah ini hanya beberapa saja, ya, karena dalam pengelolaan perusahaan bisa jadi ada contoh-contoh pengeluaran lain yang bisa digolongkan sebagai sunk cost.

    Untuk mengenali pengeluaran yang dapat digolongkan sebagai sunk cost, kita harus melihat kembali sifat-sifatnya berdasarkan pengertian yang sudah dijabarkan sebelumnya. Secara singkat, sunk cost merupakan biaya yang sudah dikeluarkan, tidak dapat dikembalikan, dan tidak bisa ditutup dengan proyeksi pendapatan yang datang dari pengeluaran itu sendiri.

    Dengan memperhatikan sifat-sifat tersebut, kita bisa mencoba mengenali pengeluaran apa saja yang kira-kira bisa digolongkan sebagai sunk cost, misalnya sejumlah contoh yang akan dijelaskan di bawah ini:

    Baca juga: Pahami Perbedaan Biaya (Cost) dan Beban (Expense)

    • Pembelian Mesin Baru

    Secara umum, pembelian mesin baru yang akan digunakan dalam proses produksi dapat digolongkan sebagai biaya produksi. Bagaimanapun juga, toh biaya yang dikeluarkan untuk membeli mesin tersebut bisa ditutup dengan pendapatan yang masuk dari penjualan produk-produk yang dihasilkan, kan?

    Bahkan, beberapa pemilik usaha juga memasukkan porsi biaya yang dikeluarkan untuk membeli mesin ke dalam penghitungan harga pokok penjualan, sehingga pendapatan dari penjualan produk dapat digunakan untuk menutup biaya pembelian mesin. Akan tetapi, model ini sebenarnya tidak disarankan dan pada dasarnya jarang digunakan karena akan membuat harga jual produk lebih tinggi.

    Berdasarkan sifatnya tersebut, pembelian mesin baru pun digolongkan sebagai biaya hangus karena uang yang sudah dikeluarkan untuk melakukan pembelian tidak dapat lagi dihitung secara permanen dan dianggap hilang. Bahkan, dalam penganggaran biaya di periode berikutnya pun pembelian mesin umumnya tidak bisa dimasukkan kembali.

    Di antara berbagai contoh lainnya, pembelian mesin baru memang sedikit abu-abu karena selain digolongkan sebagai sunk cost, pengeluaran ini juga bisa dikategorikan sebagai biaya produksi. Namun, beda cerita apabila proses produksi yang menggunakan mesin tersebut kemudian dihentikan, otomatis pembelian mesin tersebut pun sepenuhnya masuk sebagai biaya hangus.

    Apabila situasi tersebut sampai terjadi, pemilik usaha harus sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Jika memang sudah tidak akan ada proses produksi yang menggunakan mesin tersebut, ada baiknya mesin segera dijual kembali. Alasannya sederhana saja, untuk mesin, ada biaya penyusutan yang akan membuat nilainya mengecil seiring waktu.

    Terlalu lama menyimpan mesin yang tidak digunakan hanya akan membuat nilainya terus menyusut tanpa ada keuntungan yang dihasilkan. Oleh karena itu, secepatnya menjual mesin yang sudah dibeli bisa menjadi solusi yang paling masuk akal untuk terhindar dari kerugian lebih lanjut.

     Salah satu contoh sunk cost adalah pembelian mesin baru untuk produksi.

    • Pelaksanaan Riset Pasar

    Walau terkadang-kadang dibutuhkan, pelaksanaan riset pasar bisa digolongkan sebagai contoh sunk cost perusahaan, lho! Bagaimana bisa? Yuk, mari kita ulik bersama-sama!

    Seperti yang kita tahu, dalam setiap kegiatan bisnis apa pun yang dilakukan, akan selalu ada biaya yang dikeluarkan, demikian pula saat kita melakukan riset pasar. Tergantung dari skala riset yang dilakukan, besarnya biaya yang harus dikeluarkan pun bisa berbeda-beda. Semakin besar skalanya, semakin mahal pula biayanya.

    Biaya yang dikeluarkan untuk melakukan riset pasar ini harus dimasukkan ke dalam kategori sunk cost, karena hasil dari riset pasar itu sendiri bisa jadi tidak mendukung proses bisnis yang direncanakan.

    Sebagai contoh, suatu perusahaan bermaksud untuk mengeluarkan produk baru yang diperkirakan akan booming di pasaran. Sebagai validasi dari proyeksi tersebut, riset pasar pun dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat ketertarikan masyarakat terhadap produk yang akan diluncurkan.

    Namun, setelah mengeluarkan biaya yang besar untuk melakukan riset pasar, ternyata diketahui bahwa produk baru tersebut tidak begitu disukai di pasaran. Nah, otomatis biaya riset pasar pun menjadi sunk cost karena uang yang dikeluarkan tersebut hangus tanpa ada pendapatan yang bisa diperoleh darinya.

    Agar perusahaan terhindar dari kerugian yang lebih besar, peluncuran produk pun sebaiknya ditangguhkan. Apabila produksi tetap dilanjutkan, bukan tidak mungkin bisnis akan rugi besar karena produk sudah dipastikan tidak akan laku di pasaran.

    • Penyelenggaraan Kegiatan Pemasaran

    Tak jauh berbeda dengan pelaksanaan riset pasar, penyelenggaraan kegiatan pemasaran juga kerap dicatatkan sebagai sunk cost karena kita tidak pernah tahu hasil dari kegiatan pemasaran yang akan dilakukan.

    Di beberapa situasi, kegiatan pemasaran memang dapat diukur hasilnya secara angka, misalnya terkait jangkauan kegiatan pemasaran, interaksi yang dibangung dengan audiens, dan juga brand awareness yang dibangun. Namun, perlu diingat juga kegiatan pemasaran tidak bisa menjamin adanya konversi audiens menjadi pelanggan.

    Dengan kata lain, sekalipun kegiatan pemasaran sudah dijalankan dengan seserius mungkin, belum tentu akan ada peningkatan angka penjualan. Oleh karena itu, biaya kegiatan pemasaran menjadi sunk cost yang begitu dikeluarkan sebaiknya tidak dipikirkan lebih lanjut.

    Lalu, apakah berarti kegiatan pemasaran merupakan pengeluaran yang sia-sia? Tidak juga, lho, karena sekalipun tidak ada jaminan konversi yang bisa diukur, kegiatan pemasaran tetap dapat membantu produk dikenal secara luas di pasaran yang dapat meningkatkan potensi orang untuk membeli produk tersebut.

    Baca juga: Contoh dan Cara Menghitung Biaya Peluang

    Seperti Apa Penerapan Sunk Cost pada Perusahaan?

    Dari contoh-contoh di atas, apakah sudah terbayang seperti apa penerapan sunk cost pada perusahaan? Jika belum, sebenarnya jawabannya cukup mudah, kok.

    Penerapan sunk cost dilakukan dengan hati-hati tanpa ada tindakan lebih lanjut yang dilakukan. Bisa dibilang pemilik usaha harus benar-benar pasrah saat menghadapi sunk cost dan tidak disarankan untuk bersikap reaktif.

    Dalam pelaporan keuangan, sunk cost akan dicatatkan pada periode terjadinya saja dan diperlakukan selayaknya pengeluaran lain, yaitu dengan mengurangi arus kas, tetapi tanpa ada proyeksi keuntungan yang dicatatkan. Pengeluaran yang digolongkan ke dalam sunk cost dianggap hilang tanpa bisa dikembalikan lagi.

    Penerapan sunk cost pada perusahaan dapat terjadi di berbagai kegiatan, mulai dari pemasaran, perekrutan, hingga riset dan pengembangan. Sesuai dengan sifat yang dimilikinya, sunk cost kerap kali tak dapat dihindari karena kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengannya memang dianggap perlu untuk dilakukan dalam operasional perusahaan.

    Bagaimana Cara Menghindari Sunk Cost?

    Pada dasarnya, tidak ada cara menghindari sunk cost itu sendiri, tetapi ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meminimalkan dampaknya, sehingga perusahaan pun bisa terhindar dari kerugian yang lebih besar.

    Mengapa sunk cost tidak dapat dihindari? Sederhana saja, karena sunk cost adalah pengeluaran yang sudah terjadi dan tak dapat dikembalikan lagi, dan terkadang memang dibutuhkan untuk memastikan operasional bisnis dapat berjalan.

    Pun demikian, saat menghadapi sunk cost, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar kerugian tidak membesar, misalnya saja dengan memperbaiki komunikasi dengan setiap pihak yang terlibat. Sebagai contoh, apabila dari tim riset dan pengembangan sudah dinyatakan bahwa hasil riset pasar atau riset produk tidak positif, divisi lain harus berkomunikasi dengan baik untuk secara sementara menghentikan proses produksi.

    Tanpa adanya komunikasi yang baik, sunk cost akan terabaikan dan kegiatan lain yang berhubungan dengannya pun akan tetap berlanjut sekalipun sudah dipastikan tidak akan ada keuntungan yang bisa diperoleh. Sebagai hasilnya, bisnis pun terus melakukan pengeluaran tanpa menerima pendapatan.

    Menumbuhkan sikap rela dan berani mengakui adanya sunk cost merupakan cara menghindari sunk cost agar tak menimbulkan kerugian yang lebih besar. Ingat selalu bahwa sunk cost adalah biaya yang tak mungkin dapat dikembalikan, sehingga fokus pemilik usaha sebaiknya dialihkan untuk hal lain yang lebih membutuhkan perhatian.

    Agar pengelolaan bisnis dapat dijalankan dengan mudah, efektif, serta efisien, manfaatkan aplikasi majoo dengan beragam fitur unggulannya yang dapat diandalkan. Bisnis pun dapat terus maju dan berkembang sekalipun harus menanggung beban sunk cost.

    Menarik sekali, kan? Yuk, gunakan aplikasi majoo sekarang juga!

    Baca juga: Biaya Produksi: Pengertian, Jenis, Rumus, dan Unsur

    Upcoming Event

    Ikuti event-event yang sangat bermanfaat buat kamu.

    Lihat semua event

    Download Majalah

    Cover majalah wirausaha Indonesia
    Lihat semua edisi

    Download Ebook

    Cover Ebook
    Lihat semua edisi

    Related Article

    Quick Ratio adalah: Kelebihan dan Kekurangannya
    Quick ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas jangka pendek suatu perusahaan. Apa saja kelebihan dan kekurangan quick ratio?
    Newsletter adalah: Definisi, Manfaat, dan Tips Newsletter
    Newsletter adalah tools yang dapat menjembatani perusahaan dengan pelanggan untuk berbagi informasi penting dan menarik terkait perusahaan secara rutin.
    Benarkah Termin adalah Istilah untuk Cicilan atau Uang Muka?
    Termin adalah sistem pembayaran dengan jangka waktu berdasarkan kesepakatan, atau terkait syarat yang telah disepakati saat akad jual secara kredit.
    Payback Period Adalah: Dari Rumus Sampai Contohnya
    Sederhananya, pengertian payback period adalah jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi yang telah dikeluarkan.